Nasehat Ke Tiga “TEGAR DALAM MENGHADAPI UJIAN”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam 3

“Dan tidaklah Allah berbuat dzalim kepada meraka,
akan tetapi merekalah yang berbuat dzalim (kepada Allah).”
(Qs. An-Nahl [16] : 33)

TEGAR DALAM MENGHADAPI UJIAN

          Mungkin akan ada yang bertanya, “Saya adalah seorang yang baru saja serius dalam berIslam. Saya takut saya tidak bisa tegar dalam menghadapi berbagai cobaan, atau tidak sabar dalam menghadapinya.

          Untuknya saya katakan, Nabi Saw bersabda :
“Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar niscaya Allah akan menjadikannya sabar.”[1]
Juga “Barangsiapa berusaha untuk selalu mengerjakan kebaikan niscaya Dia akan memberinya, dan barangsiapa menjaga diri dari keburukan niscaya Dia akan menjaganya.”

          Oleh karena itu, siapa saja yang mengusahakan faktor–faktor kesabaran, niscaya Allah akan merizkikan sabar kepadanya. Dan barangsiapa mengusahakan faktor-faktor wahn, gelisah, dan kehinaan, niscaya dia akan tertimpa sesuatu yang faktor-faktornya telah diusahakannya.

“Dan tidaklah Allah berbuat dzalim kepada meraka, akan tetapi merekalah yang berbuat dzalim (kepada Allah)”(Qs. An-Nahl [16] :33)

          Untuk itu wahai saudaraku, berusahalah untuk bersabar. Sabarkanlah diri anda untuk masa tertentu, niscaya anda akan mendapati diri anda dalam keadaan sabar setelahnya. Bahkan bisa jadi telah menjadi pribadi yang ridha, insya Allah.

          Salah seorang salaf berkata, “Aku giring diriku kepada Allah dalam keadaan menangis. Aku terus menggiringnya sampai ia kembali kepadaku dalam keadaan tertawa.”

          Adapun jika hal-hal melelahkan anda semakin menghebat, ujian semakin bertambah, musibah semakin dasyat, dan nafsu ammarah bis suu’ (nafsu yang mengajak kepada kejelekan) berbisik supaya anda cendrung kepada dunia meski sesaat anda dapati nafsu ammarah bis suu’ itu menyesatkan diri anda. Maka berusahalah terus untuk membinannya sampai ia benar-benar tunduk kepada anda, menyerahkan semua urusannya kepada anda, dan menjawab seruan dari Allah dalam keadaan ridha setelah sebelumnya ia membencinya.

          Jika anda mulai menginginkan dunia katakan kepada diri anda sendiri, “Wahai diri, sungguh kamu telah menghabiskan separuh lebih dari perjalananmu menunju Allah, sisanya hanyalah tinggal sedikit saja. Karenanya, bersabarlah di atasnya. Wahai diri, janganlah kamu sia-siakan amal shalih yang telah kau kerjakan, juga bengunmu di waktu malam dan siang, juga kelelahanmu selama bertahun-tahun di jalan Allah dan masa yang hanya sebentar ini. Hanya saja kesabaran ini tidak akan lama, bersabarlah. Sesungguhnya kedudukan cobaan seperti tamu, ia pasti akan segera berlalu. Nikmati sekali memujinya di ruang perjamuan dihadapan tuan rumah. Wahai kaki-kaki penopang kesabaran, bersabarlah dan teruslah  bergerak. Sungguh tiada yang tersisa kecuali sedikit saja.”

          Terhadap nafsunya, seorang aktifis mestinya melakukan hal yang dilakukan oleh Bisyr Al-Hafiy bersama salah seorang muridnya turut serta dalam prjalanannya. Ia minta kepada Bisyr, “Mari kita minum air sumur itu!” Bisyr menjawab, “Bersabarlah, sampai kita bertemu dengan sumur yang lain.” Lalu ketika keduanya sampai sumur berikutnya, Bisyr berkata lagi, “Sampai sumur berikutnya.” Begitulah, Bisyr  terus mengatakan untuk bersabar sampai sumur berikutnya dan akhirnya ia katakan, “Demikian dunia itu akhirnya akan terhenti.”[2]

