Nasehat Ke Lima Belas “JANGANLAH DILIHAT DARI JUMLAH YANG BANYAK”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam15

“Sesungguhnya yang dikehendaki Islam adalah sebagian besar waktumu, seluruh hartamu, dan segarnya masa mudamu, Islam menghendaki dirimu, seluruhnya. Islam menghendaki saat kamu bertenaga, bukan saat telah loyo. Islam menghendaki masa mudamu, masakuatmu, masa sehatmu, dan masa perkasamu, bukan masa rentamu. Islam menghendaki semua yang terbaik, termulia, dan teragung darimu.”

JANGAN DILIHAT DARI JUMLAH YANG BANYAK

Hari ini kita telah melihat jumlah ikhwah multazim (yang tinggal menetap) yang banyak sekali—di Mesir—sampai-sampai kita bisa melihat di suatu kota, ada ratusan ikhwah disana! Meski jumlah mereka luar biasa, namun jika anda mencoba untuk menghitung jumlah personal yang aktif, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat, sehingga pantas disebut sebagai—Aktivis Islam—niscaya anda akan mendapati jumlah mereka tidak mencapai seratus orang. Bahkan anda dapat menghitung dengan mudah dan menyebutkan nama-nama mereka.

Lalu, mana kerja, usaha, dan sumbangsih sekian ribu multazim itu? Mana dakwah, hisbah, dan jihad mereka?

Mereka mengambil peran sebagai penonton, tak lebih. Mereka merasa cukup sekedar telah berpindah dari jahiliyah kepada Islam. Setelah itu, mereka berhenti di titik ini, tidak ingin meninggalkannya, tidak berhasrat untuk meningkat ke titik berikutnya, bahkan untuk sekedar mempersiapkan diri mereka sehingga nantinya mereka sanggup melangkah dan memberikan sumbangsih dalam berbagai bidang amal Islam.

Jika salah seorang dari mereka anda tanyai, apa sumbangsih mereka terhadap Islam?, amal apa yang telah mereka kerjakan di jalan dien ini?, apa yang telah dipersembahkan kepada jama’ah sejak mereka beriltizam sampai hari ini, mereka pun diam seribu bahasa.

Kita dapati mereka cukup dengan menjadi pendengar saja. Merasa cukup dengan menghadiri halaqah (perkumpulan), pertemuan, muktamar, membaca edaran, dan buletin yang diedarkan, lalu sudah.

Atau menjadi seorang pasif tanpa sumbangsih?

Dilihat dari sisi amal Islam manapun, mereka tetap menjadi sosok yang benar-benar tidak serius dalam mempersiapkan diri. Beberapa tahun berlalu mereka hanya menyelesaikan sebuah atau dua buah buku Islam yang semestinya di selesaikan dalam waktu paling lama satu pekan oleh orang-orang yang serius dan tekun.

Problem seperti inilah yang membuat tak tergalinya berbagai potensi untuk Islam dan dien. Potensi yang semestinya tampak nyata di semua bidang amal Islam, dakwah dan jihad.

Orang-orang yang hanya menyumbang sisa waktu, membelanjakan sedikit sekali kekayaan, serta mengerahkan upaya yang sangat minim untuk Islam ini semestinya tahu bahwa Allah itu maha baik, dan hanya menerima yang baik[1]. Sebagai mana Allah tidak menerima sedekah yang buruk, Allah pun tidak menerima amal yang buruk, jika itu sengaja dipilih untuk Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(Qs Al-Baqarah [2] : 267)

Sesungguhnya yang dikehendaki Islam adalah sebagian besar waktumu, seluruh hartamu, dan segarnya masa mudamu, Islam menghendaki dirimu, seluruhnya. Islam menghendaki saat kamu bertenaga, bukan saat telah loyo. Islam menghendaki masa mudamu, masa kuatmu, masa sehatmu, dan masa perkasamu, bukan masa rentamu. Islam menghendaki semua yang terbaik, termulia, dan teragung darimu.

