Nasehat Ke Tujuh Belas “BERSIKAP “SHIDDIQ” LAH KEPADA ALLAH”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam17

“Seorang mukmin akan terus meningkatkan warisan nubuwwahnya sampai wangi iman, ikhlas, dan kejujurannya akan harum semerbak dan tumbuh ditempat dan masa yang dilaluinya. Bahkan pengaruhnya dapat di rasakan dari generasi ke generasi.”

BERSIKAP SHIDDIQ LAH KEPADA ALLAH

            Jika dalam dakwahnya seorang hamba bersikap shiddiq, jujur, kepada Rabb-Nya, sungguh itu akan berimplikasi terhadap dakwahnya dan orang-orang yang diserunya. Mereka akan dapat menyaksikan shiddiq sang da’i dengan mata kepala mereka serta merasakan dengan hati dan jiwa mereka. Mereka dapat menyaksikan hal itu dalam jiwa tenang milik sang da’i yang dipenuhi dengan ketentraman, kerelaan, dan kekhusyu’an. Mereka dapat menyaksikan semua itu dari pancaran wajahnya, kedua mata yang jujur, lisannya, dan kedua bibirnya yang jujur. Bahkan senyumannya pun demikian. Wajahnya dalam keadaan apapun tampak kejujuran menyeruak darinya.

            Objek dakwah akan melihat pada wajah da’i yang shiddiq kepada Rabbnya, kharismanya, wibawa dan sinar terang. Mereka akan melihat seluruh angggota badannya telah diliputi oleh kekhusyu’an dan ketenangan. Sampai-sampai seorang yang akan dida’wahi akan melihat wajah sang da’i lalu berkata: “inilah seorang yang jujur.” sebelum ia mendengarkan penuturannya, sebelum ia berbincang-bincang dengannya, sebelum ia berdiskusi dengannya.

         Bukankah pernah seseorang pergi menemui Rasulullah saw. lalu bertanya kepada beliau: “Anda kah Muhammad bin Abdullah?”, beliau menjawab: “Akulah yang mereka tuduh-tuduh itu. Demi Allah, Demi Allah, ini bukanlah wajah seorang pendusta!”

            Wahai saudaraku se-Islam, seberapa banyak anda mengambil warisan Nabi saw. kejujuran, keikhlasan, keimanan, dan amalannya yang agung sebanyak itu pulalah bagian anda. Sesungguhnya Nabi saw. tidak meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham. Yang beliau wariskan adalah dakwah yang diserukan, ilmu guna mentarbiyah diri pribadi dan orang lain, petunjuk, ketaqwaan, iman, khusyu, ikhlas, dan yakin.

            Besarnya bagianmu dari waisan Nabi itu berbanding lurus dengan kemudahan orang menerima seruanmu. Semakin banyak kamu mengambilnya semakin mudah orang mendapatkan hidayah karena mu.

            Sangat mungkin ada seorang mad’u yang beriltizam kepada Islam dan Aktif memperjuangkan hanya karena melihatmu, yang lain hanya karena duduk sesaat bersamamu, yang lain hanya karena kamu mengucap salam kepadanya dan ia menjawab salam itu, yang lainnya lagi hanya karena mereka makan bersamamu atau karena senyumanmu untuknya, yang lainnya lagi hanya karena duduk sekitar satu jam atau kurang bersamamu dalam perjalanan.

            Bukankah ‘Addas, bekas budak Uthbah bin Rabi’ah masuk Islam ditangan Rasulullah saw. hanya karena mendengar dua patah kata yang terucap oleh Rasulullah saw. dua kata itu adalah “bismillah” yang beliau ucapkan sebelum menjulurkan tangan mengambil anggur yang diberikan kepada beliau. Ketika ia tahu bahwa beliau adalah seorang Nabi, ia tersungkur mencium kedua tangan dan kaki beliau seraya menyatakan ketundukan kepada Islam yang hanif (lurus).[1]

            Tidakkah kau lihat ketika Rasulullah saw. meletakkan tangan di atas dada seorang pemuda yang suka berzina dan ia meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk hal itu? Begitu Rasulullah mengangkat tangan beliau dari dadanya dan mendo’akannya supaya ia menjadai pemuda yang bisa menjaga diri, maka zina pun menjadi sesuatu yang paling dibenci, setelah sebelumnya menjadi sesuatu yang paling disukainya![2]

