Nasehat Ke Dua Puluh Satu “QIYAMULLAIL MADRASAH PARA AKTIVIS”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam21

“Qiyamullail adalah saat mengadu bagi siapa saja yang aktif dalam dakwah. Qiyamullail adalah juga saat untuk berkeluh kesah bagi mereka yang menghadapi kesulitan, beban yang berat, hambatan, rintangan, musibah atau saat musuh menguasai mereka.”

QIYAMULLAIL MADRASAH PARA AKTIVIS

Sangatlah mengherankan apabila ada aktivis Islam yang tidak mengerjakan qiyamullail. Bagaimana bisa terjadi keseimbangan yang berat itu?

Jika qiyamullail adalah kebutuhan asasi setiap muslim, lalu bagaimana seorang aktivis Islam yang memikul beban berat dari dien ini; dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan menyerukan kebenaran? Bukankah dalam kitab-Nya Allah telah berfirman:

“Hai orang yang berselimut (Muhammad) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan.” (Qs. Al-Muzzammil [73] : 1-4)

Dan lanjutan firman-Nya

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (Qs. Al-Muzzammil [73] : 5)

Ya, amanat yang berat, beban yang sulit dan perintah-perintah yang membutuhkan azam yang kuat dan himmah yang tinggi. Amanat yang sebelumnya telah di tolak oleh langit dan bumi; keduanya khawatir tidak mampu mengembannya, lalu amanat itu dibebankan di pundak manusia.

Siapa yang mampu menunaikan kewajiban dakwah, tarbiyah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad tanpa mempersiapkan bekal? Bekal selama perjalanan menuju Allah.

Tanpa bekal seseorang akan terputus di tengah jalan dan binasa sebelum samapai tujuan.

Madrasah Qiyamullail adalah madrasah terbesar di mana seorang muslim ditempa disana, mengenal Rabbnya, mengenal secara mendetail nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya berikut makna yang terkandung di dalamnya.

Ia adalah madarsah khusyu’ kudlu’ (merendahkan diri) di malam hari merupakan jalan untuk mengalahkan musuh sekaligus jalan meraih taufik (pertolongan) dalam dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad juga.

Shalahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang yang dengan keislamannya yang tajam dan ma’rifatnya terhadap Islam yang nyaris sempurna, memahami benar bahwa Qiyamullail merupakan faktor terpenting dalam mengalahkan semua musuh. Shalahuddin mengerti bahwa kemenangan tidak akan terengkuh tanpa menghinakan diri dihadapan Allah. Ia juga mengerti bahwa Qiyamullail adalah senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan musuh, tiada duanya. Karena itulah setiap malam ia menyempatkan diri berkeliling ke rumah pasukan perangnya dan jika ia melihat ada kemah yang tidak di jaga dengan Qiyamullail, ia akan membangunkan penghuninya dan menegur mereka, “Aku khawatir kita akan diserbu dari bagian sini, malam hari!”

Ini adalah pemahaman yang tinggi terhadap Islam yang lurus. Shalahuddin menganggap kosongnya satu kemah dari Qiyamullail merupakan kekosongan yang paling berbahaya melibihi kosongnya benteng dari penjagaan hal mana musuh bisa datang dan menyerang dari sana.

Semoga Allah merahmatimu, wahai Shalahuddin! Sungguh, kaum muslimin benar-benar tidak akan dapat dikalahkan musuh-musuh mereka dengan hanya berbekalan jumlah pasukan dan kekuatan logistik.

Hanyasanya dengan dien inilah kemenangan akan tercapai dengan keta’atan mereka dan kemaksiatan yang dilakukan oleh musuh-musuh mereka. Sebenarnyalah, kunci kemenangan itu ada pada kekhusyu’an dan ketundukan kepada Allah. Rabbul’alamin.

