Nasehat Ke Delapan “UJIAN DAPAT MENINGGIKAN DERAJAT DAN MENGHAPUS KESALAHAN”

 

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam8Ujian akan terus menimpa seorang mukmin laki-laki dan perempuan, menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga ia akan berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.
(HR. at-Tirmidzi)

UJIAN DAPAT MENINGGIKAN DERAJAT DAN MENGHAPUS KESALAHAN

Sesungguhnya di surga ada tingkatan yang tidak dapat dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya, apapun amalnya.

Allah telah menyediakan kedudukan tertentu di surga bagi hamba-hamba-Nya yang beriman bukan karena amal mereka melainkan karena ujian dan cobaan yang menerpanya. Oleh karenanya Allah menyiapkan bagi mereka sebab-sebab yang akan mengantarkan mereka kepada ujian dan cobaan itu. Ya, sama persis halnya Dia memberi taufiq kepada mereka untuk beramal shalih yang juga merupakan sebab-sebab yang akan menyampaikan mereka kesana.

Ada tingkatan iman yang tidak bisa dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya. Ia hanya akan mencapainya dengan ujian dan cobaan. Allah beriradah (berkehendak) untuk meningkatkan imannya, maka Allah pun menetapkan ujian dan menolongnya untuk bersabar dan teguh menghadapinya. Ujian ini merupakan rahmat dari-Nya bagi seorang hamba.

Bukankah sekiranya keluarga Yasir tidak merasakan pedihnya siksa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Quraisy tidak merampas harta Shuhaib ar-Rumiy niscaya ia tidak akan mencapai derajat, Wahai Abu Yahya, perniagaanmu benar-benar beruntung.[1]

Bukankah sekiranya keluarga Yasir tidak merasakan siksa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Quraisy? Jika bukan karena ujian tersebut niscaya tidak akan sampai ke derajat, bersabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.[2]

Sekiranya Anas bin Nadhar tidak tercacah tubuhnya dalam perang Uhud, ia tidak akan mendapatkan kemuliaan, Seandainya ia bersumpah, memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.

Kalaupun bukan karena itu, niscaya wajahnya tidak akan berseri-seri dan tidak akan terealisasikan apa yang diinginkannya saat ia bersumpah, Demi Allah gigi depan Rubayyi tidak akan copot.[3]

Jika bukan karena siksa yanag dirasakan oleh Bilal bin Rabah dari tangan Umayyah bin Khalaf dan algojo-algojonya, niscaya ia tidak mendapatkan gelar Bilal, penghulu kita[4]

            Kalaulah bukan karena kesabaran Yusuf a.s. saat digoda dan saat dipenjara, ia tidak akan mendapatkan gelar: “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya,”(Qs. Yusuf [12] : 46)

Sekirnya bukan karena kesabaran Umar bin Khaththab mengenyam pahit-getirnya kebenaran dan keadilan niscaya tangannya tidak akan terbentang menguasai dunia seisinya, atau seperti banyak dikatakan, tangannya terbentang, menyentuh bumi dengan kilau perhiasan.

Sekiranya bukan karena kesabaran Umar bin Abdul Aziz mengenyam pahti-getirnya kebenaran dan keadilan, ia tidak akan diakui sebagai khalifah yang kelima[5]

Jika bukan karena kesabaran Ashhaburrajji atas apa yang menerpa merekan di jalan Allah, niscaya mereka tidak akan menjadi orang-orang yang dimaksud allah dalam firmannya

            “Dan diantara sebagian manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mendapatkan ridha Allah” (Qs.Al-baqarah [2] : 207)

Jika bukan karena kesabaran Sa’ad bin Muadz perjuangannya dijalan Allah darahnya yang mengalir saat perang Khandaq, dan hukumnya yang adil terhadap bani Quraidzah, niscaya ia tidak akan meraih derajat Arsy ar-Rahman berguncang saat kematian Sa’ad.[6]

Jika bukan karena kesungguhan, pengorbanan, dan kesabaran ‘Abdullah bin Haram saat perang Uhud dan sebelumnya, ia tidak akan meraih derajat, ‘wahai hamba-ku, berangan-anganlah, niscaya aku akan memberikannya kepadamu.’[7]

Andai bukan karena kesabaran Ahmad bin Hambal dalam mengadapi siksaan dan keteguhannya di atas kebenaran, ia tidak akan mencapai gelar ‘imam ahlussunnah’.

Andai bukan karena kesabaran dan keteguhan Sayyid Quthb dalam menghadapi ujian dan saat digantung, kata-katanya tidak akan dikenang, dan buku-bukunya pun tidak akan tersebar di berbagai belahan dunia.