          Begitupula dengan seoang musyrik yang jauh-jauh datang dari Mekkah yang bermaksud membunuh Rasulullah saw. atas pesanan Shafwan bin Umayyah. Setelah Rasulullah saw. menceritakan apa yang terjadi antara ia dan Shafwan, ia berkata: “Saya bersaksi bahwa anda adalah utusan Allah.”[3]

            Dan masih banyak lagi orang yang sekedar melihat Rasulullah saw. saja, kecintaan kepada beliau pun bersemi dalam dada mereka. Dan setelahnya mereka mengorbankan segalanya demi membela kecintaannya, Muhammad saw.

            Anda pun demikian, semakin anda memiliki banyak warisan nubuwwah ini akan semakin banyak pulalah bagian dari anda dalam hal itu. Memandang wajah anda bisa menjadi penyebab Hidayah. Do’a anda bagi mad’u bisa menjadi sebab perubahan pada dirinya. Bahkan begitupula halnya dengan seluas senyum anda, anda tidak perlu berkata berjam-jam atau berhari-hari untuk menjelaskan fikrah anda, anda juga tidak perlu menjelaskan pandangan-pandangan anda dalam berbagai masalah penting. Anda hanya memerlukan beberapa detik untuk mengantarkan mad’u kebawah sinaran cahaya hidayah dan warisan nubuwwah yang telah lebih dahulu memenuhi hati anda. Anda tinggal men-charge baterai imannya yang kosong dengan baterai iman anda yang berlimpah.

        Seorang mukmin akan terus meningkatkan warisan nubuwwahnya sampai wangi iman, ikhlas, dan kejujurannya akan harum semerbak dan tumbuh ditempat dan masa yang dilaluinya. Bahkan pengaruhnya dapat di rasakan dari generasi ke generasi.

            Bukankah orang-orang semisal Mush’ab bin Umeir, Zaid bin Haritsah, Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan para sahabat yang lain, bukankah petuah mereka masih terus bergema ditelinga ummat dari generasi ke generasi sampai hari ini dan bahkan sampai Allah mewarisi bumi seisinya?! Bukankah mereka telah berkalang tanah?!

            Bukankah hari ini kita dapat merasakan (dengan hati dan perasaan) kehidupan Khalid bin Walid saat kita membaca biografinya? Bukankah kita dapat merasakan saat-saat bersamanya, berjihad dibawah komandanya?! Bukankah sekedar membaca sejarah hidupnya saja dapat menggelorakan semangat jihad didalam jiwa dan menjadiakn seseorang mencintai syuhada di jalan Allah, seakan ia akan terbang disebabkan oleh rindu dendam kepada hari perjumpaan dengan para tercinta; Muhammad dan para sahabatnya?

          Apa sebenarnya rahasia sejarah lelaki ini sehingga sejarah hidupnya saja membawa pengaruh yang sangat dasyat dalam jiwa? Bagaimana pula jika kita berkesempatan berjumpa dengannya dan berperang bersamanya dibawah panji-panji yang dikibarkannya?

            Zaman yang telah berlalu 14 abad tidak menghapus pengaruh yang ditinggalkan oleh lelaki agung ini. Ia seakan-akan justru hidup dan terus bertempur dari atas kuda perangnya, menaklukan dua super power, Romawi dan Persia.

          Inilah Umar bin Abdul Aziz, cucu dari Umar bin Khattab, setiap kali seorang dari kita membaca sejarah hidupnya setiap kali itu pula ia akan Khusyu’, menitikkan air mata dan akan hidup bersamanya seakan-akan duduk bersamanya, berbincang-bincang dengannya. Selanjutnya, ia mambacanya, lagi, dan lagi, tiada bosan sedikitpun.

