Nasehat Ke Enam Belas “USAHAKAN FAKTOR-FAKTOR KEMENANGAN”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam16

“Akan senantiasa ada satu thaifah (kelompok) dari umatku yang berdiri kukuh di atas kebenaran. Orang-orang yang menghinakan mereka tidaklah mendatangkan mudharat bagi mereka. Sampai tiba keputusan Allah, mereka tetap dalam keadaan itu.”

USAHAKAN FAKTOR-FAKTOR KEMENANGAN

            Pertolongan Allah itu sangatlah mahal dan tidak diberikan kepada sembarang muslim. Pertolongan dari Allah hanya diberikan kepada satu thaifah (kelompok) khusus yang memiliki sifat-sifat tertentu. Thaifah ini telah dipersiapkan oleh Allah untuk mendapatkan pertolongan dari-Nya dan untuk melaksanakan perintah-Nya. Allah mentarbiyah mereka dengan tarbiyah khusus sehingga nantinya mereka layak dikuasakan dibumi dan sanggup untuk menegakkan dien dengan segala keistimewaan dien itu.

Thaifah yang akan mendapatkan pertolongan ini lah thaifah yang disebut oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Akan senantiasa ada satu thaifah dari umatku yang berdiri kukuh di atas kebenaran. Orang-orang yang akan menghina mereka tidaklah mendatangkan mudharat bagi mereka. Sampai tiba keputusan Allah, mereka tetap dalam keadaan itu.” [1]

Dalam memenangkan pertempuran melawan kelompok musuh, tahifah (kelompok) yang berdiri di atas kebenaran ini tidak pernah mendapatkan kemenangan itu dikarenakan jumlah mereka yang banyak. Sebaliknya, jumlah mereka selalu sedikit. Dan sepanjang zaman, ahlul-iman (orang mukmin) dapat mengalahkan musuh-musuh mereka bukan dengan jumlah dan bekal logistik mereka, tetapi mereka dapat memenangkannya dengan berbekalkan dien ini. Dien yang dengannya Allah memuliakan mereka, seperti yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Rawahah dalam perang Mu’tah:

Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka dengan Dien ini. Dien yang Allah memuliakan kita dengannya.[2]

Bahkan, jika anda memperhatikan semua kancah peperangan antara kaum muslimin dengan musuh-musuh mereka anda akan mendapati selalu jumlah dan perbekalan musuh. Kebenaran ada pada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau menulis surat kepada panglima perangnya ‘Amru bin ‘Ash. Bunyinya: “Semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan kepadamu! Surat mu yang mengabarakan bahwa Romawi telah mengumpulkan pasukannya yang jumlahnya sangat banyak telah sampai. Sesungguhnya Allah tidak memberikan kemenangan kepada kita kala bersama Nabi-Nya dangan banyak perbekalan dan jumlah pasukan. Dahulu, kita pernah berperang bersama Rasulullah sedangkan yang kita miliki hanyalah dua ekor kuda. Adapun kita sendiri waktu itu hanya berjalan dibelakang onta. Dalam perang Uhud yang disertai Rasulullah saw. pun kami hanya membawa seekor kuda yang ditunggangi oleh beliau. Meski demikian, Allah tetap memenangkan dan menolong kita atas orang-orang yang menyelisihi kita. Juga, ketahuilah bahwa manusia yang paling taat kepada Allah adalah orang yang paling benci kepada kemaksiatan. Maka, taatilah Allah dan perintahkan sahabat-sahabatmu untuk menaatinya!”[3]

Sungguh sunnatullah itu tidak berlaku bagi orang-orang tertentu saja. Baik untuk kemenangan maupaun kekalahan, keduanya ada sebabnya. Barangsiapa diberi taufiq oleh Allah hendaknya ia tidak mencela selain mencela dirinya sendiri.

