Nasehat Pertama “DIEN ITU NASEHAT”

Nasehat 1 - Dien Itu Nasehat

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.”
(QS. Al Hajj [22] : 40)

DIEN ITU NASEHAT

            Ad–Diinu An–Nashiihah (Agama itu adalah nasehat) Demikianlah pesan Rasulullah saw. kepada kita[1] dan inilah yang melatar belakangi tulisan kami dalam lembaran-lembaran berikut. Kami menulis ini bukan karena tidak ada pekerjaan, dan bukan pula karena ada yang mau membacanya. Kami menulis karena kami merasa ada nasehat yang harus kami sampaikan kepada ikhwah, para aktifvis, sebagai bentuk partisipasi kami dalam “perjalanan” yang diberkati ini. Perjalanan untuk menegakkan dien dan meninggikan panji-panji-Nya.

            Kami, sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, Abdullah bin Rawahah ra. “Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan, dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena dien ini. Dien yang Allah memuliakan kita dengannya.”[2]

            Oleh karena itu, lazim bagi kita untuk berpegang teguh kepada dien ini melebihi seorang muqatil (tenaga tempur) yang memegang erat senjatanya di tengah kecamuk pertempuran. Sebab muqatil, kapan pun ia mengendorkan pegangannya, sirnalah harapannya untuk mendapatkan kemenangan, bahkan sirna pulalah segala asanya untuk tetap hidup. Demikian pula halnya dengan ahluddiin (ahli ibadah), kapan pun mereka lengah didalam diennya—meski sesaat—semua citanya untuk menggapai kemenangan akan lenyap.

PERTOLONGAN ALLAH BAGI SIAPA YANG MENOLONG (AGAMA)-NYA

         Sesungguhnya Allah ta’ala hanya menolong orang-orang yang taat, ikhlas berpegang teguh, dan bertawakkal kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman : “Dan pastilah Allah akan menolong siapa saja yang mau menolong (agama)-Nya.”(QS. Al Hajj [22] : 40) Maka barang siapa tidak—menolong—Rabb-nya, Dia pun tidak akan menolongnya. Barangsiapa bermaksiat kepada-Nya, Dia akan meninggalkannya, membiarkannya bersama musuh-musuhnya.

            Umar Al Faruq r.a. pernah berkata, “Kala kita tidak mampu mengalahkan musuh dengan ketaatan kita niscaya mereka mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.” Ternyata Umar r.a. lebih mengkhawatirkan dosa-dosa pasukannya daripada kekuatan musuhnya. Inilah bukti kesempurnaan pemahaman dan kebrilianan akal beliau.

            Betapa kita disaat merasakan suasana ini, ingin senantiasa hadir di hati dan akal kita, tidak meninggalkan kita selama-lamanya.

        Betapa kita ingin mengerti dengan ilmu yakin – bahwa Allah telah menjamin kemenangan dien-Nya dan akan selalu menjaganya. Maka barangsiapa selalu bersama Islam ke mana pun ia berputar, hati dan anggota badannya senantiasa taat kepada Allah, pastilah Allah akan menolongnya. Barangsiapa menyimpang dari jalan yang lurus pertolongan pun akan menjauh darinya.

         Allah ta’ala Maha tau lagi Maha Bijaksana. Allah maha tahu, artinya tidak ada sesuatu pun dari urusan kita yang tersembunyi bagi-Nya. Dia Maha tahu akan batin dan niat kita seperti halnya Dia Maha tahu akan lahir dan amal kita. Dia Maha Bijaksana. Artinya Dia akan selalu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia tidak akan memberikan anugerah berupa penjagaan dan pertolongan kepada siapa yang tidak berhak mendapatkannya. Dan orang yang tidak berhak atas anugerah ini, sungguh tiada bagian untuknya selain keterpurukan. Na’udzu billah, kita memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan di hadapan-Nya.

EMPAT PERKARA YANG MEMBINASAKAN

         Nafsu terus memberontak, setan terus menggoda, dunia terus berhias, dan hawa sering sekali memenangkan pertempuran.

          Mereka semua telah hadir. Mereka ingin menghalangi antara seorang hamba dengan kemenangan dan kejayaannya di dunia dan di akhirat.

         Mereka berempat benar-benar musuh utama kita. Jika kita mampu menguasainya (nafsu, setan, dunia, dan hawa) niscaya akan lebih mudah bagi kita untuk menguasai musuh-musuh kita dari kalangan manusia.

          Sebaliknya, jika kita dikuasai oleh keempatnya, sungguh antara kita dan musuh-musuh kita tiada lagi bedanya, sama-sama bermaksiat kepada Allah. Sementera mereka masih memiliki sesuatu yang lain, kekuatan yang lebih daripada yang kita miliki dan jika sudah demikian, kita akan kalah menghadapi mereka.

          Kalimat-kalimat yang kami tulis disini merupakan nasehat untuk membantu di dalam usaha mengalahkan nafsu, setan, dunia, dan hawa.

         Wahai saudaraku, yang kami inginkan hanyalah menunjukkan yang baik untuk menutup satu celah yang kami lihat atau menambahkan yang kurang atau menunjukkan yang makruf.