Tidakkah kau lihat Abu Bakar Ash-Shiddiq radiullahuanhu menginfakan seluruh hartanya di jalan Allah dan demi dakwah Islam, lalu ketika Rasulullah saw. bertanya: “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?”, beliau menjawab: “Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Tidakkah kau lihat Utsman bin ‘Affan membekali seluruh pasukan perang Tabuk sendrian[2]? Coba bayangkan, seorang diri membelikan seluruh pasukan perang dengan senjata, perlengkapan, bekal, kuda, onta dan kebutuhan logistiknya. Padahal jumlah pasukan saat itu lebih dari 10.000 personil.

Coba bandingkan sumbangsih agung ini dengan realita kita hari ini. Kita bisa mendapati banyak orang Islam yang kaya raya hari ini bahkan dari kalangan multazim namun kita kesulitan untuk mendapati seseorang yang menanggung seluruh “dana” dakwah. Saya katakan “dakwah” bukan “jihad”. Mengapa? Sebab jihad membutuhkan harta yang tak terbatas.

Kita bisa mendapti seorang ikhwah yang bekerja disalah satu negara di kawasan Teluk selama empat atau lima tahun, hidup berkecukupan, dan ia pun tahu persis apa yang dibutuhkan oleh amal Islam dan saudara-saudaranya. Ia pun tahu bahwa kebanyakan keluarga ikhwah yang diuji di jalan Allah jumlah mereka ribuan sangat membutuhkan bantuan. Namun demikian, ia tidak berfikir untuk berjihad dengan hartanya di jalan Allah setidaknya sebagai ganti atas ketidakhadirannya untuk berjihad dengan nyawanya selama sekian tahun itu. Ia pun tidak berpikiran untuk membantu keluarga para mujahid, meninggalkan bagi keluarga mereka sesuatu yang baik. Mereka tidak memikirkan hal itu sedikit pun. Jika ada yang mengingatkannya ia pun menginfakkan beberapa dinar/dirham/rupiah yang tidak cukup, hanya sekedar untuk mengusir rasa lapar jumlah yang lebih baik ditolak daripada diterima, jumah yang jauh dari jumlah yang dikeluarkannya untuk keperluan bahan bakar kendaraannya dalam satu hari!!!

Sesungguhnya Islam membutuhkan orang yang memberikan segalanya untuk diennya, kehidupannya, waktunya, hartanya, tenaganya, ruhnya, rumahnya, mobilnya, dan semua yang dimilikinya. Kita menghendaki seseorang yang—menjual dirinya kepada Allah—dengan keutuhan makna kalimat ini. Kita menghendaki seseorang yang setiap harinya membawa sesuatu yang baru untuk dipersembahkan kepada Islam.

Bukankah Mush’ab bin Umeir, seorang pemuda perlente yang selalu harum dan mengenakan pakaian terbaik, seorang pemuda yang ditunggu-tunggu oleh setiap gadis Quraisy karena ketampanannya, penampilannya, kemuliaannya, dan nasabnya bukanlah ketika ia memeluk Islam ia persembahkan semuanya, ia berikan semuanya, tanpa ada sesuatupun yang disimpannya? Samapai-samapi ia memakai baju yang penuh tambalan saat hidup, dan di saat mati, kaum muslimin tidak mendapati kain untuk mengkafaninya?

Sepanjang hidupnya Mush’ab selalu menghadirkan sumbangsih untuk Islam dibidang dakwah dan jihad. Ia adalah da’i Islam yang pertama di Madinah. Ia adalah orang yang menyebabkan kebanyakan penduduk Madinah mendapatkan hidayah. Ia adalah pelatak pertama bangunan daulah Islam di Madinah. Selain itu ia juga seorang pejuang agung, pembawa panji di medan Uhud, sekaligus salah satu Syuhada’ teragung disana. Itulah sumbangsih yang sebenarnya bagi Islam, dien, dan jama’ah Islam.

Selayaknya setiap muslim bertanya kepada dirinya sendiri setiap waktu.