Adalah Khalid al-Istambuliy dan para sejawatnya, semenjak awal jihad sampai mereka mengahdap Rabb mereka, dan itu terjadi belum lama, mereka senantiasa mengisi malam mereka dengan Qiyamullail dan siang mereka dengan shiyam (shaum). Mereka biasa berdiri berjam-jam di malam hari untuk membaca surat-surat yang panjang dalam Qiyamullail mereka. Ada salah seorang dari mereka yang diberi anugerah suara yang indah. Ia menangis di dalam shalat, dan menangis pulalah semua yang mengerjakan shalat bersamanya. Mereka semua dijadikan sebagai teladan—bagi yang mengenal mereka—dalam urusan Qiyamullail dan shiyam sunnah, juga semua bentuk ibadah. Siapa pun yang pernah bertemu mereka saat itu pastilah berucap, “Mereka itu bagaikan malaikat berwujud manusia!”

Mereka, oleh karena banyak ibadah dan tingginya ruh mereka, seakan-akan mereka berada di langit padahal masih dibumi. Kiranya mereka dan orang-orang seperti merekalah yang menjadi sebab hadirnya taufiq Allah dalam salah satu ‘amaliyah jihadiyah terbesar dan sangat berbahaya di abad 20. selain itu, Allah telah menjadikan mereka diterima oleh penduduk bumi. Tidak ada seorangpun yang tidak suka kepada Khalid dan para pendampingnya, sampai-sampai musuh-musuh harakah Islamiyah, para muqallid, menghormati mereka. Mereka merasakan bahwa Khalid dan para sejawatnya memiliki kelebihan yang tidak mereka miliki dan bahwa kebaikan Khalid melingkar di leher mereka.

Saya dan beberapa ikhwah pernh berjumpa dengan salah seorang ulama amilin mujahiddin yang tidak pernah kecolongan Qiyamullail walau semalam. Setiap hari beliau mengerjakan 11 raka’at. Didalamnya beliau baca 1 juz penuh, dan beliau melipatgandakan di bulan Ramadhan. Semua ini dengan catatan bahwa usia beliau telah lanjut, beliau mengidap penyakit gula, hipertensi, dan beberapa penyakit lainnya. Dibelakang beliau, – waktu kami masih muda merasa kecapekan; bahkan ada diantara kami yang sengaja menghidar. Padahal sebenarnya kami bertugas untuk menemani beliau di rumah sakit selama beberapa hari saja, bukan untuk selamanya. Ikhwah yang menetap bersama beliau, tentu saja mengerjakan secara continue setiap malam. Karena itulah suatu hari setelah Syekh keluar dari ujian yang menimpa beliau, saya katakan kepada diri saya sendiri, “Sesungguhnya, faktor terpenting dari kesuksesan beliau adalah Qiyamullail dan Shiyam yang beliau kerjakan. Meskipun para dokter selalu memperingatkan beliau tentang shiyam yang beliau kerjakan itu, meskipun beberapa kali beliau mengalami dehidrasi sebagai akibat dari penyakit gula yang beliau derita.”  Aku katakan kepada diriku lagi, “Kiranya kekuatan syaikh dalam menghadapi kebatilan dan rahasia ketegarannya dalam menghadapi berbagai kesulitan dan siksaan di saat umur beliau sudah lebih dari 50 tahun, mata telah buta dan beberapa penyakit ganas mengerogoti tubuh beliau, kiranaya rahasia itu semua adalah Qiyamullail. Beliau tiada henti memompa kekuatan demi kekuatan bagi hati sehingga tertanamlah semangat yang tinggi dan tekad yang membaja. Anda akan melihat, didalam tubuh yang lemah dan badan yang kurus kering, terdapat azam yang dapat meruntuhkan gunung-gunung dan memporak-porandakan benteng pertahanan. Semua karena tadzallul beliau kepada Allah yang terus-menerus semua karena kekhusyu’an beliau kepada Allah, dan kekuatan beliau hanya kepada Allah saja.