           Mereka dan orang-orang seperti mereka orang yang telah dipilih oleh Allah sehingga meski mereka telah berada di kubur masing-masing, mereka masih menjadi para da’i, penyeru kebenaran dan pembawa petunjuk ke jalan Allah yang lurus. Manusia dari generasi ke generasi mendapatkan ditangan mereka meski mereka telah tiada, sama seperti ketika mereka masih hidup. Allah telah dan senantiasa memuliakan para wali-Nya saat mereka masih hidup ataupun mati, saat mereka di dunia ataupun di akhirat. Itulah fadlullah (karunia Allah) yang Dia curahkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Saya memohon kepada Allah, semoga kita mendaptkannya walaupun bagian terkecilnya. Berusahalah, niscaya anda akan menjadi seperti mereka. Sesungguhnya siapa yang kehilangan kesempatan yang agung dan derajat yang tinggi ini, sungguh ia telah kehilangan kebaikan yang banyak.

           Jika seseorang berlaku shiddiq terhadap Rabbnya, dan juga ikhlas dalam berusaha untuk mengembalikan kejayaan Islam, niscaya menjadi shiddiqlah semua yang dilakukannya. Bukan hanya amal, lisan, anggiota badan, jihad dan amar ma’rufnya saja. Bahkan pedang persenjataan bakal dan persiapannya pun akan menjadi shiddiq.

            Tercatat dalam sejarah Ibnu Hisyam, ketika Rasulullah saw. sampai di rumah pasca perang Uhud, beliau menyodorkan pedangnya kepada putrinya, Fatimah. Beliau berkata: “Bersihkanlah ini dari darah yang menempel, wahai putriku! Demi Allah, hari ini ia telah berlaku shiddiq kepada ku.” Ali bin Abi Thalib juga menyodorkan pedangnya kepada Fatimah, seraya berkata: “Ini juga bersihkan dari darah yang menempel. Demi Alah, hari ini ia pun telah berlaku shiddiq kepada ku.”

           Mendengar penuturannya Rasulullah saw. bersabda: “Jika kamu benar-benar telah berlaku shiddiq saat berperang, sungguh telah berlaku shiddiq juga saat berperang: Sahal bin Hanif dan Abu Dujana.”[4]

Hanya saja shiddiqnya pedang tergantung kepada shiddiqnya si empunya.
Pedang Salahuddin itu tidak ada apa-apanya
Yang ada adalah lengannya Salahuddin
Juga hati Salahuddin
Hamba yang teramat fakir dihadapan Allah ta’ala.

            Pedang Ali bin Abi Thalib, Abu Dunaja, dan Sahal bin Hanif memang berbeda dengan pedang pada umumnya. Pedang-pedang itu telah mencari kejujuran dan keikhlasan pemiliknya. Begitu pun dengan pedang Salahuddin.

        Hari ini… mungkin saja kita menjumpai pedang, namun… kita tidak menjumpai orang-orang yang shiddiq seperti mereka untuk menjadikan pedang itu menjadi shiddiq pula. Sebatang senapan ditangan orang-orang seperti Khalid bin Walid dan sahabat-sahabatnya berbeda dengan senapan-senapan lain, meski semua dibuat oleh pabrik yang sama. Peluru yang ditembakkan oleh orang-orang seperti mereka berbeda dengan peluru-peluru lainnya.

           Bahkan telah terjadi peluru ditembakkan oleh seorang mujahid yang lemah dari jarak yang sangat jauh dapat mengenai komandan musuh tepat dibatang lehernya?! Itulah peluru yang keluar dari senapan shiddiq, dan ditembakkan oleh orang yang shiddiq terhadap Rabbnya dan Mukhlis.

        Ada juga sebutir peluru (hanya sebutir) yang ditembakkan seorang mujahid kearah pasukan kafir telah membuat para dokter dan orang-orang yang mengoperasinya geleng-geleng kepala. Tak jauh beda dengan orang-orang yang ada di persidangan. Mereka menyangka peluru yang ditembakkan bukan jenis peluru yang biasa kita kenal. Akan tetapi terbuat peluru jenis khusus!

           Mengapa?, sebab, bagaimana mungkin sebutir peluru dapat mengenai dan merusak tubuh sampai separah itu? Benar, itu adalah peluru shiddiq yang keluar dari senapan shiddiq yang di panggul oleh seorang lelaki yang shiddiq terhadap Rabbnya, lagi Mukhlis.

