Nasehat Ke Empat Belas “AMAL ISLAM BUKANLAH AKTIVITAS SESAAT”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam14

“Perkara amal Islami sebetulnya sama dengan perkara `ubudiyah (ibadah) kepada Allah yang sebenarnya. Oleh karena itu, semestinya seorang muslim tidak melepaskan diri dari amal Islam kecuali bersamaan dengan keluarnya ia dari kehidupan ini.”

AMAL ISLAMI BUKANLAH AKTIVITAS SESAAT!

            Amal Islami bukanlah aktivitas yang cukup di kerjakan di saat anda memiliki waktu luang dan bisa anda tinggalkan saat sibuk. Tidak! Amal Islam terlalu agung dan mulia jika mesti diperlakukan begitu.

            Perkara ‘intima (memperdalam) kepada dien ini terus saja jauh lebih serius dari pada yang seperti itu. Islam tidak seperti klub ilmiah, klub olahraga atau kepanduan yang cukup dikerjakan saat telah lulus. Atau cukup dikerjakan saat masih bujang dan boleh ditinggalkan saat telah menikah. Atau anda curahkan waktu sebelum anda mendapat pekerjaan dan ditinggalkan setelah mendapatkannya, atau anda membuka klinik, apotek, brio konsultasi, atau anda disibukkan dengan pelajaran-pelajaran khusus, maka anda boleh meninggalkannya atau meremehkannya. Sekali-kali tidak! Amal Islam bukanlah seperti itu.

            Perkara Amal Islam sebetulnya sama dengan perkara ‘ubudiyah (ibadah) kepada Allah yang sebenarnya. Oleh karena itu, semestinya seorang muslim tidak melepaskan diri dari amal Islami kecuali bersamaan dengan keluarnya ia dari kehidupan ini. Bukankah Allah telah berfirman: Sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian) (Al-Hijr [15] : 99)

            Sampai datang kematian! Al-Qur’an tidak mengatakan “Sembahlah Rabbmu sampai kamu keluar dari Universitas atau saat menjadi pegawai negeri atau sampai kamu menikah atau sampai kamu membuka klinik atau sampai kamu membuka biro konsultasi dst.”

            Para pendahulu kita, as-Salafus Sholeh memeahami benar hakikat yang sederhana namun sangat urgen dalam dienullah ini.

            Kita dapati ‘Ammar bin Yasir, beliau berangkat perang saat usia beliau mencapai 90 tahun. “Perang!” bukan berdakwah, mengajar orang-orang atau ber-amar makruf nahi mungkar. Beliau berangkat perang saat tulang-belulang beliau sudah rapuh, tubuh telah renta, rambut telah memutih, dan kekuatan sudah jauh berkurang.

            Adalah Abu Sufyan masih membakar semangat pasukan untuk berperang saat usia beliau 70 tahun.

            Begitupun dengan Yaman, Tsabit bin Waqqash. Keduanya tetap berangkat ke medan ‘Uhud meski telah lanjut usia dan meski Rasulullah s.a.w. menempatkan mereka bersama kaum wanita, dibagian belakang pasukan.

            Mengapa kita mesti pergi jauh?! Bukankah Rasulullah s.a.w. telah melaksanakan 27 pertempuran[1]. Semua peperangan itu beliau alami setelah usia beliau 54 tahun. Bahkan perang Tabuk, perang yang paling berat bagi kaum muslimin, diikuti dan dipimpin langsung oleh beliau saat umur beliau telah mencapai 60 tahun.

            Bagaimana dengan keadaan kita hari ini?! Kita dapat saksikan banyak sekali ikhwah yang meninggalkan Amal Islam setelah lulus kuliah, menikah, sibuk dengan perdagangan, tugas, dsb.

Kepada mereka, Sesungguhnya urusan dien dan Islam itu bukan urusan main-main.

            “Mereka menyangka remeh, padahal menurut Allah itu amatlah besar” (Qs. An-Nur [24] : 15)

            Saya katakana kepada mereka, Mana janji kalian?! Janji yang telah kalian ikrarkan di hadapan Allah dan dihadapan orang banyak dulu?!