“Bukan karena angan-angan kalian, bukan pula angan-angan ahli kitab, barang siapa mengerjakan kejahatan maka ia akan dibalas karena kejahatan itu.”(Qs An Nisaa'[4] : 123)

 Jika sebuah umat Islam menghajatkan kemenangan atas musuh-musuhnya, maka ia harus memenuhi sebab-sebab datangnya kemenangan. Sama seperti yang dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Memerinci sebab-sebab kemenangan secara detail akan menghabiskan banyak halaman. Karenanya kita hanya akan menyebutkannya secara global. Sebab-sebab yang melatarbelakangi seluruh kemenangan agung yang dicapai oleh para sahabat dan tabi’in.

Tersebut di dalam sirah, bahwa musuh-musuh para sahabat itu tidak pernah bertahan lama di dalam peperangan melawan mereka. Bahkan ketika Heraclius mendengar kabar bahwa Romawi telah bertekuk lutut, ia berkata: Celaka kalian! Coba ceritakan tentang musuh yang memerangi kalian itu! Bukankah mereka juga manusia seperti kalian?!” mereka menjawab: “Benar” “Jumlah kalian lebih banyak ataukah sebaliknya?” tanyanya lagi, “Bahkan jumlah kami berlipat-lipat lebih banyak daripada jumlah mereka di dalam setiap kancah.” jawab mereka. “Lalu, ada apa dengan kalian sehingga kalian menjadi pecundang?” salah seorang mereka menjawab: “Karena mereka semua bangun menunaikan shalat malam, mereka berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mereka beramar ma’ruf nahi munkar, serta mereka saling tolong-menolong. Juga karena kami semua meminum arak, berzina, melanggar yang haram, menyelisihi janji, berbuat gashab (mengambil sesuatu tanpa izin pemiliknya, akan tetapi masih ada maksud untuk mengembalikannya), berbuat zalim, menyebarkan permusuhan, meninggalkan hal-hal yang di ridhai oleh Allah, serta membuat kerusakan dimuka bumi.” “Benar yang kamu katakan., komentar Heraclius.[4]

Dengan kecerdasannya pembesar Romawi telah menyimpulkan tentang sebab-sebab kemenangan dan kekalahan. Ia menjelaskan bahwa pasukan muslimin telah memenuhi semua sebab untuk mendapatkan kekalahan, total. Maka Allah pun memberikan kemenangan bagi yang berhak dan menimpakan kekalahan bagi musuhnya.

Seorang mata-mata Romawi yang dikirim untuk mencari tahu kabar dan keadaan muslimin, menguatkan pernyataan di atas. Waktu itu menjelang penaklukan kota Syam, sepulang dari memata-matai pasukan muslimin ia melaporkan semuanya. Ia berkata: “Mereka adalah pendeta di waktu malam dan ahli kuda di waktu siang hari. Jika salah seorang anak raja mereka mencuri, mereka tetap memotong tangannya. Jika ia berzina ia pun dirajam, demi menegakkan kebenaran pada diri mereka.” petinggi yang dilapori pun berkata: “Apabila yang kamu katakan itu benar, perut bumi jauh lebih baik daripada berjumpa mereka di permukaannya. Yang aku ingin sekarang hanyalah, semoga Allah membiarkanku bertempur melawan mereka, lalu Dia menolongku, dan tidak pula menolong mereka.”[5]

Ada salah seorang pengikut setia Thulaihah Al-Asadiy yang menceritakan tentang sebab-sebab kemenangan dan kekalahan. Ketika Thulaihah melihat bayak sekali pasukannya yang menjadi pecundang di medan perang, ia berkata: “Celaka! Apa yang membuat kalian kocar-kacir begini?!” salah seorang pengikut setianya menjawab: “Saya beritahukan kepadamu apa yang membuatmu kalah total. Sesungguhnya tidak seorangpun dari mereka yang menginginkan sahabatnya terbunuh lebih dahulu. Kami benar-benar mendapati suatu kaum yang semuanya ingin kematiannya datang lebih dahulu daripada kematian sahabatnya!”[6]

