Nasehat Ke Enam “SIAPA BERSANTAI SAAT BEKERJA, DIA AKAN MENYESAL SAAT PEMBAGIAN UPAH”

 

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam6“Ibnu Jauzi: “Ada dalil yang menjelaskan bahwa seorang yang beriman kepada Allah itu seperti buruh harian. Masa kerjanya selama benderangnya siang. Nah, seorang yang dipekerjakan di sawah mestinya tidak memakai baju yang bersih. Semestinya ia bersabar selama masa kerja. Barulah ia membersihkan diri dan memakai baju yang terbaik.””

SAIAP BERSANTAI SAAT BEKERJA, DIA AKAN MENYESAL SAAT PEMBAGIAN UPAH

            Sebagaimana kita benar-benar telah menyaksikan bagaimana orang-orang dzalim mengintimidasi orang-orang yang beriman di negeri Islam. Mereka melihat betapa polisi, tentara, para algojo, dan orang-orang yang dzalim itu menahan kaum muslimin. Tiada hari berlalu melainkan mereka menahan puluhan bahkan ratusan kaum muslimin. Bahkan para eksekutor itu tidak melewatkan satu malam pun tanpa menyiksa kaum muslimin sejak sekian lama, mereka tidak peduli lagi kepada anak-anak, wanita, orang tua, ataupun pemuda. Siapapun akan mendapatkan bagian terpaan siksa.

            Selama tahun-tahun itu banyak akhwat yang dipaksa menggugurkan kandungannya, dipukuli, dan dibiarkan tidur di atas bebatuan di malam musim dingin. Balita pun mendapat siksa yang berat, bahkan mereka dibiarkan beberapa hari tanpa makan.

            Bertahun-tahun ikhwah melewati Idul Fitri antara rumah tahanan, penjara, pengasingan, orang-orang yang terbunuh, dan orang-orang yang terluka. Mereka, keluarga mereka, bapak-bapak mereka, ibu-ibu mereka, dan istri-istri mereka tidak sedikitpun merasakan kegembiraan di hari raya.

            Sebagian kita telah menyaksikan hal itu dan juga kejadian-kejadian lain yang terjadi di sekitar mereka, lalu setan menyusup kedalam jiwa, menghembuskan rasa was-was supaya mereka mencela hikmah di balik takdir. Setan berkata, Bagaimana bisa Allah membiarkan musuh-musuh-Nya dan para algojo mereka semakin bertambah kuat dari hari ke hari? Bartambah canggih alat yang mereka miliki dalam menghadapi orang-orang yang beriman? Mengapa mereka dibiarkan bertambah kokoh dari masa ke masa? Mereka merajalela di berbagai penjuru negeri. Mereka memerintah semau mereka sendiri. Bagaimana para pengikut mereka tunduk kepada mereka? Lalu, bagaimana keadaan kalian wahai wali-wali Allah!? Kalian tergeletak di atas bebatuan yang bagai salju di musim dingin dan bagai bara di musim panas. Kalian tidak mendapati makanan, minuman, pakaian, selimut, dan bahkan udara yang mencukupi nafas kalian. Ini adalah suatu kenyataan yang tidak akan diyakini kecuali oleh orang-orang yang hidup di tempat seperti ini. Bagaimana juga para pengikut sekuler bergelimang kenikmatan, kelezatan, naungan yang nyaman, sedangkan mereka dalam kekuatan penuh untuk menguasai dunia? Bahkan, bagaimana para algojo itu selalu hidup dalam tawa dan canda, sementara pada saat yang sama banyak ikhwah yang ditahan bagai binatang sembelihan oleh tangan mereka di belakang punggung mereka, ia berteriak sedemikian kerasnya sampai pingsan?

            Inilah was-was yang dihembuskan oleh setan di saat-saat yang berat seperti ini. Ini pulalah kata nafsu ammarah bis suu’ (nafsu yang mengajak kepada kejelekan) di masa-masa yang sulit. Ini semua membutuhkan mujahadah yang serius. Ini semua adalah ujian besar yang benar-benar membutuhkan keteguhan untuk menghadapinya.

            Kepada setiap aktifis hendaknya berbicara kepada dirinya sendiri, Bukankah jika Allah hendak mengambil para syuhada, Dia menciptakan kaum yang membuka tangan mereka untuk membunuh orang-orang yang beriman. Apakah pantas ada orang yang menusuk Umar selain Abu Luluah? Atau Ali selain Abu Muljam?[1] Atau Sumayyah selain Abu Jahal?

Hendaknya setiap ikhwah mengingatkan diri masing-masing dengan firman Allah:

“Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka” (Qs. Ali Imran [3] : 178)

            Juga firman Allah:

“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.” (Qs. Al-Qalam [68] : 44-45)

            Karenanya, hendaknya ia menasehati dirinya sendiri dengan nasehat Ibnul Jauzi, Ada dalil yang menjelaskan bahwa seorang yang beriman kepada Allah seperti seorang buruh harian. Masa kerjanya selama benderangnya siang. Nah, seorang yang dipekerjakan di sawah mestinya tidak memakai baju yang bersih. Semestinya ia bersabar selama masa kerja. Barulah ia membersihkan diri dan memakai pakaian yang terbaik. Barang siapa bersantai-santai saat bekerja akan menyesal saat pembagian upah, ia akan menanggung akibat atas kelambanannya dalam menuntaskan pekerjaannya. Poin ini akan menguatkan kesabaran.

            Selanjutnya hendaklah berkata kepada diri sendiri, Biarlah mereka mengambil dunia (itupun jika dunia mau) sedangkan kita cukup akhirat menjadi milik kita.

            Dunia seisinya ini adalah kelezatan sementara yang di sisi Allah tidak sebanding dengan selembar sayap nyamuk. Dengan hati dan lisan, hendaknya ia mengulang-ulang pernyataan para mantan penyihir Fir’aun setelah hati mereka di luapi keimana—kepada Fir’aun masa kini dan masa yang akan datang.

“Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat Memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” (Qs. Thaahaa [20] : 72)

            Hendaknya ia juga menigingatkan diri bahwa para thogut itu, meski mereka dapat memenuhi dunia dengan guncangan, himpitan, dan amcaman kepada orang-orang yang beriman, sesungguhnya kehinaan, rasa sesak, dan kegelisahan yang diakibatkan oleh kemaksiatan tidak akan meninggalkan mereka selama-lamanya. Hasan Bashri berkata, Mereka itu, walaupun bighal (sejenis keledai) tunduk dan kuda-kuda berjalan bagus di hadapan mereka, sesungguhnya kehinaan yang diakibatkan oleh kemaksiatannya dapat terbaca pada raut mukanya. Akan menghinakan orang yang bermaksiat kepada-Nya.[2]

            Semua ini hanya dapat dirasakan dan dimengerti dengan sebenarnya oleh orang-orang yang benar-benar beriman, shalih, dan benar-benar mengerti tentang Rabb mereka, penolong mereka yang sebenarnya. Mereka yang mengerti benar bahwa masa mereka dengan para thogut akan segera berakhir. Kendaraan telah diparkir dan para penumpang telah bergegas-gegas turun.

* * *

FOOT NOTE :

[1] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal.103-104

[2] Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi hal.103

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s