Nasehat Ke Sepuluh “DIEN INI HANYA AKAN DIPIKUL OLEH ORANG-ORANG YANG BERTEKAD BAJA”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam10

“Ketahuilah Dien ini hanya akan tegak di atas pundak orang-orang yang memiliki  ‘azam (kemauan) yang kuat. Ia tidak akan tegak di atas pundak orang-orang yang lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah!”

DIEN INI HANYA AKAN DIPIKUL OLEH ORANG-ORANG YANG BERTEKAD BAJA

            Dien yang agung ini hanya akan tegak dipundak orang-orang yang agung pula. Tanggung jawab besar yang sempat dienggani oleh langit dan bumi, pasti hanya akan dipikul oleh ahlinya.

Bagaimana mungkin Islam akan tegak tanpa ‘azam (kemauan) Anas bin Nadhlar yang pernah berkata, Sekiranya Allah memberi kesempatan kepadaku untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang akan aku lakukan.

Lalu ia mengikuti pernag Uhud, berperang, dan gugur disana. Pada tubuhnya didapati lebih 80 bekas anak panah, pedang, dan tombak. Tubuhnya terkoyak dan tak terkenali lagi. Hanya saudara perempuannya yang mengenalinya, dari jari-jemarinya.[1]

Bagaimana mungkin Islam akan tegak, kembalinya jaya dan mulia tanpa ‘azam (kemauan) Abu Bakar ash-Shiddiq saat terjadi gerakan murtad masal. Saat itu, ia yang telah lanjut usia dan sangat gampang menangis, dengan keterangan batu karang berkata, Demi Allah, aku akan memerangi siapapun yang memisahkan antara shalat dan zakat. Sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah sekiranya mereka tidak membayarkan satu iqbal yang mereka bayarkan kepada Rasulullah s.a.w. niscaya aku akan memerangi mereka karenanya.[2]

Ia juga berkata, Demi Allah yang tiada Ilah yang haq selain Dia, kalaupun anjing-anjing menyeret kaki istri-istri Rasulullah, aku tidak akan menarik mundur pasukan yang telah diberangkatkan oleh Rasulullah s.a.w. dan aku pun tidak akan melipat panji yang telah dikibarkan oleh Rasulullah s.a.w.[3]

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan ‘izzahnya (kemuliaan) tanpa tekad baja seperti tekad Mush’ab bin Umeir. Tekad yang membuatnya meninggalkan kehidupan masa muda, masa hura-hura[4], menuju kehidupan yang keras, fakir, dan bersahaja. Tekad yang telah menjadikan Mush’ab sebagai pintu masuk Islamnya kebanyakan penduduk Madinah.

Bahkan anda akan merasakan bahwa Mush’ab adalah seorang pemilik tekad, sampai di saat kematiannya! Ia yang memegang panji dalam perang Uhud, tangan kanannya terputus, sehingga ia memegangnya dengan tangan kirinya pun terputus, maka ia memegang panji dengan kedua lengannya. Dalam keadaan seperti itu Ibnu Qum’ah (yang terlaknat) menyabetkan pedangnya, dan Mush’ab pun gugur, semoga Allah merahmatinya. Bahkan lagi, mungkin anda akan merasakan betapa tekad Mush’ab melekat erat padanya. Mush’ab, seorang pemuda parlente, para sahabat tidak mendapati kain yang cukup untuk mengkafaninya selain secarik kain, jika bagian atasnya ditutup akan tampaklah kakinya, dan jika kakinya yang ditutup akan tampaklah kepalanya! Maka Rasulullah s.a.w. memerintahkan mereka supaya menutupi bagian kepalanya, dan menutupi kedua kakinya dengan rumput idzkir.

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan kemuliaan dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Shalahuddin al-Ayyubi. Tekad yang telah memporak-porandakan pasukan salib di Hiththin dan mengembalikan ummat Islam kepada aqidah yang benar setelah hampir saja tenggelam di kegelapan lautan Syi’ah dan kesesatan Bathiniyyah.

Betapa kita sangat membutuhkan tekad yang dimiliki oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Tekad yang telah menjadikan Sultan yang agung ini meninggalkan kemewahan hidup para raja, dan justru memilih kehidupan di bawah kemah yang terombang-ambing ditiup angin di tengan gurun sahara.

Seluruh hidupnya dia habiskan di bawah terpaan terik dan keringatnya gunung pasir di musim panas serta dinginnya angin yang bertiup dan salju yang turun di musim dingin. Ia bersama para mujahidin.

Betapa indah penuturan seorang sejarawan, Ibnu Syidad tentangnya, Kecintaan dan rindu dendamnya terhadap jihad telah meluapi hati dan persendiannya. Semua kajiannya tentang perlengkapan jihad. Semua perhatiannya tentang pasukan tempur. Semua kecendrungannya terhadap orang-orang yang mengingatkan dan mendorong keapada jihad. Demi cintanya kepada jihad fi sabilillah, ia telah meninggalkan keluarganya, anak-anaknya, kampungnya, tempat tinggalnya, dan seluruh negerinya dan rela memilih hidup di bawah kemah yang bergoyang ke kanan dan ke kiri dihembus angin.[5]

Jikalau bukan karena Allah menganugerahkan tekad Shalahuddin al-Ayyubi kepada umat ini, niscaya dien umat ini dan buminya akan sama rata, tidak tersisa tempat untuk hidup baginya.

