Nasehat Ke Empat “SERAHKAN PERNIAGAAN KEPADA YANG BERHAK”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam4

“Apa yang Allah pilihkan bagi hamba-Nya yang beriman adalah pilihan yang terbaik, meski tampaknya sulit, berat, atau memerlukan pengorbanan harta, kedudukan, jabatan, keluarga, anak, atau bahkan lenyapnya dunia seisinya.”

SERAHKAN PERNIAGAAN KEPADA YANG BERHAK!

          Anda telah menjual diri anda kepada Allah ‘azza wa jalla. Di hadapan anda tidak ada pilihan lain selain menyerahkan apa  yang telah anda jual kepada yang membelinya.

          “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At-Taubah [9] : 111)

          Apabila pembeli telah menerima barang yang dijual maka dia berhak berbuat sesukanya dan menempatkan sesukanya. Jika dia ingin, dia bisa meletakkannya di istana, bisa juga dia meletakkannya di penjara. Jika dia ingin, dia bisa memakaikan baju terindah kepadanya, bisa juga dia menjadikan telanjang kecuali kain yang menutupi auratnya. Jika dia ingin, dia bisa menjadikannya kaya, bisa juga dia menjadikan fakir papa. Jika dia ingin dia bisa memanjangkan umurnya, bisa juga dia menggantungkannya pada tiang gantungan, atau dikuasakan atasnya musuhnya lalu musuh itu membunuhnya, atau mencincangnya.

          Apakah baik jika seseorang yang telah menjual seekor kambing lalu ia marah kepada orang yang telah membelinya, di saat orang itu telah menyembelihnya. Pantaskah jika hatinya gundah karenanya?!

          Belum pernahkah anda mendengar tentang singa Allah dan singa Rasul-Nya, Hamzah bin Abdul Muthallib r.a.? Perutnya telah dirobek, hatinya telah dikeluarkan. Dan ia pun dicincang.[1] Demikian pula halnya dengan para sahabat Nabi saw. yang menjadi syuhada dalam perang Uhud. Perut mereka dirobek, hidung, telinga mereka diiris, bahkan Hindun binti ‘Utbah dan wanita-wanita Quraisy yang hadir bersamanya menjadikan hidung dan telinga para sahabat sebagai kalung dan gelang bagi mereka. Hindun binti ‘Utbah telah menyerahkan gelang kaki, kalung, dan perhiasannya kepada Wahsyi, sang pembunuh Hamzah sebagai balasan atas apa yang telah dilakukannya.[2]

          Atau bahkan, belum pernahkah anda dengar Rasulullah saw. saat perang Uhud? Pipi dan wajah beliau yang mulia telah terluka. Sebiji gigi depan beliau pecah.[3] Dan beliau saw. hidup dari satu cobaan dan cobaan yang lainnya. Benarlah perkataan Ibnu al-Jauzi, “Bukankah Rasulullah saw. pun belum pernah mengucapkan, ‘Siapa yang mau melindungi ku? Siapa yang mau menolongku? Bukankah beliau perlu untuk memasuki Kota Mekkah ditemani seorang kafir? Bukankah beliau menyarungkan senjata dan menyimpannya di balik punggung, bukankah sahabat-sahabat beliau banyak terbunuh? Bukankah beliau dilecehkan oleh orang-orang yang baru masuk Islam? Bukankah beliau pernah mengalami kelaparan, dan beliau tetap teguh, tidak bergeming? Lalu beliau pernah merasakan beratnya kelaparan, samapai-sampai beliau mengambil batu dan mengikatkannya di perut? Padahal Allah adalah pemilik pintu-pintu langit dan bumi? Bukankah sahabat-sahabat beliau terbunuh, wajah beliau terluka, gigi depan beliau pecah, paman beliau dicincang, dan beliau tetap diam? Lalu beliau diberi rizki anak laki-laki, namun tak berselang lama anak kesayangannya itu direnggut dari beliau? Lalu terhibur dengan Hasan dan Husen, tetapi segera diberitahu tentang apa yang akan menimpa keduannya. Beliau sangat menyayangi Aisyah r.a. lalu diguncanglah kehidupannya dengan kabar tuduhan zina. Beliau berusaha menimpakan mukjizat, namun dihadang oleh Musailamah, al-Insiy, dan Ibnu Shayyad. Datang kepada beliau Jibril yang terpercaya, namun kaumnya mengatakan, tukang sihir yang pendusta. Lalu dijadikan beliau merasa sakit seperti dirasakan oleh dua orang, dan beliau tetap diam, sabar dan tenang. Jika dikabarkan tentang keduannya, beliau pun mengajarkan kesabaran. Lalu kematian datang ruh beliau yang mulai terangkat, sementara jasad terbujur di atas kain usang dan sarung yang kasar keluarga beliau tidak memiliki minyak untuk menyalakan lampu walau satu malam saja.”[4]

          Saudaraku, cobalah untuk merenungkan kehidupan para Nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia-manusia pilihan. Merekalah yang paling mulia di sisi Pencipta dan yang paling dicintai-Nya. Meski begitu Ibrahim telah dilempar ke dalam api, Zakaria telah digergaji, Yahya telah disembelih, Ayyub berada dalam ujian bertahun-tahun yang membinasakan harta dan anak-anaknya, Yunus terpenjara dalam perut ikan paus, Yusuf diremehkan dan dijual dengan harga yang murah, lalu menetap di penjara beberapa tahun. Semua itu, mereka ridha kepada-Nya, pelindung mereka yang sebenarnya!

          Sebagian salaf ada yang berkata, “Dibelah tubuhku lebih aku sukai daripada aku katakan yang telah ditetapkan oleh Allah, ‘seandainya itu tidak terjadi.'”