Berapa banyak orang yang telah mendapatkan hidayah dari Allah melalui perantara dirinya pekan ini?!

Berapa desa yang telah dimasukinya guna menyeru penduduk-penduduknya kepada Allah?!

Sudahkah kerabat dekat, tetangga, dan orang tua di dakwahi?!

Adakah langkah ini maju menuju pemahaman dan pengalaman Islam yang lebih baik?!

Berapa banyak harta yang diinfakkan bagi kaum muslimin dijalan Allah dalam sepekan ini?!

Berapa banyak keluarga dari keluarga Syuhada yang tengah diuji sudah mendapatkan bantuan, tenaga, harta, materi, dan dorongan moral?!

Berapa banyak keluarga Syuhada yang telah dipenuhi kebutuhannya?!

Berapa malam dihabiskan untuk memikirkan amal Islam secara umum, di kota atau desa tempat tinggal secara khusus?! atau kota dan desa terdekat?!

Beberapa kali telah berperang menghadapi musuh-musuh Islam dan meninggalkan sesuatu yang berarti pada merka?!

Berapa kali membela kaum muslimin, dengan darah dan kehormatan mereka?!

Berapakali mengunjungi orang sakit dan mengajak mereka kepda Islam?! atau memperbaiki hubungan yang renggang antara dua orang yang tengah berseteru?! atau mengunjungi ikhwah fillah?! atau menyeru kepada Allah dalam perkara ini?!…Dan masih banyak pertanyaan lagi untuk berintropeksi dari waktu ke waktu…

Dengan menjawab secara jujur, anda akan tahu seberapa serius kelalaian dan peremehan yang anda lakukan berkenaan dengan haq Allah dan dengan itu pula anda akan mencoba untuk memperbaikinya seebelum Allah terlanjur menjatuhkan hukuman-Nya kepadamu dan menghalangimu dari beramal bagi dien-Nya dan menjadi bagian dari jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan diperintahkan kita untuk mengikutinya “Katakanlah: “Inilah jalan (dien) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs.Yusuf [12] : 108)

Dan jalan orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk mendapatkan keridhaan Allah.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Qs. Al-Baqarah [2] : 207)

Bagaimana pendapat anda jika ada seorang buruh pabrik, ia tidak mengerjakan apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa, kerjanya hanya mengisi daftar hadir di pagi hari. Ia tidak menghabiskan waktunya di pabrik bersama teman-temannya yang bekerja dengan giat penuh semangat. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh pemilik pabrik terhadap buruh yang satu ini? Pasti ia akan memecatnya seketika…

Begitupun dengan ikhwah yang tidak memahami Islam selain makna baju gamis dan memanjangkan jenggot. Ia pasif dan tidak mempersembahkan sesuatu pun untuk Islam, kalaupun memberi hanya sedikit atau tidak baik.

Berapa gelintir pemuka dan ikhwah yang aktif untuk Islam dengan kegiatan dan sungguh-sungguh, sekali-kali tidak akan mampu menegakkan daulah Islam sendirian, seberapa pun usaha dan tenaga yang mereka kerahkan. Pun tidak akan mampu mengemban seluruh beban amal Islami di negeri yang luas ini. Apalagi semua tahu tindakan yang diambil oleh thogut untuk menghadapi para aktivis Islam. Tindakan yang menjadikan sekian ikhwah di hadapkan pada ujian yang berat dari waktu ke waktu, sehingga mereka meninggalkan ruang kosong yang semestinya diisi. Operasi yang mereka lakukan membuat gerakan ikhwah untuk lebih mengerahkan tenaga lagi, lebih meningkatkan diri dalam medan amal Islam dan mengupayakan sumbangsih supaya ia lebih mampu mengemban tanggung jawab amal Islam, dan belajar bagaimana berdakwah, mentarbiyah, mengenakan hisbah, jihad, dan menggerakan orang lain, dan semua skill yang dibutuhkan.