        Peran kami adalah berkata-kata dan memberi nasehat. Celah tidak akan pernah tertutup, kekurangan tidak akan pernah hilang, dan yang makruf tidak akan pernah terwujud kecuali dengan amal. Disinilah peranmu wahai saudaraku, peran kita semua.

          Tentu saja, kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan tetapi ia untuk dipahami dan diamalkan.

            Dan katakanlah:

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. At-Taubah [9] : 105).

* * *

FOOT NOTE :

[1] Diriwayatkan oleh Muslim, Sahih Muslim bi Syarhin Nawawi 2/37, Abu Dawud 4944, an-Nasa’i 7/156 dan Ahmad dalam Musnad 4/102. Kesemuannya dari hadits Tamim ad-Darly r.a. Diriwayatkan juga dari sahabat Abu Hurairah r.a. oleh at-Tirmidzi 1926, an-Nasa’i 7/157, Ahmad 2/297 dan diriwayatkan oleh sahih syeikh Ahmad Syakir. Ada juga hadits dengan topik yang sama yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas dan Tsauban r.a. al-Bukhari di dalam sahihnya , kitabul iman 1/137 (Fatul Bari) mencantumkan sebagai hadits mu’allaq (tanpa sanad). Ibnu Hajar menukil dari al-Bukhari dari kitab at-Tarikh katanya, “Tidak ada riwayat yang sahih selain dari Tamim.”

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq sebagaimana disebut oleh Ibnu Hisyam di dalam as-Siratun Nabawiyyah 2/375 terbitan Mushtafa al-Halbiy tahun 1375H.

* * *

        Artikel ini diambil dari buku “Penawar Lelah Pengemban Dakwah” yang disusun dari ceramah-ceramah Dr. Abdullah Azzam.

    Yang mendasari saya mengetik ulang buku ini adalah dikarenakan buku ini (bi-idznillah) pernah menghalangi saya dari ‘futur’nya diri saya dari jalan Islam yang mulia. Ketika tinggal sejengkal saja saya beranjak, maka saya akan terlempar keluar dari gerbong kereta yang mulia kemudian saya terjatuh sedang kereta sudah pergi jauh dari pandangan saya sementara hati saya pun enggan lagi berat untuk kembali melintasi rel kereta Islam yang mulia itu.

     Tapi Walhamdulillah (dan segala puji hanya milik Allah) hal itu tidak terjadi, Allah memilihkan pilihan lain yang menyelisihi keinginan hati. Allah mempertemukan saya dengan seorang ikhwah yang lebih lebih lama beriltidzam dari saya, yang kala itu menceritakan tentang Nasehat-nasehat Rasulullah s.a.w. dari ceramah-ceramah Dr. Abdullah Azzam yang pernah ia baca. alhasil hal tersebut sempat membuat niatan ‘futur’ saya pudar, hingga akhirnya saya meminjam buku tersebut yang berjudul “Nasehat-nasehat Rasulullah s.a.w. – Penawar Lelah Pengemban Dakwah”.

     Buku ini pula yang telah menumbuhkan rasa cinta membaca pada diri saya (bi-idznillah). Saya buka lembar per lembar dari buku tersebut sampai pada Bab “Nasehat Ke Empat – Serahkan Perniagaan Kepada Yang Berhak” saya membacanya, hingga basah buku tersebut dan saya letakkan ia di atas meja belajar saya karena tak kuasanya saya menahan sebuah nasehat yang mulia pada kalimat:

“Apa yang Allah pilihkan bagi hamba-Nya yang beriman adalah pilihan yang terbaik, meski tampaknya sulit, berat, atau memerlukan pengorbanan harta, kedudukan, jabatan, keluarga, anak, atau bahkan lenyapnya dunia seisinya.”

        Ini adalah tamparan keras bagi qalbu saya yang bahkan tumbuh benih keimanan pun hampir-hampir belum tumbuh. Hinanya niatan ingin meninggalkan jalan yang mulia ini. Sempitnya kemudian dunia rasanya tatkala setan menguasai qalbu. Sontak hati, telinga dan fikiran saya terngiang-ngiang kalimat ini. Kemudian saya lanjutkan kembali bacaan saya.

     Inilah yang mendasari saya ‘merasa perlu’ untuk menyampaikan nasehat-nasehat yang mulia ini, bahkan jika dibaca berulang pun dampak yang dirasakan masih sama! Indah terasa manis di dalam dada.

     Akhirnya karena buku ini susah saya dapatkan kala itu, sehingga saya memutuskan untuk mengetik ulang buku tersebut dari bab 1 hingga bab akhirnya.

       Karena menurut saya buku ini adalah nasehat yang sangat mulia yang diucapkan oleh seseorang yang tengah berdawkah di medan jihad dengan hati yang ikhlas karena mengharap ridha dari Rabbnya, seperti seorang yang memanah dengan fokus, tarikan yang kuat sehingga busur panah terhunus kencang dan mengenai targetnya!

      Singkat kata, saya berharap kepada Allah s.w.t. semoga senantiasa memberikan kita kelapangan hati untuk menerima nasehat dan ilmu serta difaqihkan-Nya kita dalam memahami dien-Nya. Allahumma Aamiin.

@jordibudiyono

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s