          Ada juga yang mengatakan, “Aku telah melakukan perbuatan dosa, aku tangisi dosa sejak 30 tahun yang lalu.” Ia adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Seseorang bertanya, “Apakah dosa itu?” Ia menjawab, “Sekali aku mengucapkan untuk sesuatu yang telah terjadi, seandainya itu tidak terjadi.”

          Wahai saudaraku, jadilah anda menjadi bagian dari mereka, mereka yang aktifitas mereka tidak bertentangan dengan apa yang telah Allah lakukan, mereka yang pilihannya tidak berseberangan dengan pilihan Allah. Mereka tidak pernah mengucapkan, “Seandainya ini begini pasti begini” atau “Semoga saja” meski hanya sekali!

          Apa yang Allah pilihkan bagi hamba-Nya yang beriman adalah pilihan yang terbaik, meski tampaknya sulit, berat atau memerlukan pengorbanan harta, kedudukan, jabatan, keluarga, anak-anak, atau bahkan lenyapnya dunia seisinya. Cobalah mengingat kembali perang Badar. Pikirkan baik-baik! Sebenarnya sebagain sahabat pada waktu itu lebih menyukai mendapatkan harta perniagaan[5], namun Allah memilihkan bagi mereka pilihan yang jauh lebih baik dan lebih utama daripada pilihan mereka, Allah pilihkan bagi mereka pertempuran!

          Perbedaan antara harta perniagaan dan pertempuran ini bagaikan perbedaan antara bumi dan langit. Apakah nilai harta perniagaan?! Makanan yang dikunyah lalu masuk ke jamban?! Pakaian yang akhirnya compang-camping dan dibuang?! Serta dunia yang hanya sesaat?! Sedangkan pertempuran, bersamanya ada furqan (Pembeda) yang dengannya Allah membedakan kebenaran dan kebatilan. Bersamanya ada kehancuran syirik dan keruntuhannya, serta tingginya tauhid dan kejayaannya. Bersamanya ada penumpasan tokoh-tokoh musyrik yang sebelumnya senantiasa menempatkan batu sandungan di jalan Islam, dien yang lahir di jazirah Arab.

          Cukup pula kiranya bersamanya, “Sesungguhnya Allah telah mencermati tentang para veteran perang Badar, lalu berfirman, ‘Kerjakanlah yang kalian mau karena sungguh aku telah mengampaui kalian.'”[6]

          Maha benar Allah ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir,” (Qs. Al-Anfal [8] : 7)

          Sebelum pembicaraan tentang poin ini saya akhiri, saya ingin memaparkan makna kalimat yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, dengan sedikit perubahan, Sesungguhnya jika Allah menahanmu dari mendapatkan sesuatu, itu bukanlah karena Dia bakhil, khawatir kehilangan perbehandaraan-Nya, atau menyembunyikan hakmu. Akan tetapi itu adalah karena Dia ingin kamu kembali kepada-Nya, menjadikanmu kaya dengan fakir kepada-Nya, memaksamu untuk bersimpuh di hadapan-Nya, menjadikanmu dapat merasakan manisnya ketundukan dan kefakiran kepada-Nya setelah merasakan pahitnya terhalang dari sesuatu. Supaya kamu memakai perhiasan ‘ubudiyyah (ibadah) dan menempatkan mu di kedudukan yang tinggi setelah kedudukan mu dicopot, supaya kamu dapat menyaksikan hikmah-Nya dalam qudrah (Ketetapan)-Nya, rahmat-Nya, dalam keperkasaan-Nya, kebaikan dan kelembutan-Nya, dalam paksaan-Nya, dan bahwa sebenarnya tidak memberinya pemberian, pencopotan dari-Nya adalah penguasaan, hukuman dari-Nya adalah pengajaran, ujian dari-Nya adalah pemberian dan kecintaan, dikuasakannya musuh-musuhmu atasmu adalah yang akan menggiringmu kepada-Nya.

          Siapa saja yang tidak memahami ini semua dengan hati dan akalnya serta beramal dengannya, sungguh ia memang tidak dapat menerima pemberian dan tidak membawa bejana. Orang yang datang tanpa membawa wadah, akan pulang dengan tangan hampa. Dan jika demikian, janganlah ia mencela selain mencela dirinya sendiri.

* * *

[1] Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya, “…Lihatlah, Hamzah telah dirobek perutnya lalu Hidnun mengambil hatinya, dikunyah-kunyahnya, namun ia tidak mampu memakannya.”

[2] Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari shalih bin kaisan seperti tersebut dalam as-Siratun Nabawiyyah, Ibnu Hisyam. Vol II/91

[3] Disebutkan oleh Ibnu Hisyam dari Abu Ishaq dalam as-Siratun nabawiyyah Vol II/79

[4] Shai’dul Khathir, Ibnu Jauzi hal 257-261

[5] Rujuk kembali tafsir surat al-Anfal : 5

[6] Hadits dengan redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad 2/295, Abu Dawud 4654, Hakim mensahihkannya dalam al-Mustadarak 4/77, dan disetujui oleh adz-Dzahabiy. Semuanya dari Abu Hurairah r.a. Syeikh Ahmad Syakir mengatakan, “Isnadnya shaih.” Sedangkan dengan redaksi “kiranya Allah telah mencermati…” diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/305, Muslim 16/56, Abu Dawud 2650, at-Tirmidzi 3305, Ahmad dalam musnad 1/80, dan al-Baihaqi dalam as-sunanul kubra 9/147, semuanya dari hadits Ali bin Abi Thalib r.a. ada juga hadits yang senada yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan Jabir bin Abdullah r.a., semuanya sahih.

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s