Seorang ikhwah selayaknya tidak berdiam dirumah, mengandalkan orang lain yang akan mengambil peran itu. Sebab siapa yang akan datanag?! Semestinya ia berupaya (semampunya) untuk melaksanakan berbagai bentuk amal Isalm dengan semangat, giat, kuat, responsif, tekun, dan serius. Agar terbukti kata seorang penyair:

Kau lihat sekumpulan manusia, tetapi tak kau lihat seorangpun. Kadang kau lihat semangat 1.000 orang, hanya ada pada seseorang.

Sesungguhnya hari ini Islam membutuhkan seseorang yang mengorbankan segalanya, membelanjakan semua miliknya di jalan Allah, dan umurnya lillah, untuk memengangkan Dien-Nya.

Hari ini Islam membutuhkan orang yang berkata dari nuraninya seperti ucapan Sa’ad bin Mu’adz kepada Rasulullah saw. saat perang Badar, hari berat pertama yang dilalui oleh daulah Islam yang baru saja lahir di Madinah Munawwaroh Sa’ad berkata: “Silahkan mengalahkan, wahai Rasulullah, kemana pun anda suka. Kami akan bersama dengan anda. Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya anda bawa kami ke tepi laut, lalu anda menceburkan diri kedalamnya, niscaya kami semua akan menceburkan diri bersamamu, tiada satupun yang akan ketinggalan. Sedikitpun kami tidak enggan untuk anda pertemukan kami dengan musuh-musuh kita esok hari.”[3]

Ia juga berkata: “Sambunglah tali siapa yang anda suka, putuskanlah tali siapa yang anda tidak suka, dan ambilah harta kami sesuka anda[4], sesungguhnya apa yang anda ambil lebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan.”[5]

Sungguh kalimat di atas adalah kalimat agung yang pernah diucapkan oleh seorang tentara kepada komandanya sepanjang sejarah. Kalimat yang dialiri kehidupan, gerakan dan kejujuran. Meski masa telah berlalu lebih dari 14 abad. Masya Allah bahwa Dia mengabadikan pengruhnya sampai hari kiamat tiba. Sesungguhnya itu ungkapan jujur dari sesuatu yang menjalar dalam rasa dan jiwa sekelompok kecil orang-orang beriman dari kalangan Anshar di bawah kepemimpinan seorang yang agung, Sa’ad bin Mu’adz. Kalimat yang telah diteriakan oleh hati Sa’ad sebelum diteriakan oleh lisannya yang jujur. Dan kalimat ini pun membawa pengaruh yang dalam pada diri Rasul mulia, sang panglima saw. Beliau benar-benar berbahagia dan bertambah semangat dalam berperang di karenakan perkataan Sa’ad ini beliau bersabda: “Maju dan Bergembiralah! Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok. Demi Allah, kini aku seakan-akan melihat saat kekalahan mereka.”[6]

Islam saat ini membutuhkan pasukan yang hati dan lisannya meneriakan teriakan Sa’ad bin Mu’adz di setiap tempat. Tentu saja lengkap dengan kejujurannya. Pasukan yang dari nurani mereka terucap kata-kata pahlawan perkasa Miqdad bin ‘Amru, tertuju kepada panglima kebenaran. Saat kepada Rasulullah saw. Miqdad berkata: “Wahai Rasulullah, melangkahlah kearah yang ditunjukan Allah kepada anda, kami selalu bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan ucapan bani Israil kepada Musa

“karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua!, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.”(Qs. Al Maa’idah[5] : 24) Kami katakan: “Pergilah kamu bersama Rabbmu, lalu berperanglah! Sungguh, kami akan berperang bersamamu!”[7]

Katakan kepada mereka: “Kami tidak akan duduk di bangku cadangan ketika kalian beramal di jalan Allah, berdakwah, berammar ma’ruf nahi munkar, menyuarakan kebenaran, dan berjihad fi sabilillah. Kami akan selalu bersama kalian berperang sendirian. Kami akan selalu berperang berasama kalian, mengerahkan seluruh kekuatan, membelanjakan seluruh kekayaan, dan memberikan sumbangsih bersama kalian. Melangkah sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya! Melangkah sesuai petunujuk Allah dan Rasul-Nya!