Setiap orang yang beramal Islam semestinyalah mengambil bagian dari sabda Nabi Saw., “Dan jadikanlah penyejuk mataku di dalam sholat” [1]

Ada seorang shalaf bertutur, “Aku sangat gembira ketika malam menjelma. Saat hidupku kan segera terasa lezat dan mataku menjadi sejuk oleh karena munajatku kepada Dzat yang aku cinta, dan karena kesendirianku bersama-Nya, serta tadzallulku di hadapan-Nya.”

Kabarnya, Abu Hurairah membagi, malam menjadi tiga bagian; bagian istrinya, bagian putrinya, dan bagiannya sendiri. Dengan begitu ia sekaligus sekeluarga telah menghidupkan keseluruhan malam.

Qiyamullail adalah saat mengadu bagi siapa saja yang aktif dalam dakwah. Qiyamullail adalah juga saat untuk berkeluh kesah bagi mereka yang menghadapi kesulitan, beban yang berat, hambatan, rintangan, musibah atau saat musuh menguasai mereka. Pada saat itulah ia berdiri dihadapan Rabbnya dan penolongnya yang sebenarnya yang menguasai segala sesuatu, yang jika menghendaki sesuatau Dia akan berkata JADILAH! maka terjadilah yang dikehendaki-Nya itu. Ia tengah berdiri dihadapan-Nya, memohon kepada-Nya, mengharap kepada-Nya, dan mengadukan segala keluh kesah dan kesedihannya. Ia tengah meminta dan memohon perlindungan kepada-Nya. Maka munajat itu akan menepis segala duka nestapa, gundah gulana. Bagaimana tidak? Ia sudah menyerahkan urusannya kepada Raja dari segala raja, penguasa langit dan bumi!

Ungkapan, Barangsiapa mengetuk pintu hampir-hampir pintu terbuka untuknya.

Umar bin Khattab ra. berkata, Bukan karena ingin terkabul aku berdo’a, tetapi aku ingin berdo’a maka aku berdo’a. Dan manakala aku mendapat ilham untuk berdo’a, terkabulnya do’a itu senantiasa menyertainya.

Kiranya Umar Menyitir Firman Allah Swt.

“Dan Rabb kalian berkata: “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya aku akan mengabulkan (permohonan) kalian.”” (Qs. Al-Mukmin [40] : 60)

Yahya bin Mu’adz berkata, Barangsiapa hatinya dihadirkan oleh Allah kala berdo’a, niscaya do’a itu tidak akan ditolak.

Ibnul Qayyim bertutur, “Apabila hatinya hadir, kebutuhannya benar-benar mendesak dan pengharapannya tinggi hampir-hampir do’a itu tidak akan ditolak.”

Do’a adalah pangkal dari segala kebaikan. Ia juga pangkal kemenangan, solusi, hidayah, dan juga taufiq (pertolongan) dalam segala aspek amal Islam; dakwah, tarbiyah, hisbah (ibadah), dan jihad.

Disebabkan oleh do’a Nabi Nuh as. beserta orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan oleh Allah dan orang-orang kafir ditenggelamkan.

“Maka dia mengadu kepada Rabbnya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (Qs. Al-Qamar [54] : 10-14)

Disebabkan oleh do’a pula nabi Yunus as. selamat dari perut ikan paus, setelah tiga malam berada di dalam kegelapannya.

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Anbiyaa’ [21] : 87-88)
Kedua jika waktunya longgar, badan sehat, dan jiwa bersemangat, hendaknya ia mengerjakan Qiyamullail yang panjang, membaca satu juz penuh didalamnya, ditambah memperbanyak do’a di waktu sujud, serta memperbanyak dzikir lain secara umum. Jika waktunya sempit, badan kurang fit, dan jiwa, maka tidak mengapa ia melaksanakan Qiyamullail yang pendek, atau dengan jumlah rakaat yang sama, namun hanya membaca surat-surat pendek. Membiasakan diri tidak mengerjakan sama sekali atau meninggalkan hampir setiap malam tidak dapat dibenarkan sama sekali.

