Nasehat Ke Delapan Belas “JANGAN BERMAKSIAT”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam18

“Kecemburuan Allah ini semakin besar manakala pelaku pelanggaran itu adalah wali-wali-Nya. Yang semestinya menjadi orang yang paling jauh dari segala bentuk kemaksiatan.”

JANGAN BERMAKSIAT

Sebagai ikhwan mungkin menyangka bahwa Allah akan memakluminya jika ia bermaksiat lantaran menurutnya ia telah lama beriltizam kepada Islam dan bergabung dengan para aktivis Islam. Maka ia pun memandang remeh urusan maksiat. Apalagi setelah berlalunya masa yang panjang dari iltizamnya, setelah berkurang dan menipis hamiyyahnya (pembelaan), dan ghirahnya (semangat), ada banyak faktor pemicu yang bukan disini tempat membicarakannya saat ini.

Ketika seorang telah menganggap remeh dosa-dosa kecil, atau menolelir perkara-perkara syubhat, dengan segera ia akan segera merasakan akibatnya dari Allah ‘azza wa jalla. Dahsyat memang!

Pernah ada seorang yang melakukan perbuatan maksiat, beberapa jam kemudian ia sudah mendapati hukuman yang berat dikarenakan perbuatannya itu. Ia kebingungan, dan berkata kepada dirinya sendiri, Aku telah melakukan perbuatan dosa semacam ini atau bahkan yang lebih besar lagi, lebih dari 100 kali sebelum aku beriltizam dan aku tidak mendapati atas perbuatan itu. Sekarang hukuman yang aku dapati sangatlah cepat, langsung, dan kuat!

Seandainya orang ini mengerti agamanya dengan baik, niscaya ia akan mengerti bahwa sebenarnya Allah sedang ‘cemburu’ atas dilanggarnya perkara-perkara yang di haramkan-Nya. Kecemburuan Allah akan semakin besar manakala pelaku pelanggar itu adalah wali-wali-Nya yang selama ini mendekatkan diri kepada-Nya, yang semestinya menjadi orang yang paling jauh dari segala bentuk kemaksiatan.

Para pembawa panji risalah Islam adalah semestinya orang-orang yang paling bertaqwa yang paling menghindari dosa-dosa kecil serta perkara-perkara syubhat, apalagi yang haram. Mereka melarang orang lain melakukannya; bagaimana bias mereka sendiri melakukannya?!

Lebih dari itu, ini akan melahirkan dikalangan kaum muslimin pada umumnya pada saat mereka mengetahuinya dan suatu saat mereka pasti akan tahu dan akan mengakibatkan hilangnya martabat qudwah dan uswah yang seharusnya menjadi penghiasan bagi ikhwah.

Karena itulah Allah berfirman:

“Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al-Baqarah [2] : 209)

Perhitungan bagi mereka adalah perhitungan yang berat; lebih berat dan lebih sulit dibandingkan dengan perhitungan untuk orang-orang yang selain mereka. Untuk itu hendaknya setiap ikhwah mengerti dengan ilmu yakin bahwa antara Allah dan salah seorang anak Adam itu apa pun pangkatnya tidak ada hubungan kerabat atau kekeluargaan. Allah senantiasa memutuskan sesuatu dengan tepat dan adil.

Setiap ikhwah yang tergabung dalam sebiah organisasi Islam hendaknya mengingatkan diri dengan firman Allah ta’ala:

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Qs. An-Nisa [4] : 123)

Ayat ini oleh sebagian sahabat dianggap sebagai ayat yang paling berat dalam Al-Qur’an.[1]

Saya sendiri menganggap ayat ini sebagai ayat yang paling mengerikan dan paling menggetarkan seluruh persendian.

Ayat di atas berbicara kepada para sahabat. Siapa yang tidak mengenal kualitas mereka? Jika demikian, bagaimana dengan orang-orang seperti kita, yang sering beramal shalih, tetapi juga sering beramal buruk?

Ayat-ayat ini benar-benar menjadi lonceng yang membangunkan setiap orang yang berada di dalam organisasi Islam. Timbangan yang adil tidak akan mengistimewakan seorang pun, siapapun dia. Lihatlah Bal’am bin Ba’ura yang konon mengetahui nama Allah yang teragung ketika ia bermaksiat kepada Rabbnya, ia pun berubah seperti anjing, dalam segala keadaan selalu menjulurkan lidah.[2]

Dosa dan kemaksiatan adalah sumber malapetaka. Tidak ada bencana yang menimpa melainkan dosalah penyebabnya, dan bencana tidak akan dihentikan kecuali dengan taubat.

Ada seorang syeikh yang berkeliling di satu majelis dan satu majelis yang lain seraya berkata, Barangsiapa ingin di langgeng kesehatannya, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah!

Ada satu hadits mulia berbunyi: Sungguh, seorang hamba itu akan terhalang dari rizki dikarenakan dosa yang dilakukannya.[3]

Abu Usman an-Naisabury putus sandalnya ketika ia berjalan untuk menunaikan shalat jum’at. Ia pun memperbaikinya beberapa saat, lalu berkata, sandal ini putus karena aku tidak mandi jum’at.

