Nasehat Ke Sembilan “NIKMATILAH JALAN KEBENARAN”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam9

“Sesungguhnya jalan kebenaran itu sulit dan berat, penuh dengan onak dan duri. Siapa pun tau tentang semua ini dengan ilmul yaqin (kepastian), dan bahkan ainul yaqin (kenyataan).”

NIKMATILAH JALAN KEBENARAN

       Bagaimana tidak, setiap hari dapat mendengar dan menyaksikan para algojo jahilliyah saat mereka mengarahkan senjata dan peluru mereka ke dada orang-orang beriman. Doktrin mereka kini adalah menyarangkan peluru tepat ke jantung. Masa menembakkan gas airmata, mematahkan tangan dan kaki telah berakhir.

       Sesungguhnya jalan kebenaran, seberat dan sesulit apapun itu seorang mukmin akan senantiasa menikmati dan mencintainya. Dalam Menjalaninya, seorang mukmin akan dapat merasakan rasa manisnya yang tidak dapat digambarkan, tiada yang mengetahuinya selain yang merasakannya. Bagaimanapun saya menggambarkan bagi anda rasa manis itu dan kemuliaan ini, saya benar-benar tidak mampu menyifatinya, saya hanya memohon kepada Allah semoga Dia menganugerahkan kepada saya, anda semua, dan seluruh kaum muslimin.

       Rasa manis inilah yang akan memudahkan semua kesulitan, meringankan beban berat, menabahkan di jalan mendaki, dan menjadikan seorang mukmin ridha terhadap Pelindungnya dan Penciptanya, bahkan ketika ia melewati masa terpahit dan hari terberat sekalipun.

       Bukankah sahabat Haram bin Milhan ketika di khianati dan sebatang tombak dilemparkan ke arahnya, saat tombak dicabut dan ia melihat darah, kata-kata yang terucap adalah Ohh, aku telah sukses, demi Rabb ka’bah!?![1]

       Begitu pula dengan sahabat yang mulia Utsman bin Mazh’un yang menjadi buta sebelah matanya di jalan Allah setelah ia menolak perlindungan yang diberikan seorang musyrik dan memilih ridha dEngan perlindungan Allah, wahai kemenakanku, jika matamu tidak menginginkan apa yang terjadi sekarang ini, sebenarnya aku dapat menjaminnya. Maka Utsman pun menjawab, Sebaliknya, demi Allah, sungguh mataku yang satu masih sehat ini benar-benar menginginkan apa yang menimpa saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh aku kini berada di sisi Dzat yang jauh lebih mulia dari pada dirimu![2]

       Juga, tidakkah kau mendengar kata-kata Khalid bin Walid berikut, Malam pengantin dengan wanita yang sangat aku cintai, lalu aku diberi kabar gembira akan lahirnya seorang anak laki-laki, tidak lebih aku sukai daripada malam yang sangat dingin dan penuh salju, di mana aku berada di tengah-tengah pasukan untuk menyerang musuh di keesokan hari.[3]

       Shalahuddin al-Ayyubi, karena cintanya yang merauh kepada jihad dan nikmat yang dirasakannya ada dalam kematian, luka, dan keletihan di jalan Allah, karena itu ia membanci istana dan hura-hura. Ia lebih suka kehidupan dibawah tenda padang lapang, para sejarawan sampai menulis, Semua pembicaraan tentang jihad dan mujahiddin. Semua senjata dalam jihad. Ia telah rela hidup dibawah tenda di gurun pasir.

       Ada pula Umeir bin Hamman. Ketika ia mendengar penuturan Rasulullah s.a.w. saat perang Badar, bahwa Allah mewajibkan surga bagi siapa saja yang mati syahid di jalan-Nya, ia berdiri dan berkata, Wahai Rasulullah, surga yang seluas langit dan bumi itu?” “Benarjawab beliau. emm, komentar Umeir. Rasulullah bertanya, apa yang mendorongmu untuk mengucapkan kalimat emm? Ia menjawab, Tidak, wahai Rasulullah, rasanya aku tidak punya harapan menjadi penghuninya.” “Tetapi kamu termasuk penghuninya!, jelas beliau s.a.w. Maka Umeir mengeluarkan korma dari kantungnya, ia makan beberapa biji lalu berkata, Jika aku masih hidup untuk menikmati korma-korma ini, sungguh adalah kehidupan yang panjang. Kemudian ia membuang semua korma yang ada di tangannya, lalu ia bertempur sampai terbunuh.[4]

       Ia telah menikmati jalan (kebenaran) dan mengecap rasa manisnya, maka ia merasakan beberapa detik yang ia habiskan untuk memakan korma dan sekian saat yang akan mengakhirkannya dari surga serasa setahun.

