Nasehat Ke Dua Puluh Dua “BERDO’ALAH! KARENA DO’A ITU SENJATA YANG AMPUH!”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam22

“Kepada siapa anda akan memohon jika bukan kepada Allah?! Kepada siapa anda akan meminta jika bukan kepada pemilik segalanya?!  Kepada siapa anda akan mencari perlindungan jika bukan kepada Allah, pengatur langit dan bumi serta miliknya juga semua yang ada di keduanya?! Yang jika mengatakan tentang sesuatu “JADILAH!” maka jadilah sesuatu itu?!”

BERDO’ALAH, KARENA DO’A ITU SENJATA YANG AMPUH

Doa adalah senjata ampuh yang banyak dilupakan oleh harakah Islam dalam banyak kesempatan. Belum lagi do’a itu sendiri merupakan salah satu ibadah yang utama, seperti ditegaskan dalam hadits.[1]

Do’a adalah senjata yang selalu tepat sasaran dan anak panah yang tidak pernah meleset. Do’a juga merupakan ‘benteng-berbenteng’ tempat berlindung setiap pribadi muslim dan juga umat Islam dari tipu daya musuh, kesewenangan mereka dan kebengisan mereka.

Kepada siapa anda akan memohon jika bukan kepada Allah?! Kepada siapa anda akan meminta jika bukan kepada pemilik segalanya?! Kepada siapa anda akan mencari perlindungan jika bukan kepada Allah, pengatur langit dan bumi serta miliknya juga semua yang ada di keduanya?! Yang jika mengatakan tentang sesuatu “JADILAH!” maka jadilah sesuatu itu?!

Dengan dzikir dan do’a setiap muslim pada umumnya dan para aktivis khususnya, seperti bersimpuhnya seorang budak dihadapan tuannya.

Betapa banyak kebutuhan para aktivis kepada Rabb mereka, berkenaan dengan urusan dunia mereka maupun akhirat mereka; urusan dakwah, jihad, amar makruf nahi mungkar, harakah, kesulitan, kemudahan, kesempitan, kelapangan. Apabila kaum jahiliyah telah memasang ‘kuda-kuda’ untuk bersetru dengan Islam dan orang-orang Islam, apabila mereka menghunuskan semua senjata untuk menghadapi mereka, maka wajiblah bagi sebuah organisasi Islam untuk tidak lalai sedikit pun dari senjata yang sangat amat tajam ini.

Sebuah organisasi Islam mestinya juga mengerti bahwa api kemenangan hanya turun di saat hati para pasukan tengah bergetar seperti kata Ibnul Qayyim: Rasulullah saw. saja terus beristighatsah (minta perlindungan) kepada Rabbnya saat perang Badar. Beliau berdo’a dengan sungguh-sungguh sampai rida’ (kain penutup tubuh bagian atas) beliau terjatuh. Ketika itulah Abu Bakar berkata kepada beliau, Wahai Nabi Allah, cukup sudah permohonanmu kepada Rabb-mu. Sungguh Dia akan mewujudkan apa yang telah Dia janjikan.[2]

Dan senjata do’a pun melesat kepada orang-orang musyrik, mengguncang singgasana mereka

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-Anfal [8] : 17)

Dikala hijrah Rasulullah saw. melepaskan dua batang anak panah do’a yang tertuju kepada Suraqah. Bersamaan dengan setiap batang anak panah do’a itu kuda Suraqah jerjebak ke dalam pasir dan kuda itu tidak dapat berdiri lagi sampai akhirnya Suraqah berjanji untuk tidak mengejar Rasulullah saw. dan sahabatnya, membiarkan berlalu sekehendak keduanya.[3]

Apabila seorang muslim sudah terbiasa dengan banyak berdo’a dan berdzikir kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Ada ungkapan, Barangsiapa mengetuk pintu, hampir-hampir pintu terbuka untuknya.

Kiranya Umar Menyitir Firman Allah

“Dan Rabb kalian berkata: “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya aku akan mengabulkan (permohonan) kalian.”” (Qs. Al-Mukmin [40] : 60)

Yahya bin Mu’adz berkata, Barangsiapa hatinya dihadirkan oleh Allah kala berdo’a, niscaya do’a itu tidak akan ditolak.

Ibnul Qayyim bertutur, Apabila hatinya hadir, kebutuhannya benar-benar mendesak dan pengharapannya tinggi hampir-hampir do’a itu tidak akan ditolak.

Do’a adalah pangkal dari segala kebaikan. Ia juga pangkal kemenangan, solusi, hidayah, dan juga taufiq (pertolongan) dalam segala aspek amal Islami; dakwah, tarbiyah, hisbah (ibadah), dan jihad.