              Mungkin kita punya pedang. Namun dimana rijal semisal Ali bin Abu Thalib, Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amru bin Ash, dan Ikrimah bin Abu Jahal?

       Mungkin kita punya pedang. Namun dimana Salahuddin, hati Salahuddin, keikhlasan dan kejujuran Salahuddin?

              Mungkin kita punya pedang namun dimana Khalid dan sejawat-sejawatnya, kezuhudan mereka, keshiddiqan mereka, keikhlasan mereka, sikap wara’ mereka, dan juga tawadu’ mereka?

       Pernah ada yang berucap: “Obatilah si fulan dengan membacakan Al-Fatihah, sebab Umar ra. pernah melakukannya dan si sakit sembuh!” Lalu orang diajak berbicara menimpali,”ini Al-Fatihahnya, lalu mana Umarnya?”

           Sesungguhnya pedang tidak akan pernah shiddiq jika bukan ditangan seorang yang shiddiq pula. Pedang tidak pernah ikhlas jika tidak dibawa ke medan jihad oleh seorang mukhlis (orang-orang yang ikhlas). Pedang tidak akan membawa pengaruh terhadap musuh-musuh Allah kecuali jika digengam wali-wali Allah yang sebenarnya. Pedang tidak akan berakhlaq jika yang menyandang bukan orang yang berjalan di atas jalan Nabi dan berhakhlaq dengan akhlaq Nabi pula.

              Saya sempat tertegun dengan penuturan Mushtafa Shaddiq Ar-Rafi’i, ia berkata:

“Sesnugguhnya yang memiliki Akhlaq bukan saja orang Islam, tetapi pedang-pedang merekapun memiliki Akhlaq. Bukankah pedang mereka tidak membunuh Anak-anak, Orang tua, Wanita, Pepohonan, dan Pohon Kurma?!”

           Benar kata anda, Demi Allah bukankah pedang itu tidak menebas dengan didasari rasa sombong, ‘ujub, riya’, semena-mena dan melampaui batas. Pedang-pedang itu hanya berperang dengan cinta karena Allah dan demi meninggikan kalimat-Nya, memuliakan Islam, serta menjadikan kalimat-kalimat orang-orang kafir berada di paling bawah dan kalimat Allah sebagai yang teratas.

           Seorang pasti benar-benar berlaku shiddiq kepada Rabbnya, shiddiq dalam dakwahnya, jihadnya, dan amar ma’ruf nahi mankarnya, kemudian shiddiq itu menjalar keseluruh dimensi kehidupannya. Tidak berhenti pada pedang dan senjata saja, tetapi juga menjalar sampai kepada kendaraan yang ia naiki untuk berjihad dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain di jalan Allah dalam rangka meninggikan panji-Nya, menyebarkan Dien-Nya. Benar shiddiq seakan telah berpindah darinya menuju binatang tunggangan atau mobilnya, benda mati yang ia gunakan untuk bergerak di jalan Allah.

           Jika anda ingin lebih mendalami masalah ini lebih lagi, coba anda baca kisah Khalid bin Walid. Pernah ada yang mengucapkan ini dihadapan Khalid, “Wah, Pasukan Romawi banyak sekali, sedangkan pasukan Muslim sedikit sekali!” maka Khalid pun berkata: “justru pasukan Romawi sangat sedikit dan pasukan-pasukan Muslim banyak sekali!” hanya saja pasukan perang itu menjadi banyak dengan kemenangan dan menjadi sedikit dengan kekalahan, bukan dengan jumlah personil. Demi Allah, aku ingin sekiranya Asyqar sembuh dari penyakitnya meski jumlah mereka dilipat gandakan sebagai tebusannya.” Saat itu kudanya sudah tidak kuat lagi berjalan.[5]