       Saat akan dibunuh, Khubaib bin Adiy bersyair:

Aku tiada pelindung saat aku terbunuh sebagai sebagai seorang muslim dalam posisi apa pun,
Sungguh aku terjatuh karena Allah.
Bagi Allah, jika Dia menghendaki Dia akan memberkati setiap bagian tubuh yang terpisah.[5]

       `Umeir bin Abu Waqqash, adik kandung Sa`ad bin Abu Waqqash, saat terjadi perang Badar umurnya belum genap 16 tahun. Diam-diam dia pergi ke medan tempur. Ia menghindari Rasulullah khawatir jika disuruh pulang lagi. Maka ketika beliau mengetahui keinginan dan keseriusannya untuk berperang, beliau mengizinkannya. Ia maju dan akhirnya ia terbunuh di jalan Allah.[6]

       Sebelum berangkat ke medan Uhud, Abdullah bin Jahsy dan Sa`ad bin Abu Waqqash bertemu sesaat dan bersepakat untuk mengamini do’a masing-masing secara bergantian. Do’a Abdullah bin Jahsy adalah sebagai berikut, Ya Allah, berikan rizki kepada ku berupa laki-laki (musuh) yang dipenuhi amarah dan sangat kuat sehingga aku memeranginya karena-Mu, dan ia mampu memberikan perlawanan. Kemudian ia mampu mengalahkanku. Lalu ia iris hidung dan telingaku. Lalu jika nanti aku berjumpa dengan-Mu saat Kau tanya, Wahai Abdullah kenapa hidung dan telingamu teriris? lalu aku menjawab Karena-Mu dan karena membela Rasul-Mu, dan engkaupun berfirman, Enagkau benar.‘”[7]

       Do’a yang agung dan benar-benar menakjubkan! pribadi-pribadi yang telah menjual segalanya kepada Rabbnya dan segala kepahitan yang mereka rasakan sebagai manisan. Do’a ini tidak mungkin muncul kecuali dari seseorang yang telah menikmati jalan kebenaran dan telah mengecap rasa manisnya. Baginya, keridhaan Allah adalah segalanya.

       Baginya, berjumpa dengan Allah dalam keadaan taat kepada-Nya dan terbunuh di jalan-Nya adalah jalan terpenting dalam hidup.

       Mereka dan orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang memang pantas mendapatkan tamkin (kedudukan) dari Allah dan Kemenangan dari-Nya, dan menjadi pilihan-Nya.

       Abdullah bin Jahsy telah meraih cita-citanya, terbunuh sebagai syahid di medan Uhud, dan hidunganya oleh orang-orang musyrik. Mungkin ada sebagian yang tidak tahu bahwa Abdullah bin Jahsy masih kerabat Nabi ia adalah anak bibi Rasulullah.

       Mereka adalah kaum yang merasakan bahwa kemuliaan mereka hanya akan terwujud dengan meniti jalan ini, meskipun harus mempus keinginan, meskipun harus memerangi orang-orang berkulit putih dan hitam, meskipun mereka harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga.

       Anda dapat merasakan hal itu di dalam kecintaan agung menggenangi hati Sa`ad bin Mu`adz, kecintaannya terhadap kematian sebagi syahid di jalan Allah. Setelah ia menjatuhkan vonis bagi Yahudi dan Quraizhah, ia (saat itu sedang terluka) berdo’a, Ya Allah, Sesungguhnya Engkau tahu bahwa yang paling aku cintai adalah berperang di jalan-Mu menghadapi kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. Ya Allah, Sungguh aku mengira mulai saat ini Engkau telah menghentikan peperangan antara kami dengan mereka. Karenanya, jika masih ada peperangan melawan Quraisy, panjangkanlah hayatku supaya aku dapat berjihad menghadapi mereka di jalan-Mu. Namun jika engkau telah menghentikannya, pancarkanlah darahku dan jadikanlah kematianku karena-Mu. Maka terpancarlah darah dari tubuhnya. Para sahabat tidak ada yang menyadarinya sampai mereka melihat darah mengalir itu, para sahabat berseru, Hai penghuni tenda, apa yang terjadi di tenda kalian? mereka menyaksikan Sa`ad telah bersimpah darah., dan gugur karenanya.[8]