          Ibnu al-Jauzi berkata, “Inilah fajar pahala mulai menjelang malam cobaan mulai menghilang sang pejalan disambut dengan pujian, hampir menuntaskan gulitanya malam. Matahari pahala tiada sedikit pun menghadirkan bayang-bayang hingga sang pejalan telah sampai ke rumah keselamatan.”[3]

          Ada satu ungkapan dari Imam Ahmad yang sangat membuat saya terkagum-kagum. Untuk ungkapan pendek yang membutuhkan tadabbur dan tafakkur yang panjang. Berulang-ulang beliau katakan, “Hanya saja itu adalah makanan yang bukan makanan, minuman yang bukan minuman. Hanya saja itu adalah hari-hari yang sedikit.”

          Lalu bersama nafsunya seorang aktifis harus merenung sejenak, dan berbicara kepadanya, Tidakkah kau lihat, ahli dunia itu ditimpa musibah dan cobaan berlipat-lipat dari pada musibah yang menimpamu. Padahal mereka tidak mendapatkan pahala untuk itu dan tidak pula diberi rizki oleh Allah yang berupa kesabaran. Di kala tertimpa musibah, kebanyakan mereka berada dalam kesempitan, kesusahan, kegelisahan, kegundahan, dan bahkan menjadi gila karena musibah itu.

          Pernahkah kau dengar ada sebuah mobil berisi satu keluarga lengkap yang tenggelam dan semua yang ada di dalamnya meninggal dunia? Bandingkan musibah yang menimpamu dengan musibah mereka! Sesungguhnya puncak musibah yang menimpamu adalah kamu dibunuh oleh musuh-musuhmu dan itu bukan musibah! Bukan! Itu adalah kemuliaan bagimu, dan bahkan itulah kehidupan yang paling berharga, paling mahal. Sesudah itu kamu tiada lagi merasakan derita ataupun luka. Ya sebutir atau beberapa butir peluru yang menembus jasadmu dan tiada rasa bagimu melainkan serasa dicubit, seperti dikatakan oleh Rasulullah saw.[4]

          Kemudian bertanya kepada nafsu, Apalagi yang bisa dilakukan oleh musuhmu kepadamu? Memenjarakanmu sebulan? Dua bulan? Setahun? Bertahun-tahun? Atau bahkan seumur hidupmu? Sungguh adalah menjadi kemuliaan bagimu dengan dapat menghabiskan umurmu di jalan Allah. Adalah menjadi suatu kemuliaan bagimu dengan mengikuti jejak Yusuf as. yang di penjarakan beberapa tahun!

          Katakan juga kepada ammarah bis suu’ yang ada padamu, Wahai nafsu! Tidakkah kaulihat ribuan orang menjadi penghuni hotel Prodeo karena bermaksiat kepada Allah?! Cukuplah menjadi suatu kemuliaan bagimu bahwa kamu ditimpa ujian karena keta’atanmu kepada Allah ‘azza wa jalla. Ada di antara mereka yang divonis hukuman mati karena memenuhi syahwat sesaat, memperkosa seorang gadis. Ada juga yang di penjarakan seumur hidup karena memenuhi seruan setan, terperosok dalam dunia narkoba. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Lalu pikirkan juga tentang ribuan pecinta…. dan orang-orang kafir yang ditimpa berupa cacat tetap…. atau buta. Mereka semua jauh lebih menderita dibandingkan dengan yang menimpa dirimu. Belum lagi jika beberapa bulan atau tahun ini justru menjadi sebuah sebeb dari keberhasilanmu mencapai imamah fiddien (kepemimpinan dalam agama), menggapai ma’rifatullah dan perintahnya serta sampainya kamu ke derajat ‘abidin (ahli ibadah), zahidin (orang-orang yang zuhud), dan khasyi’in (orang-orang yang khusyu’). Beberapa banyak mereka yang baru merasakan hakekat bangun malam di kala kondisi benar-benar berat. Berapa banyak mereka yang baru memahami dan mengerti maksud dari ayat-ayat tertentu dan kedalaman hikmah yang ada di dalamnya pada kondisi yang berat pula, disamping dapat menghafal dan mengkaji tafsirnya. Semuanya masih ditambah dengan pencapaian terhadap satu derajat ilmiah yang tidak dapat dipelajari dari buku-buku dan literatur yang ada serta pemahaman terhadap makna-makna yang rasa manisnya tiada pernah dapat dikecap meski teks-teksnya dibaca, dikaji, ataupun dihafal.