          Asyqar telah mempelajari prilaku Shiddiq dalam jihad dari tuannya. Berdua mereka telah bertempur dan melalui ribuan mil dalam rangka jihad fi sabilillah. Bahkan Khalid telah menaklukan Persia dan Romawi dengan mengendarainya. Ia telah berpindah dari ujung negeri ke negeri yang lain, dari satu kemenangan kepada kemenangan yang lain, tanpa mengenal lelah dan istirahat. Khalid telah melalui saat-saat yang mencekam bersamanya. Khalid telah melalui siang-malam bersamanya. Sampai-sampai kaki Asyqar lumpuh karena terlalu banyak berjalan. Sungguh, di atas punggungnya Khalid telah menaklukan Persia dan Romawi. Dua kekuatan Super Power saat itu. Dan karena prilaku shiddiq si Asyqar terhadapnya, Khalid berharap sekiranya Asyqar sembuh dari penyakitnya, walau jumlah personil dilipat gandakan. Jumlah yang banyak tidak ada apa-apanya dihadapan keshiddiqan Asyqar dalam jihad. Begitulah kuda dan kendaraan kaum Muslimin.

            Benarlah sabda Nabi saw. ketika para sahabat berkata: “Qashwa (onta Nabi) menimpali: “bukan Qashwa’ yang menderum, karena itu bukan kebiasaannya, akan tetapi ia di tahan oleh Allah yang pernah menahan gajah”[6]

       Sebaliknya, jika keshiddiqan seseorang hanya secuil, sedangkan yang banyak hanyalah kemaksiatan dan keburukannya, niscaya akan berimplikasi pada segalanya, termasuk kendaraannya.

Benarlah pernyataan seorang salaf:

“Aku telah bermaksiat kepada Allah, dan aku merasakan pengaruhnya pada pola istri dan binatang tungganganku.”

* * *

Foot Note :

[1]  Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazniy, Sirah Ibnu Hisyam vol. I/421

[2]  Imam Ahmad 5/562 meriwayatkan dari Abu Umamah terjemahan lafazhnya sebagai berikut; Ada seorang pemuda menemui Nabi berkata, ‘Wahai Rasulullah izinkan aku untuk berzina.’ Orang-orang berpaling darinya dan mencemoohnya, berkata, Ck..ck..’ Nabi bersabda, ‘beri jalan supaya ia mendekat kesini!’ maka pemuda itu mendekati beliau lalu duduk. Rasulullah bertanya, ‘Apakah kamu suka apabila Ibumu dizinai?’ Pemuda itu menjawab, ‘Demi Allah tidak, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu!’ Beliau menimpali ‘tidak ada seorangpun yang menyukai itu terjadi pada ibu-ibu mereka.’ Beliau melanjutkan, ‘Apakah kamu suka jika anak perempuanmu dizinai?’ Pemuda itu menjawab, ‘Demi Allah tidak, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu!’ Beliau menimpali ‘tidak ada seorangpun yang menyukai itu terjadi pada anak-anak perempuannya.’ Beliau melanjutkan, Apakah kamu suka jika saudara perempuanmu dizinai? Pemuda itu menjawab, ‘Demi Allah tidak, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu!’ Beliau menimpali ‘tidak ada seorangpun yang menyukai itu terjadi pada saudara-saudara perempuannya.’ Beliau melanjutkan, ‘Apakah kamu suka bibi dari jalur ayahmu dizinai?’ Pemuda itu menjawab, ‘Demi Allah tidak, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu!’ Beliau menimpali ‘tidak ada seorangpun yang menyukai itu terjadi pada bibinya.’ Kemudian Nabi meletakan tangan beliau kepadanya seraya berkata, ‘Yaa Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.’ Setelah kejadian itu, tidak sesekali pemuda itu tertarik untuk berzina.’ Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syeikh Albani.

[3]  Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq seperti tertera dalam Sirah Ibnu Hisyam vol. 2/662

[4]  Ibnu Hisyam menyebutkan dalam as-Siratun Nabawiyyah vol. 2/100 dari Isha. Al-Baihaqi juga meriwayatkan sebagaimana tersebut di dalam al-Bidayah wan-Nihayah 4/47 dari Ibnu ‘Abbas dengantembahan “Dan ‘Ashim bin Tsbits bin Sahmah.”

[5]  Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tarikh beliau 2/594 dari ‘Ubadah bin Khalid.

[6]  Diriwayatkan oleh al-Bukhari 5/329, Abu Daud 356, dan Ahmad 4/323, 329 dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Hakam dari sejumlah sahabat.

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s