       Mundzir bin Umeir di kalangan sahabat di kenal sebagai al-mu’niq lil maut (orang yang paling cepat menuju kematian sebagai syahid di jalan Allah). Gelar itu ia dapatkan karena dialah yang pertamakali terbunuh sebagai syahid dalam peristiwa bi’ ruma’ unnah.[9]

Khalid al-Islambuli, ketika menghapi hukuman mati tampak di wajahnya kebahagiaan tak terkira. Ketika ia melihat kesedihan salah seorang saudaranya, sambil mengucap salam yang terakhir ia berkata, “Jangan bersedih aku cuma pergi kepada Rabbku!”

       Seorang aktivis, setelah dalam peperangan yang sengit tangan kanannya terluka parah telapak tangan kanannya benar-benar terputus berulang-ulang, diantara mati dan hidup ia mendengungkan surat (Thaha [20] : 84) : “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).” (Qs. Thaahaa [20] : 84)

       Aktifis yang lain, menangis tersedu-sedu saat ia ditolak untuk berjihad (tubuhnya lemah) ia bercita-cita mendapatkan rizki berupa syahadah (mati syahid). Ketika komandan pasukan mengetahui tangisnya, ia berkata, Inilah yang paling aku harapkan! lalu ia pun memasukkannya kedalam barisan, ketika musuh akan mengeksekusinya ia tertawan ia mulai berdo’a banyak dan panjang, do’a untuk kecelakaan mereka. Ia terus-menerus berseru dengan suara yang keras, Orang-orang yang terbunuh dia akan mendapatkan surga! Orang-orang yang terbunuh dari kalian akan mendapatkan neraka!

       Saya telah menyaksikan para aktivis yang utama dengan mata kepala sendiri. Mereka yang terbilang para pemimpin dan imam pembawa petunujuk, saya saksikan mereka tidur beralas bumi atau di atas selembar selimut. Mereka tidak memiliki dunia, makanan, dan minuman. Pakaian mereka hanyalah yang menutupi aurat mereka. Dan diantara mereka ada yang berbantal tangan mereka sendiri atau sepatu mereka. Ada pula yang berbantal piring yang biasa dipakai untuk makan siang. Ada pula yang berbantalkan batu bata.

        Kendati pun demikian, mereka benar-benar dalam kebahagiaan yang tak terkira karean ketaatan mereka kepada Rabb mereka dan karena taufik yang Dia berikan kepada mereka untuk tetap teguh di atas kebenaran, ibadah, dan ketaatan. Juga karena Allah telah membukakan bagi mereka ma`rifah yang sebenarnya kepada Allah, asma’ (nama-nama), dan shifat-Nya.

       Kebahagiaan yang mereka rasakan seakan-akan dunia ini dipersembahkan untuk mereka. Anda dapat merasakan, sepertinya mereka mengulang kalimat-kalimat ini, Kami berada dalam kenikmatan,. Dan sekiranya para raha mengetahui kenikmatan yang kami rasakan, niscaya mereka akan merebutnya dengan pedang.!

       Bagi mereka urusan dunia ini tidak ada nilainya. Kesibukan mereka hanyalah beramal untuk Islam dan mengupayakan kejayaannya di muka bumi. Hati mereka bersorak, Berada di jalan Allah… anugerah terindah!

        Mereka yang telah saya sebut di muka adalah orang-orang yang telah menikmati jalan kebenaran dan mengecap rasa manis yang telah mengusir derita, onak dan duri, kesulitan, serta siksaan dari jalan itu. Bahkan, siksa berubah menjadi nikmat, pahit menjadi manis, sulit menjadi mudah, dan mahal menjadi murah. Keridhaan mereka terletak pada keridhaan Pelindung mereka yang sebenarnya (Allah). Kecintaan mereka terhadap sesuatu adalah karena kecintaan mereka kepada-Nya yang Maha Suci. Mereka bergegas menuju kecintaan dan keridhaan Rabb mereka, meskipun harus kehilangan dunia seisinya.