Hari ini Islam menghendaki setiap muslim berujar kepada dirinya sendiri, “Apakah pantas aku beristirahat, sementara saudara-saudaraku berpayah-payah di jalan Allah? apakah pantas aku tidur nyenyak sementara saudara-saudaraku disiksa di jalan Allah? Apakah pantas aku tinggalkan amal Islam sementara aku melihat kesulitan berat melawan musuh sedang dihadapi oleh umat Islam?

Islam menghendaki seseorang yang mengucapkan kata-kata Abu Khaitsmah saat ia terlambat menyusul Rasulullah saw. ke medan Tabuk, “Rasulullah saw. di bakar terik matahari, angin badai, dan panas yang menyengat. Sementara Abu Khaitsamah di bawah naungan sejuk, makanan tersaji, dan istri yang cantik, menunggui hartanya. Sungguh ini sangat tidak pantas.”[8]

Kalimat-kalimat yang agung ini mestinya digunakan oleh setiap muslim, khususnya ikhwah multazim. Kepada diri mereka selayaknya ia berkata: “Saudara-saudaraku seiman kini disiksa, sebagian lagi diusir dan tidak mendapat tempat tinggal, dan sebagian yang lain dibunuh dan diintimidasi. Sedangkan aku? aku bergelimang kenikmatan, aku makan apa yang aku mau, aku minum minuman yang paling menyegarkan, di ruangan yang sejuk penuh dengan kenikmatan. Aku tidak sedikitpun memberikan sumbangsih untuk Islam. Sebaliknya aku justru meninggalkan saudara-saudaraku memang itu semua beban berat! Ini benar-benar tidak pantas dan tidak adil. Demi Allah aku akan menyusul saudara-saudaraku, berjihad bersama mereka, mengerahkan segenap upaya di jalan Allah bersama mereka. Aku akan rasakan. Aku akan menanggung beban sebagaimana mereka menanggungnya.

Sesungguhnya Islam menginginkan kalian meneladani Rasulullah saw. yang di perintah oleh Allah untuk mengatakan: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (Qs. Alam Nasyrah [94] : 7) Maksudnya, jika telah menyelesaikan suatu perintah hendaknya selalu memperbaharui semangat untuk mengerjakan perintah yang lain.

Betapa pentingnya kita membutuhkan arahan semacam ini. Arahan yang dapat di implementasikan dalam amal Islam, niscaya kita akan dapat melangkah dengan sangat cepat  menuju jalan kemenangan dan kejayaan. Arahan yang bunyinya: “Tidak ada waktu istirahat bagi seorang muslim atau program untuk itu. Jika kamu telah menyelesaikan satu perintah, segera kerjakan yang lainnya. Jika kamu telah menyelesaikan suatu amal untuk Islam, jangan sampai tanganmu berhenti karena suatu sebab atau yang lain semacam ‘ujub (bangga diri) membicarakannya, merenungkannya, membanggakannya, atau merasa cukup dengannya. Sebaliknya segeralah mengerjakan amal yang lainnya, begitu seterusnya. Sesungguhnya jika kereta amalmu untuk Islam telah berjalan, jangan sekali-kali menghentikannya, walau sesaat karena sesuatu hal. Jika kamu melakukannya dikhawatirkan kereta itu tidak dapat berjalan lagi selamanya, dan kalaupun berjalan, ia akan berjalan dengan susah payah. Sesungguhnya kebaikan itu akan menunjukan kepada kebaikan yang lain, ketaatan itu akan mengajak kepada ketaatan yang lain, dan kesalahan itu akan menghantarkan kepada kesalahan yang lain. Begitupula halnya dengan kemalasan dan menganggur.”