Disebabkan oleh do’a Nabi Nuh beserta orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan oleh Allah dan orang-orang kafir ditenggelamkan.

“Maka dia mengadu kepada Rabbnya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh).” (Qs. Al-Qamar [54] : 10-14)

Disebabkan oleh do’a pula nabi Yunus selamat dari perut ikan paus, setelah tiga malam berada di dalam kegelapannya.

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Anbiyaa’ [21] : 87-88)

Disebabkan oleh do’a kesulitan yang menimpa Nabi Ayyub as. dan diangkat oleh Allah.

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Wahai Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”
(Qs. Al-Anbiyaa’ [21] : 83-84)

Disebabkan oleh do’a Nabi Musa as. diselamatkan oleh Allah dari Fir’aun dan kaumnya.

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Wahai Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim itu.” (Qs. Al-Qashash [28] : 21)

Allah juga memberikan taufiq kepada Musa sehubungan dengan dakwahnya kepada Fir’aun dan kaumnya, di samping juga dia meneguhkannya di hadapan mereka. Sungguh posisi Musa pada saat itu benar-benar dalam keadaan yang sulit dan berat. Sampai sejauh mana hal itu, hanya dapat dipahami oleh mereka yang berani menyuarakan kebenaran di mana pun kapanpun.

“Berkata Musa: “Wahai Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku,” (Qs. Thaahaa [20] : 25-26)

Disebabkan oleh do’a Allah menghancurkan dan membinasakan Fir’aun beserta kaumnya, kemudian menguasakan Bani Israil di muka bumi.

“Musa berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Wahai Rabb Kami – akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.””(Qs. Yunus [10] : 88-89)

Contoh lainnya masih banyak sekali. Yang jelas do’a adalah pangkal dari segala kebaikan dan penangkal segala keburukan. Ia juga faktor utama dituturkan rahmat, diangkatnya segala kesulitan, serta pintu gerbang kemenangan dan keayaan.

Catatan Penting Seputar Do’a

Sekarang kita bukan berbicara tentang syarat, adab, lafaz do’a ataupun yang berkaitan dengan masalah itu. Pembicaraan tentang semua hal tersebut bukan disini tempatnya, seabagaimana kita ketahui bersama.

Dalam kesempatan ini saya hanya akan memberikan beberapa catatan tentang perkara-perkara yang sifatnya praktis berkenaan dengan masalah do’a ini. Ada beberapa catatan dalam hal berikut:

  • Seorang ikhwah hendaknya memanjatkan do’a, memohon taufiq dan meminta pertolongan dari Allah setiap akan memulai aktivitasnya, sekecil apapun amal yang akan dilakukannya. Jika hal ini telah menjadi bagian dari kebiasaan, insya Allah target yang diharapkan akan selalu tercapai. Para sahabat terbiasa memohon kepada Rabb mereka jika tali sandal salah seorang dari mereka terputus.
  • Jika anda ingin mendo’akan seseorang supaya beriltizam (bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu), maka memohonlah kepada Allah supaya mendapat hidayah-Nya ditanganmu.
  • Jika anda berangakat untuk berdakwah di suatu desa atau kota, maka berdo’alah dulu.
  • Jika anda merancang langkah-langkah dalam dakwah, perbanyaklah do’a supaya langkah-langkah itu benar-benar penuh berkah dan membawa manfaat.
  • Jika anda hendak berangkat berperang, lipat gandakan do’a mu sekian kali lipat dibandingkan do’a yang kamu panjatkan dalam berbagai urusan dakwah. Mohonlah supaya Allah memenangkan Islam, menolongmu dan memberkatimu dalam perang dan jihadmu.

Ada satu fenomena yang memperihatinkan yang dapat saya saksikan. Saya pernah mendapati sebuah jama’ah yang hampir-hampir tidak mempersenjatai diri dengan do’a. Saya melihat bahaya besar berada di hadapan ummat Islam itu.