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad ‘Umar bin Abdul Aziz, yang lewat tangan Umar Allah memperbaharui kondisi umat dalam waktu dua setengah tahun saja, sampai-sampai dikatakan bahwa seekor serigala pun berdamai dengan seekor kambing pada masanya![6] ini bukanlah suatu hal yang aneh atau asing kecuali bagi orang-orang yang ilmunya tentang Allah dan sunnah-Nya terhadap wali-wali-Nya hanya sedikit.

Betapa Islam sangat membutuhkan tekad semacam tekad Umar bin Abdul Aziz yang pernah dikirim surat protes oleh salah seorang pegawainya. Isi surat itu: “Sesungguhnya reformasi keuangan yang dilakukan Khalifah dan penghapusan jizyah dari orang-orang Barbar yang masuk Islam pasti akan mengakibatkan defisit pada kas negara.”

Maka Umar pun membalasnya sebagai berikut: Demi Allah, aku benar-benar menginginkan andai semua orang masuk Islam, lalu aku dan kamu kesawah, membajak, dan makan dari hasil jerih payah tangan kita.[7]

Pada kesempatan lain Umar berkata: Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad sebagai pembawa petunjuk bukan sebagai penarik pajak.[8]

Sehubungan dengan urgensi inilah Rasulullah s.a.w. memohon kepada Rabbnya, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam melaksanakan perintah dan tekad yang utuh untuk memberi petunjuk.”

           Himmah (cita-cita), semangat yang tinggi benar-benar menggelegak didalam dada orang-orang yang memiliknya seperti air mendidih dalam kuali. Ia akan mendorong pemiliknya untuk terus-menerus bekerja dari pagi hingga sore hari, sehingga terwujudlah penuturan Imam Syafi’i, Bagi muhaddis (perawi hadits) istirahat itu sama saja dengan lalai.

Pemilik Himmah (cita-cita) yang tinggi akan menjadikan syair yang selalu digemakan oleh Imam Syafi’i berikut ini sebagai motto hidupnya:

Aku, jika aku masih hidup aku pasti akan bisa makan.
Dan jika aku mati aku pasti kebagian kuburan.
Semangatku adalah semangat para raja,
Jiwaku adalah j
iwa yang merdeka,
yang melihat kehinaan hanya pada kekafiran.

Betapa Rijal (laki-laki) harakah Islamiyyah membutuhkan himmah (cita-cita) yang tinggi itu. Himmah yang tidak mengenal kata mustahil, yang tidak berhenti karena adanya aral melintang, apapun itu.

Bukankah himmah telah menjadikan dua orang sahabat Nabi s.a.w. keduanya adalah saudara kandung dan terluka parah dalam perang Uhud, salah seorang dari keduanya mengisahkan sendiri tentang himmahnya yang tinggi, Aku dan saudara kandungku sama-sama mengikuti perang Uhud bersama-sama Rasulullah s.a.w., kami berdua pulang dalam keadaan luka parah. Ketika seorang utusan Rasulullah s.a.w. mengumandangkan seruan untuk keluar kembali mengejar musuh, aku katakan kepada saudaraku atau ia katakan kepadaku-, Apakah kita akan kehilangan kesempatan berperang bersama Rasulullah s.a.w.?! Demi Allah, kami tidak memiliki tunggangan untuk berangkat padahal kami berdua benar-benar terluka parah. Kendati demikian, kami tetap berangkat bersama Rasulullah s.a.w. lukaku lebih ringan daripada luka saudaraku. Ketika ia benar-benar tidak mampu lagi berjalan, maka aku menggendongnya. Jika aku kelelahan menggendongnya, ia pun berjalan tertatih-tatih, dan bergitu seterusnya sampai kami berdua tiba di tempat pemberhentian kamu muslimin.[9]

Perlu diketahui bahwa Hamra’ul Asad, tempat pemberhentian yang ditetapkan oleh Nabi s.a.w. berjarak lebih dari delapan mil dari kota Madinah!

Saya sendiri sangat takjub dengan himmah Waraqah bin Naufal. Seorang yang telah lanjut usia, lemah jasadnya, rapuh tulangnya, bungkuk punggungnya, dan memutih rambutnya. Kepada Rasulullah s.a.w. ia ber‘azam, “Sungguh, jika aku nanti mendapati harimu, aku akan menolongmu dengan sebenar-benarnya! Lalu ia mendekatkan kepala Nabi s.a.w. kepadanya dan menciumnya.”

Waraqah yang telah renta itu pernah berharap mendapati masa turunnya wahyu sehingga ia berkesempatan untuk membantu dakwah Rasulullah s.a.w.