            “Adalah janji kepada Allah pasti akan dimintai” (Al-Ahzab [33] : 15)

             Mana sajak pendek yang selama ini sering kalian perdengarkan?!

            Di jalan Allah kami tegak berdiri mencitakan panji-panji menjulang tinggi bukan untuk golongan tertentu, semua amal kami bagi dien ini, kami menjadi pejuang sejati sampai kemuliaan dien ini kembali atau mengalir tetes-tetes darah kami.

             Saya katakana kepada mereka, Sesungguhnya akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi orang yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan. Sesungguhnya membatalkan janji kepada Allah adalah dosa yang terbesar di sisi Allah dan di pandangan orang-orang yang beriman.

            “maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri” (Qs.Al-Fath [48] : 10)

             Siapa pun yang dikuasai nafsu ammarah bissu’ (nafsu yang mengajak kepada kejelekan) ditipu oleh syetan atau mengundurkan diri dari medan amal Islam hendaklah merenungkan firman Allah ini:

            “Dan diantara mereka ada orang-orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (Qs.At-Taubah [9] : 75-76)

             Kemudian hendaklah pula merenungkan firman Allah tentang hukuman yang akan diterima.

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (At-Taubah [9] : 77)

             Sesungguhnya perkara amal Islam adalah perkara yang sangat Urgen. Sayangnya, Sebagian mereka yang lemah imannya (beberapa di antaranya bergabung saat masih kuliah) beranggapan bahwa amal Islam itu tidak ubahnya dengan serikat dagang untuk satu masa tertentu. Begitu masa kuliah selesai, selesai pulalah amal Islam. Atau mereka menyangka Amal islam adalah masa terjalinnya persahabatan atau pertemanan saat masih kuliah yang selesai begitu saja saat lulus. Semuanya selesai, tuntas!

            Saya sebut mereka disini sebagai orang-orang yang lemah imanya karena biasanya penyakit itu bermula dari lemahnya iman. Sakitnya hati, lemahnya semangat, dan tidak mengakarnya iman yang terletak di dalam hati, bukan di akal. Seringnya (bahkan selalunya) kerusakan itu terletak pada hati bukan akal; disebabkan oleh bolongnya iman, bukan kurangnya ilmu; karena syahwat bukan syubhat, dan buah dari cinta dunia, bukan kurangnya kesadaran. Maka siapa yang ingin menjalani terapi atau berobat, semestinya memparhatikan hatinya, membersihkan dari berbagai kotoran dan mengobati penyakit-penyakit itu.

            Sayangnya, sedikit sekali dokter dizaman ini. Tentu saya meksud adalah dokter untuk penyakit hati. Kalau dokter penyakit jasmani, banyak sekali jumlah mereka, namun parah sekali juga penyakit yang menimpa mereka.

            Sesungguhnya seseorang yang berbalik dari kebenaran setelah mengetahui adalah seorang yang mendahulukan kelezatan sesaat dan kesenangan semusim serta mencari kegembiraan dengan membayar kesedihan sepanjang massa, menceburkan diri ke sumur maksiat, dan berpaling dari cita-cita yang mulia kepada keinginan rendah lagi hina… selanjutnya ia akan berada di bawah kungkungan syetan, di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu.

            Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya mendapati keadaan orang-orang seperti mereka jauh lebih buruk daripada kaum muslimin pada umumnya. Kiranya itulah hukuman Allah bagi mereka.

Bagai rajawali yang rontok bulu-bulunya

Setiap kali melihat burung terbang

Ia melihat segala kegagalannya

* * *

FOOT NOTE :

[1]  Muhammad bin Ishaq berkata, “Jumlah seluruh perang yang dikomandai oleh Rasulullah saw. adalah 27.” Lalu beliau menyebutkannya satu persatu. Al-Bidayah wan Nihayah 5/217

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s