          Itu seperti makna tawakkal, inabah (kembali kepada Allah), khassyah (takut), taubat, yaqin, dan ridha. Semoga Allah senantiasa merahamati Syaikhul Islam di dadaku, kemanapun aku pergi ia selalu bersamaku, tidak meninggalkanku. Jika aku di penjara bagiku itu adalah khalwah (menyendiri). Jika aku dibunuh, bagiku itu adalah syuhada (mati syahid). Dan jika aku diusir dari negeriku, bagiku itu adalah siyayah (perjalanan).[5]

          Hendaknya seorang aktivis mengucapkan perkataan Ibnu Jauzi yang mengadu kepada Rabbnya, Betapa beruntungnya diriku atas apa yang direnggut dariku, ketika buahnya adalah aku bersimpuh di hadapan-Mu. Betapa lapangnya penawananku kala buahnya adalah aku berkhalwah dengan-Mu. Betapa kayanya diriku ketika aku faqir kepada-Mu. Betapa lembutnya diriku kala engkau jadikan ciptaan-Mu berlaku zhalim kepadaku. Ah… sia-sialah masa yang hilang bukan dalam rangka berkhidmah kepada-Mu, begitupun waktu yang berlalu bukan dalam keta’atan kepada-Mu. Kala aku bangun menjelang fajar, tidurku sepanjang malam tidak menyiksa diriku. Kala siang beranjak lepas, hilangnya seluruh hati itu tidak lagi melukaiku. Aku tidak tahu bahwa diriku yang mati rasa ini dikarenakan sakit yang dahsyat. Kini, hembusan angin kesejahteraan telah bertiup, aku telah merasakan derita, dan aku tahu diriku kini sehat. Wahai Dzat yang Maha Agung Anugerahnya, sempurnakanlah kesejahteraan bagi diriku. [6]

* * *

[1]   Diriwayatkan oleh al-Bukhari 3/335, Muslim 7/144, Abu Dawud 1644, at-Tirmidzi 2024, an-Nasa’iy 5/96, Imam Ahmad 3/12,93, Malik dalam Muwatha ‘1945, ad-Darimi 1635, dan al-Baihaqi dalam sunan al-Kubra 4/195, kesemuanya dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. adapun lafazh al-Bulkhari adalah sebagai berikut, “beberapa orang sahabat Anshar meminta kepada Rasulullah saw. lali beliau memberinya, lalu sahabat meminta lagi, dan beliaupun memberinya, sampai akhirnya habis sudah apa yang beliau miliki. Kemudian beliau berdo’a, ‘Apa pun kebaikan yang ada padaku, sekali-kali aku tidak akan menyimpan dari kalian. Barangsiapa yang menjaga dirinya niscaya Allah akan mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar niscaya Allah akan membuatnya sabar. Dan tidak ada sesuatu yang diberikan kepada seseorang itu lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran,’” Dalam  riwayat Muslim, “Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar niscaya Allah akan menyabarkannya.”

[2]  Shaidul Khathir, Ibnu al-Jauziy hal. 107, tebitan Darul Fikr, Damaskus.

[3]  Shaidul Khathir hal. 87.

[4]  Adalah hadits riwayat at-Tirmidzi 1668, an Nasa’iy 60/36, ibnu Majah 2808, Imam Ahmad 2/297, dan ad-Darimi 2413 dari hadits Abu Hurairah r.a. terjemahannya sebagai berikut, “Seorang yang syahid itu tidak merasakan sentuhan kematian selain seperti seseorang dari kalian yang merasakan sentuhan cubitan.” (lafazh hadits riwayat Tirmidzi)

[5]  Al-Wabilush Shayyib, Ibnu Qayim hal. 5 terbitan Ri’asah Idaratul Buhuts al-Ilmiyyah wal ifta.

[6]  Shaidul Khathir, Ibnu al-Jauziy hal. 93.

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s