Ingatlah selalu berada disalah satu garis perbatasan Islam. Jangan sampai Islam diserang dari arahmu! Jangan sekali-kali lengah akan kedudukanmu walau sesaat. Jika kamu melakukannya, sungguh, musuh akan menyergapmu, membunuhmu, dan membunuh orang-orang bersamamu, juga yang ada dibelakangmu!

Barang siapa tidak menyirami kebunnya sekali atau beberapa kali, niscaya akan di tanamnya. Karena itulah, seorang ikhwah semestinya menyambung malamnya, siangnya, paginya, sorenya, musim panasnya, dan musim dinginnya dengan amal di jalan Allah.

Bukankah Rasulullah saw. pun berperang 27 kali setelah usia beliau melebihi 50 tahun. Itu belum ekspedisi-ekspedisi yang hendak beliau pimpin langsung, jika tidak khawatir akan memberatkan para sahabatnya, sebagaimana tersebut dalam hadits[9]. Saya pernah mencoba meneliti dalam berkas-berkas yang ada tentang orang yang paling banyak jihad dan keshalehannya di zaman kita ini. Saya tidak mendapati seorang pun menyamai jihad Rasulullah saw. meski itu dihitung sejak ia masih muda, masih belia.

Dimana orang yang meneladani Rasulullah saw.?

Dimana para pewaris Nabi itu?

Dimana orang-orang yang berjalan di jalannya, mengikuti jejak langkahnya? Sungguh Manusia itu bagai seratus onta, hampir-hampir tidak ada satupun yang dapat dikendarai.

Keadaannya persis seperti sabda Rasulullah saw. dan kami masih terus mencari onta yang dapat dikendarai, yang siap menempuh jalan berat, cuaca yang buruk, dengan makanan yang sedikit, dan beban yang berat.

* * *

FOOT NOTE :

[1]  Diriwayatkan oleh Imam Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad dari Abu Hurairah r.a.

[2]  Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi  dan disahihkannya 3699 dari Abdurahman as-Sulamiy. Di dalamnya ada kata-kata ‘Utsman r.a., “Saya ingatkan kalian kepada Allah! Apakah kalian tahu bahwa Rasulullah saw. bersabda perihal pasukan ‘Usrah, ‘Siapa yang mau infaqnya diterima?’ saat itu orang-orang dalam kesulitan, lalu aku membekali pasukan itu?”Mereka menjawab,”Ya.”

[3]  Diriwayatkan oleh Ibnu Isaq tanpa sanad. Sirah Ibnu Hisyam vol. I/615

[4]  Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih dalam tafsirnya dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Alqamah bin Waqash al-Laitsiy dari ayahnya dari kakeknya. Demikian tersebut dalam Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 3/264

[5]  Ini tambahan versi al-Umawiy dalam al-Maghazi

[6]  Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq tanpa sanad, Sirah Ibnu Hisyam vol. I/615

[7]  Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq tanpa sanad, Sirah Ibnu Hisyam vol. I/615, ada juga al-Bukhari 7/233, dan Ahmad 1/390 yang mirip dengannya dari hadits Ibnu Mas’ud

[8]  Ibnu Hisyam menyebutnya dari Ibnu Ishaq dalam sirah vol. II/520 tanpa sanad. Muslim meriwayatkan 2769ari Ka’ab bin Malik, katanya, “Saat itu beliau melihat seseorang dari kejauhan menyirnakan fatamorgana . lalu Rasulullah saw. bersabda, ‘Semoga itu Abu Khaitsamah!’ dan ternyata itu adalah Abu Khaitsamah al-Anshariy.”

[9]  Diriwayatkan oleh al-Bukhari 192, Muslim 13/20-23, an-Nasa’iy 6/32, Ibnu Majah 2753 , dan Ahmad 2/231 dari Abu Hurairah r.a. beliau bersabda, “Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya bukan karena kawatir memberatkan kaum muslimin, aku tidak akan duduk membiarkan berangkat ekspedisi berangkat, berperang di jalan Allah.” Ini adalah lafazh Muslim.

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s