Ada pula seorang mata-mata Romawi yang diutus oleh penguasa Damaskus. Ketika itu pasukan Muslimin datang dari arah Yordania. Mata-mata itu berkata: “Saya datang kepada anda usai berjumpa dengan kauum yang kurus kering, mereka mengendarai kuda-kuda pilihan, di malam hari mereka bagai pendeta, di siang hari mereka adalah penunggang kuda nan tangkas. Seandainya anda mengajak bicara orang yang ada di samping anda, niscaya ia tidak memahami apa yang mereka katakan karena begitu gagap gempita suara mereka oleh bacaan Al-Qur’an dan dzikir.” Lalu penguasa Damaskus itu menoleh kepada sahabat-sahabatnya seraya berkata: “Mereka mengamalkan sesuatu yang tidak mungkin kalian melakukannya.”

Setelah kita sama-sama mengerti keadaan tiap-tiap personal pasukan Islam, semoga anda bisa mengerti bagaimana mereka meraih kemenangan demi kemenangan dan apa yang menjadi sebab dari semua itu.

Di dalam Tarikh at-Tarbariy disebutkan, Ketika kaum muslimin menaklukan Madain mereka mengumpulkan semua harta rampasan perang. Ada seorang laki-laki membawa wadah untuk mengumpulkan lalu ia serahka kepada yang bertanggung jawab untuk selanjutnya dibagi. Orang-orang bertanya kepadanya, Wow kami belum pernah melihat yang seperti itu! Dari apa yang kami kumpulkan, tidak ada sesuatupun yang senilai dengannya atau bahkan mendekatinya. Apakah kamu ingin mengambil sesuatu darinya? laki-laki itu menjawab, Demi Allah, jika bukan karena Allah aku tidak akan mengumpulkannya. Maka orang-orang pun mengerti bahwa orang itu bukan sembarang Laki-laki. Mereka bertanya, siapakah anda ini? laki-laki itu menjawab, Demi Allah aku tidak akan memberitahu kepada kalian karena aku khawatir akan pujian. Dan tidak akan aku beritahukan kepada selain kalian karena aku khawatir akan sanjungan. Sungguh, aku memuji Allah dan ridha terhadap pahala dari-Nya. Lalu mereka menyuruh seseorang untuk membuntutinya sampai ketika ia berkumpul dengan teman-temannya, suruhan itu bertanya kepada mereka. Laki-laki itu adalah Amir bin Abu Qais.“” [7]

At-Tarbariy juga menyebutkan, Ketika pedang, ikat pinggang dan mahkota Kisra diserahkan kepada Umar, beliau berkata, Sungguh, kaum yang menyerahkan semua ini adalah kaum yang benar-benar beramanah.” Mendengar hal itu Ali ra. berkata,  sesungguhnya anda bersikap ‘iffah (menjaga diri) sehingga semua rakyat sepakat memilih sikap yang sama.[8]

* * *

FOOT NOTE :

[1]  Diriwayatkan oleh al-Bukhari 11/33, Muslim 16/101, at-Tirmidzi2872, Ibnu Majah 3990

[2]  Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq tanpa sanad, Sirah Ibnu Hisyam vol. II/375

[3]  Diriwayatkan oleh at-Thalaisy dari al-Waqidiy dari ‘Abdullah bin ‘Amru r.a.

[4]  Diriwayatkan oleh Ahmad bin Marwan al-Malikiy di dalam al-Mujalasah dari Abu Ishaq, seperti tersebut di dalam al-Bidayah 7/15

[5]  Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam as-Sunanul Kubra 8/175 dari az-Zuhriy

[6]  Diriwayatkan oleh Walid bin Muslim dari Yahya bin Yahya al-Ghassaniy dari dua orang kaumnya, al-Bidayah 7/15

[7]  Diriwayatkan oleh at-Thabarly dari Abu ‘Abdah al-‘Anbary 3/128

[8]  Diriwayatkan oleh at-Thabarly dari Qais bin al-Ajaliy 31/128

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s