Maka, jika allah beriradah (berkehendak) untuk memilih sebagian hamba-Nya supaya supaya menjadi syuhada’, dia akan menguasakan musuh kepada mereka yang akan membunuh dan menumpahkan darah mereka dalam cinta dan ridho-Nya, supaya mereka mengorbankan jiwa mereka di jalannya. Syahadah adalah derajat tertinggi setelah derajat para Nabi dan shiddiqin, Syuhada’ adalah orang yang berkorban untuk Rabbnya. Mereka telah ridho kepada Allah, dan Allah pun telah memilih mereka utnuk-Nya  sendiri.

Karena itulah Allah mengadakan sebab-sebab untuk itu. Allah menjadikan musuh-Nya yang juga musuh orang-orang yang beriman sebagai sebab tercapainya syahadah orang-orang yang beriman.

Sungguh derajat yang tinggi, Apabila Allah beriradah (berkehendak) untuk mengangkat para Da’i para mujahid ke derjat ini, maka mereka harus terbunuh di tangan musuh.

Disana ada dosa besar yang hanya dapat dihapus oleh kebaikan yang besar atau ujian yang berat. Maka Allah menetapkan ujian bagi wali-wali-Nya, supaya dosa-dosa mereka terhapuskan, yang kecil ataupun yang besar, yang tampak ataupun yang tak kasat mata, yang awal maupun yang akhir, sampai tak tersisa lagi satu kesalahan pun. Lalu mereka menghadap Rabbnya sedangkan dosa-dosa mereka telah berguguran.

Kemuliaan yang tak terkira dan derajat yang sangat tinggi!

Kiranya inilah yang diisyaratkan hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah saw. bersabda: Ujian akan terus menimpa seorang mukmin laki-laki dan perempuan, menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga ia akan berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.[8]

* * *

FOOT NOTE :

[1] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/398 dari Anas, “Ketika Shuhaib keluar dari Mekah untuk berhijrah, para penduduk Mekah mengikutinya. Shuhaib meraih kantung anak panahnya dan mengambil 40 batang anak panah seraya berkata, ‘Jangan mendekat atau masing-masing dari kalian akan mendapat sabetan dari anak panah ini, atau aku akan mencabut pedangku dan kalian akan tau bahwa aku benar-benar laki-laki! Aku telah meninggalkan dua orang budak di Mekah, keduanya untuk kalian.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya surah al-Baqarah [2]:207. Ketika Shuhaib memasuki Madinah dan Nabi melihatnya, beliau bersabda, ‘Wahai Abu Yahya, perniagaanmu benar-benar beruntung.’ Lalu beliau membacakan ayat di atas.” Al-Hakim berkata, “Shahih sesuai dengan syarat Muslim.” Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dari Shuhaib seperti tertera dalam Bidayah wan Nihayah 3/173 dan ath-Tharbani. Di dalam Majma’uz Zawaid 6/60, al-Baihaqi berkata, “Ada beberapa perawi yang tidak saya kenal.” Hadits di atas juga diriwayatkan secara mursal dari Sa’id bin Musayyib oleh Abu Sa’ad dala at-Thabaqat, 3/162, Ibnu ‘Abdulbarr dalam al-Isti’ab 2/180; dan Abu Nu’aim dalam Hiyatul Auliya 1/152. Hadits ini banyak sekali ‘Syahidnya’, sehingga ini menunjukkan kebenaran.

[2] Diriwayatkan oleh al-Hakim ndari jalur ‘Uqail dai az-Zuhriy dari Isma’il bin ‘Abdullah bin Ja’far dari ayahnya seperti tersebut didalam al-Ishabah 10/331. Ini adalah contoh sanad yang shaih dari hadits-hadits mursal shahabi. Yang seperti ini diterima oleh para ‘ulama. Diriwayatkan pula oleh imam Ahmad dalam Musnad 1/62, ath-Thabrani seperti diterima oleh Majma’ mengatakan bahwa para munqathi’, karena Salim tidak pernah mendengar dari ‘Utsman. Diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam al-mustadrak 3/338, ath-Thabrani dalam Di dalam al-Mu’amul awsath 1531, al-Baihaqi ~seperti tersebut dalam Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 3/59~, dan adz-Dzahabi dalam Tarikh Islam 1/192 dari Zubeir dari Jabir. Di dalam Majmu’uz Zawaid, al- haitsami mengatakan, “Para perawinya orang-orang yang shalih selain Ibrahim bin ‘Abdul ‘Aziz, ia seorang yang dapat dipercaya. “Al-Hakim berkata, ‘Ini Shahih sesuai dengan syarat muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya,” Adz-Dzahabi menyepakati al-Hakim.