Ibnu Jauzi berkata, Salah satu hal yang menakjubkan dari balasan di dunia; tangan saudara-saudara Yusuf telah terjulur untuk menzaliminya, maka tangan-tangan itu kembali terjulur dihadapan Yusuf sementara pemilik tangan-tangan itu berkata, ‘Mohon, bersedekahlah untuk kami![4]

Terkadang hukuman itu  bersifat maknawi. Betapa  banyak orang yang memandang sesuatu yang diharamkan oleh Allah, karenanya Allah menghalanginya dari cahaya bashirah (pandangan hati)

Betapa banyak orang-orang yang mengucap kata-kata yang haram, karena Allah menghalanginya dari bening hati. Atau karena ia makan makanan yang syubhat (dengan begitu mendzalimi hatinya) maka ia terhalang dari shalat qiyamulail dan bermunajat.

Akibat lainnya; bahwa kemaksiatan itu akan mengahantarkan kepada kemaksiatan yang lain, kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan berikutnya, begitu seterusnya.

Seorang yang bermaksiat mungkin saja melihat badan, harta, dan keluarganya baik-baik saja. Ia merasa tidak ada hukuman atas kemaksiatan yang dilakukannya. Sebenarnyalah saat itu ia sedang mendapat hukuman. Cukuplah menjadi hukuman baginya saat manisnya kelezatan berubah menjadi hambar tak berasa dan tersisa tinggal pahitnya penyesalan, kesediaan dan kegelisahan.

Diriwayatkan ada beberapa orang pendeta Bani Israil bermimpi melihat Rabbnya, ia berkata, Duhai Rabbku, betapa aku telah banyak bermaksiat kepada-Mu tetapi engkau tidak pernah memberikan hukuman atas semua itu? Rabbnya menjawab, Betapa banyak Aku telah memberikan hukuman kepadamu, tapi kamu tak pernah tahu. Bukankah aku telah menghalangi kamu dari manisnya bermunajat kepada-Ku?

Kadang kala buah dari kemaksiatan yang ia lakukan, berupa Allah akan menjadikan kebencian dari berbagai hati kepadanya, atau terhalanginya dakwah tanpa sebab yang jelas. Abu Darda berkata, Ada seorang hamba yang sembunyi-sembunyi dalam bermaksiat kepada Allah ta’ala lalu Allah menumbuhkan rasa benci dalam hati orang-orang yang beriman kepadanya tanpa pernah ia menyadarinya.

Dalam kitab Al-Fawaid, Ibnu Qayyim telah meringkas berbagai macam pengaruh yang ditimbulkan oleh kemaksiatan dengan sistematika yang bagus sekali, Beliau menulis:

Hidayah yang sedikit, ra’yu (pikiran) yang rusak, kebenaran yang tersembunyi, hati yang bobrok, ingatan yang lemah, waktu yang terbuang sia-sia, makhluk yang menjauhinya, takut berhubungan dengan Rabbnya, do’a yang tidak di kabulkan, hati yang keras, rezeki dan umur yang tidak berbarokah, terhalang dari ilmu, diliputi kehinaan, direndahkan oleh musuh, dada yang sempit, mendapatkan teman-teman jahat yang merusak hati dan membuang-buang waktu, kesedihan dan kegundahan yang panjang, kehidupan yang menyesakkan dan pikiran yang kacau semua itu merupakan buah kemaksiatan dan akibat kelalaian dari dzikrullah, seperti halnya tetumbuhan subur dengan air dan kebakaran bermula dari sepercik api. Begitupun sebaliknya, semua kebaikan dari hal-hal tersebut di atas merupakan buah dari ketaatan.[5]

Pernah salah seorang salaf ditanya, Apakah seorang yang sedang bermaksiat itu dapat merasakan lezatnya ketaatan? Ia menjawab, Bahkan orang  yang berhasrat pun tidak (akan merasakan kelezatan).

Ibnu Jauzi berkata, Barangsiapa memperhatikan kehinaan yang dirasakan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf as. ketika mereka berkata; Mohon ‘bersedekahlah kepada kami!,’ niscaya ia akan mengerti akibat buruk dari kesalahan meskipun telah diikuti dengan taubat. Sebab seorang yang mempunyai baju robek kemudian menjahitnya tidak sama dengan orang yang memiliki baju baru.

Waspadalah terhadap kejahatan yang disepelekan. Ia mungkin saja dapat membakar negeri. Wahai yang senantiasa tergelincir! mengapa kau tidak memperhatikan apa-apa yang membuatmu tergelincir?

* * *

Foot Note :

[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Jatim dengan sanadnya oleh ‘Aisyah katanya, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah sungguh aku telah tahu ayat-ayat terberat yang ada di dalam al-Qur’an.’ Beliau bertanya, ‘Apa itu wahai ‘Aisyah?’ Aku menjawab, ‘Barang siapa mengamalkan suatau keburukan niscaya akan mendapat balasannya. Lalu Beliau bersabda, ‘Apapun yang dilakukan seseorang muslim sampai kerikil yang dilemparkannya.’”

[2] Lihat tafsir  dari surah (al-A’raf [7]:175)

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 402, dan Ahmad 5/277 dari tsauban. Dalam az-Zawaid disebutkan, Isnadnya hasan.

[4] Shaidul Khathir

[5] Al-Fawaid, Ibnu Qayyim Hal. 43 cet. Maktabul Hayah, Beikrut

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s