Hendaknya para ikhwah mengerti juga, bahwa sebuah jama’ah apapun jika continue mengerjakan Qiyamullail dalam keadaan senang, susah, lapang, sempit, mudah, dan sulit niscaya jama’ah ini akan menjadi jama’ah yang berarti. Dengan itu ia telah menegakan amal Islam yang agung dan bisa jadi itu lebih baik dari amal-amal yang baik meskipun banyak.

Saya juga mengingatkan bahwa, menyatukan antara amal Islam, kekuatan, kesungguhan, dan continue serta kesungguhan dalam Qiyamullail, menumbuhkan tekad yang bulat dan keyakinan yang kuat akan urgensi seluruh perkara ini dari aktivis. Juga, para aktivis senantiasa merenungkan ucapan Umar bin Khattab r.a., Jika kuisi malamku dengan tidur sungguh aku telah menyia-nyiakan rakyatku.

Umar bin Khattab sangat terkenal dengan Qiyamullailnya yang tiada bandingnya, meski ia dirundung berbagai kesulitan.

Masa itu, Umar memimpin sebagian besar dunia, bukti kesungguhannya dalam menjaga qiyamullail ini, adalah banyak sahabat dan tabi’in yang berusaha untuk meneladaninya dan bertanya-tanya bagaimana sebenarnya Umar bin Khattab menegakkannya sampai ketika ia telah wafat.

Ada seorang sahabat yang ingin menikahi janda Umar, akan tetapi maksud mereka hanyalah untuk mencari informasi bagaimana sebenarnya, Umar bin Khattab melaksanakan qiyamullail supaya ia bisa mencontohnya!

Ustman bin Affan saat menduduki kursi kekhalifahan dan memerintah dunia dari ujung  ke ujung, bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam. Kabar ini dibawa oleh Imam Islam yang agung dan bukan dalam rangka memuji dan melebih-lebihkan. Kepada orang yang membunuh beliau sang istri berkata, “Terserah kepada kalian, mau dibunuh atau tidak. Yang jelas, Demi Allah! Ia telah menghidupkan malam dengan membaca Al-Qur’an dalam satu raka’at.

Abdullah bin Zubeir, meski tanggung jawabnya amat berat, sebelum atau sesudah memerintah, sungguh ibundanya. Asma bin Abu bakar radiyullahu’anhuma berkata, Ibnu zubeir adalah seorang qawwam di malam hari, shawwam di siang hari. Ia digelari pilar masjid.

Mengapa kita meski melangkah jauh?! Adalah Rasulullah saw. yang tidak pernah istirahat dari mengurusi umatnya, ia yang seluruh hidupnya dipenuhi dengan jihad melawan musuh-musuh Islam, senantiasa proaktif menyeru kepada Allah, mengajari umatnya, dan mentarbiyah sahabat-sahabatnya, Qiyamullail tidak pernah kurang dari 11 atau 13 raka’at. Jika beliau sakit atau mendapati sesuatu yang menghalangi beliau dari melaksanakannya diwaktu malam, beliau menggantinya di siang hari!

Maka kepada para aktivis Islam, para Da’i, para muhtasib (penceramah), dan para mujahid hendaklah mereka meneladani guru besar dan komandan agung mereka; Rasulullah saw.

Ringkasan kata Qiyamullail adalah pohon besar dan rindang yang menaungi hati dan anggota badan sekaligus. Setiap saat pohon ini memberikan hasilnya dengan seizin Rabbnya.

* * *

FOOT NOTE :

[1]  Diriwayatkan oleh an-Nasa’iy 7/61, Ahmad 3/128, dan Hakim dalam al-Mustdarak 2/160 dari Anas bi Nadiar Al-Hakim berkata, “Hdaits ini sesuai dengan syarat muslim namun Imam al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Ini disetujui oleh adz-Dzahabiy.

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s