[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 5/305, Abu Dawud 4595, an-Nasa’i 8/26, Ibnu Majah 2649, dan Ahmad dalam Musnad 3/128 dari Anas bin Malik. Terjemahan lafazh al-Bukhari sebagai berikut, “adalah Rubayyi ~putri Nadlar~ mematahkan gigi depan seorang anak perempuan. Keluarga Rubayyi’ meminta agar keluarga anak perempuan itu mau menerima uang tebusan dan memaafkan, namun mereka menolaknya. Maka mereka mendatangi Rasulullah saw. dan Nabi saw. pen memerintahkan qishash. Anas bin Nadlar berkata, “Haruskah gigi depan Rubayyi’ dipatahkan wahai Rasulullah? Tidak, demi yang mengutusmu dengan benar, gigi depannya tidak akan dipatahkan!’ Raulullah membalas, “Wahai Anas, Allah mewajibkan qishash, ‘setelah itu, keluarga anak perempuan itu ridha dan mau memaafkan.”

[4] Maka Nabi saw. bersabda, “Diantara sekian banyak hamba Allah ada yang jika bersumpah kepada Allah, niscaya Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim 11/162 dari hadits Anas dengan perbedaan orang yang mematahkan dan orang yang bersumpah. Para ‘ulama mengatakan berkata, “memang ada dua kejadian yang melibatkan orang yang berbeda.”

[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/99 dari Jabir bin ‘Abdullah katanya, Umar pernah berkata, ‘Abu Bakar tetua kita telah membebaskan tetua kita.’ Maksudnya Bilal.

[6] Sufyan ats-Tsauriy mengatakan,“ Khalifah itu ada lima; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz.” Penuturan yang semisal diriwayatkan dari Mujahid dan Imam Ahmad. Bahkan kabarnya Sa’id bin Musayyib berkata, “Hkalifah itu ada tiga; Abu Bakar, Umar, dan Umar.”Maksudnya Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Baca kembali sirah beliau dalam karya Ibnul Jauzi hal. 59-60 cet.al-Muayyad tahun 1331 H.

[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/122, Muslim 16/12, at-Tirmidzi3848, Ibnu Majah 158, dan Ahmad dalam musnad 3/296 dari Jabir bin Abdullah. Tentang ini juga hadits dari Anas bin Malik, Usaid bin Hudlair, Asma’ binti Zaid, Rumaitsah, dan selain mereka. Dalam fathul bari, Ibnu Hajar berkata, “hadits tentang berguncangnya ‘Arasy ar-Rahman karena Sa’ad bin Mu’adz ini diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat.” (Fathul Baari 7/124) Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, 3010 dan ia mensahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, 190, lafazh di atas lafazhnya, ahmad, 361, dan al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah 3/129 dari Jabir bin Abdullah katanya, “ketika Abdullah bin Amru bin Haram terbunuh dalam perang Uhud, Rasulullah bersabda, ‘Wahai Jabir, maukah kamu aku beritahukan apa yang Allah katakan kepada ayahmu?’ ‘tentu saja, wahai Rasulullah’, jawabku. Lalu Rasulullah berkata, ‘Allah selalu berbicara dengan siapapun dari balik hijab, tetapi Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung. Dia berkata, ‘wahai hamba-Ku, mintalah sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya!’ ayahmu berkata, Duhai Rabbku, hidupkan aku sekali lagi supaya aku bisa terbunuh di jalan-Mu untuk yang kedua kali.’ ‘Wahai Rabbku , kalau begitu, smpaikan keadaanku kepada orang yang ada dibelakangku.’, kata ayahmu. Maka Allah menurunkan firman-Nya (Ali-‘Imaran:169).” Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syeikh al-Albani. Diriwayatkan juga oleh al-Hakim 3/203 dan ia berkata, ‘Isnadnya shahih, hanya saja keduanya tidak meriwayatkan.”

[8] Diriwayatkan oleh at-Trmidzi, 2399 katanya, “hadits hasan shahih. “Diriwayatkan pula oleh Ahmad dalam Musnadnya 2/287 semisal dengannya dan dishahihkan oleh Syeikh Ahmad Syakir. Al-Hakim juga meriwayatkan dalam al-Mustadrak 4/314 dan berkata, “Sahih sesuai dengan syarrat muslim, nsmun keduanya tidak meriwayatkannya,: adz-Dzahabi menyetujuinya. Diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’ 558, artinya: “seorang mukmin akan terus ditimpa musibah; anaknya dan orang-orang dekatnya, sehingga ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.”

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s