Sekiranya Keridhaan ada dalam berjaganya aku
Kuucapkan ‘Wassalam’ untuk rasa kantukku

       Itulah derajat yang tinggi. Barangsiapa diberi taufik oleh Allah untuk itu, sungguh ia telah diberi taufik untuk kebaikan yang banyak.

       Saya memohon kepada Allah, semoga menjadikan kita semua sebagai ahlinya, sesungguhnya dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

* * *

FOOT NOTE :

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 6/18, muslim 13/47, Ahmad 3/137, dan Abdullah bin Mubarak dalam Kitabul Jihad hal. 71 dari sahabat Anas bin Malik. Adapun lafazh al-Bukhari terjemahannya sebagai berikut, Nabi saw., mengutus beberapa orang Bani Sulaim kepada Bani ‘Alim yang berjumlah 70 orang. Ketika mereka sampai pamanku, Haram bin Milhan, maju seraya berkata, “Saya akan maju terlebih dahulu, semoga mereka menjamin keamananku sehingga aku dapat menyampaikan pesan Rasulullah. Dan seandainya mereka menyerangku kalian masih ada di dekatku.” Maka haram maju, dan membiarkannya. Ketika mereka menyampaikan pesan dari Nabi saw. tiba-tiba mereka memberi isyarat kepada seorang dari mereka, lalu orang itupun menyerangnya, melukainya. Haram berkata, “Allahu akbar, aku telah sukses demi Rabb ka’bah.” Maka mereka segera menyerang sahabat-sahabatnya, membunuh mereka semuanya.

[2] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam hidayatuk Auliya’ 1/103 dari Utsman Ibnu Hisyam menyebutkan dalam sirah dari Ibnu Ishaq tanpa sanad. (vol.1/370)

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dalam kitabul Jihad dari bekas budak keluarga Khalid dari Khalid hal.91, juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Qais bin Hazim. Al-Haitsmiy berjata dalam majma’uz Zawaid 9/350, “Para perawinya orang-orang yang terpercaya.”

[4] Diriwayatkan oleh Muslim 13/45 dari Anas bin Malik.

[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/379, Ahmad 2/294, al-Baihaqi dalam as-Sunnatul Kubra 9/146 dari Abu Hurairah

[6] Diriwayatkan oleh al-Hakim 3/118, Ibnu Sa’ad dalam at-Thabaqat 3/149 dariSa’ad bin Abu Waqqash. Al-Hakim mengatakan, “Isnadnya shahih.”

[7]  Diriwayatkan oleh al-Hakim 2/76 dan al-baghawi seperti tertera dalam al-Ishabah 2/287 daro Oshaq bin Sa’ad bin Abu Waqqash dari ayahnya. Al-Hakim berkata, “Shahih sesuai dengan syarat Muslim namun beliau dan al-Bukhari tidak meriwayatkan.” Ini disepakati pula oleh Adz-Dzahabi. Diriwayatkan juga secara mursal.; dari jalan lain oleh Abdullah bin Mubarak dalam al-Jihad hal.74, al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/200, Abu Nu’aim dalam hilyah 1/109 dari da’id bin Musayyib. Awalnya berbunyi “Ya Allah aku bersumpah kepada-Mu” lalu Sa’id memaparkan hadits yang semisal dengannya dan berkata, sungguh aku berharap aku benar-benar berharap Allah tidak mengabulkan akhir do’anya sebagaimana Doa telah mengabulkan awal do’anya.” Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits sahih yang sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim seandainya tidak mursal.” Adz-Dzahabi mengomentari hadits ini sebagai hadits mursal lagi sahih.

[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/411, Muslim 12/95, Ahmad dalam musnad 6/142 dari Aisyah r.a. al-Ishaba, Ibnu hajar 3/461 (sumur yang berada di lembah kota madinah)

[9] Al-Ishabah, Ibnu hajar 3/361 (sumur yang berada di lembah kota madinah).

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s