Sebenarnya, kata-kata Waraqah bin Naufal ini menyisakan pengaruh yang sangat kuat dalam diri saya dan banyak ikhwah. Seorang yang sudah sangat tua menantang dunia seisinya demi menolong Rasulullah s.a.w. bahkan sempat berharap menjadi orang yang pertamakali masuk Islam dan yang pertama kali mengikuti Rasul s.a.w. yang mulia, sampai walau Mekkah terguncang. Itu pun tidak cukup! Ia masih meneriakkan dengan lantang dihadapan orang-orang musyrik, sekiranya Allah memanjangkan umurnya sampai hari itu tiba, niscaya akan dapat disaksikan upaya dahsyat darinya demi menegakkan kebenaran dan membela Rasul s.a.w. mesti orang-orang kafir menghalangi. Ia tidak takut kepada celaan selagi berada di jalan Allah.

Kalimat Waraqah benar-benar mengalirkan darah muda semangatnya di dalam dada saya, sesuatu yang selama ini saya dan para aktivis selalu mencari-carinya, padahal saya masih muda. Saya merasa Waraqah benar-benar siap untuk memerangi dunia seisinya sendirian demi membela Rasul s.a.w. yang mulia. Masih banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari kisah Waraqah bin Naufal. Saya berharap semoga Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menampilkannya dalam sebuah risalah khusus.

Benarlah kata orang,“Apabila jiwa-jiwa itu besar, Tubuh akan lelah memenuhi keinginannya.”

Semoga Allah merahmati orang yang mengucapkan kalimat berikut,“Wahai orang yang meminang bidadari surga tetapi tidak memiliki—sepeser—pun semangat, jangan anda bermimpi! Telah sirna manisnya masa muda yang tersisa tinggallah pahitnya penyesalah.”

Benar juga Ibnu Qayyim yang pernah berkata,“Wahai orang yang bersemangat banci. Ketahuilah, yang paling lemah di papan catur adalah budak. Namun jika ia bangkit ia bisa berubah menjadi menteri.”

* * *

FOOT NOTE :

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 6/21, Muslim 13/48, at-Tirmidzi 3200, an-Nasa’i, dan Ahamd dalam Musnad 3/194 dari Anas bin Malik r.a. di akhir hadits, Anas berkata, “Kami menyangka berkenaan dengannya dan orang-orang yang semisal dengannya ayat ini turun. (Al-Ahzab [33] : 32)

[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 13/14, Ahmad dalam Musnad 3/11 dari Abu Hurairah r.a.

[3] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi seperti tertera dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 6/111

[4] Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam ath-Thabaqat 3/82 dari Muhammad al-Abdari dari ayahnya katanya, “Mush’ab bin Umeir dulu seorang pemuda Mekah yang paling ganteng.”

[5] Biografi Shalahuddin berjudul “an-Nawadir as-Shulthaniyyah wal mahasin al-Yusufiyyah” karya Baha’uddin yang lebih dikenal dengan Ibnu Syidad (633 H) hal.16cet. Muhammad Shabih th. 1346 H.

[6] Berkenaan dengan ini ada tiga atsar; dari Malik bin Dinar katanya, “Ketika ‘Umar bin Abdul ‘Azziz memerintah, para pengembala kambing di puncak-puncak gunung pernah bertanya, “Siapa pemimpin shalih yang sedang memimpin manusia saat ini?” maka ada yang balik bertanya, “Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu?” Mereka menjawab, “Begini, jika seorang khalifah shalih memerintah, kami mendapati serigala dan singa enggan memangsa ternak kami.” Atsar ini setidaknya sederajat hasan. Di antara para perawinya ada Ja’far adl-Dlab’iy yang katanya cendernung kepada Syi’ah. Hanya saja para imam ahli jarh wa ta’dil lebih cenderung untuk menguatkan hadits-hdaitsnya dan mengkategorikannya sebagai hadits hasan. Atsar ini dan dua atsar tersebut di atas dapat dibaca dalam Hilyatul Aulia’ karya Abu Nu’aim 5/255 dan dalam sirah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz karya Ibnul Jauzi hal.70 cet.Al-Muyyad th. 1331 H.

[7] Ibnu Jauzi menyebutkan ini dalam Sirah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz hal.99 dari jabir bin Hanzhalah adl-Diab’iy. Disebutkan bahwa yang menulis surat itu adalah “Adi bin Artha’ah.”

[8] Diriwayatkan oleh Abu Yusuf falam kitab al-Kharaj hal.142 dari para ulama Kufah dengan sedikit perbedaan lafazh.

[9] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari ‘Abdullah bin Kharijah bin Zaid bin Tsabit dari saib bekas budak ‘Aisyah binti ‘Utsman. Sirah Ibnu Hisyam vol. 2 hal. 101. Dari al-Waqidi, Ibnu Sa’ad dalam kitab. Thabaqat 3/21 menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Sahal dan saudaranya Rofi’ bin Sahal r.a. dalah dua orang turut keluar sampai daerah Hamra’ul Asad dalam keadaan terluka parah. Salah satu dari mereka menggendong yang lain. Keduanya tidak memiliki binatang tunggangan.

[10] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1/22, Muslim 2/204, Ahmad 6/233 dari ‘Aisyah r.a.

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s