  • Jika anda menjumpai banyak ikhwah aktivis di kota anda, misalnya, bermain sepak bola di penghujung siang pada hari jum’at atau mengisinya dengan obrolan santai atau membicarakan dunia dan kesibukannya atau masalah-masalah yang tidak begitu urgen atau sebenarnya bisa ditunda hingga beberapa hari atau beberapa pekan tanpa menimbulkan mudarat atau menyibukkan diri pada saat mulia itu (saat dikabulkannya do’a, dzikir, dan shalawat.) dengan do’a, sesungguhnya anda telah menyaksikan para aktivis yang tidak memperdulikan senjata umatnya dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Anda tengah menyaksikan ada sesuatu yang keliru dan kurang dalam tarbiyah imaniyah (pendidikan keimanan) yang diterapkan atas mereka. Sesungguhnya mereka tidak mengerti sama sekali keutamaan dan nilai waktu pada saat itu. Mereka tidak tahu bahwa menyia-nyiakan waktu sama saja dengan menyia-nyiakan kebaikan yang banyak dan keuntungan yang sangat besar, yang tak tergantikan selam-lamanya.
  • Kenyataannya yang sama dapat anda saksikan ketika beberapa ikhwah mengerjakan hal yang sama di hari agung semisal hari ‘Arafah. Khususnya jika mereka berbuka, tidak berpuasa. Begitupula dengan 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, terkhusus malam ganjilnya. Pada waktu itu, sepantasnyalah seorang aktivis untuk menghidupkan seluruh malam sekuat kemampuannya dengan sholat, ibadah, dzikir, do’a, berbuat kebajikan dan tasbih serta menghindari selain dari itu semua.
  • Saya pernah memperhatikan setan (Semoga Allah melindungi kita darinya) datang pada saat-saat yang sangat berharga itu untuk memalingkan ikhwah dari do’a, dzikir, dan ibadah serta menyibukkan mereka dengan perkara-perkara yang remeh. Mungkin ada sebagian aktivis yang lebih mengutamakan suatu urusan yang sepele dan tidak berhubungan banyak dengan saat i’tikafnya di 10 hari terakhir atau mengganggu rekan-rekan yang lain dengan banyak berdebat dan adu mulut dengan suara yang keras pada malam yang agung, malam-malam ganjil. Lalu perdebatan itu berlanjut samapai terbit fajar dan merekapun keluar dari mesjid sebagai orang-orang yang merugi, tidak memperoleh keuntungan walau cuma sepeserpun. Mereka telah menyia-nyiakan masa 83 tahun lebih karena kejahiliahan mereka pada malam yang ada di malam itu!
  • Fenomena lain yang juga memperihatinkan, ada sebagian aktivis jika ditimpa musibah, kecelakaan atau ujian, mereka membicarakannya berhari-hari. Topiknya : apa penyebabnya, mengapa itu bisa terjadi, bagaimana kejadiannya, siapa saja yang terikat, bagaimana kisah lengkapnya dan seterusnya. Mereka sibuk dan larut dalam perdebatan yang panjang padahal mereka bukan para ahli pengambil keputusan. Pada saat yang kritis itu mereka juga tidak berupaya untuk memperbanyak do’a, dzikir, bersimpuh dihadapan Allah, meghinakan diri dihadapan keagungan-Nya, memperbanyak amal kebajikan melebihi dari yang sebelumnya dan melaksanakan taubat yang menyeluruh dari segala dosa yang telah lewat.

Sebenarnya saya pernah hidup bersama orang-orang yang tidak pernah berhenti dari do’a, baik dikala sendiri maupun saat bersama. Jika mereka atau salah seorang dari umat Islam (walau di ujung dunia) tertimpa musibah, mereka berkumpul. Kemudian saat itu juga mereka mempersilahkan yang paling shalih diantara mereka untuk mendo’akan mereka yang tertimpa musibah sedangkan mereka mengamininya.

  • Jika salah seorang diantara mereka hampir mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an (Padahal setiap hari ada saja yang mengkhatamkannya) maka ia pun mengumpulkan rekan-rekannya supaya mereka berkesempatan untuk berdo’a kepada Allah bersamanya saat ia mengkhatamkan bacaannya. Ia berdo’a dan rekan-rekannya mengamininya.
  • Jika ada yang sakit, tiga atau empat orang dari mereka akan membesuknya dan mendo’akannya dengan do’a-do’a yang ma’tsur (dari Rasulullah). Jika saat-saat dikabulkannya do’a tiba (di penghujung siang pada hari Jum’at, misalnya) dengan sendiri-sendiri atau berkumpul mereka berdo’a, begitu pula disaat hujan turun merekapun berdo’a.
  • Jika mereka mendapatkan nikmat, solusi atau kemenangan (sekecil apa pun) niscaya mereka memuji Rabb mereka, bersyukur kepada-Nya dan memohon kepada-Nya supaya ditambahkan kepada mereka fadl (keutamaan)-Nya. Dapat disaksikan juga, mereka bersujud dalam rangka bersyukur kepada Allah hanya karena mendengar berita datangnya nikmat itu. Demikianlah, do’a telah menjadi karakter dan tabiat mereka. Mereka melakukannya tanpa merasa terbebani sedikitpun. Mereka benar-benar kawan dan sahabat yang sangat mulia.
  • Ajaib sekali, jika anda mendengar ada seorang aktivis yang sama sekali tidak mendo’akan kedua orang tuanya; baik kala keduanya masih hidup maupun setelah kematiannya. Saya pernah mendapati seorang aktivis yang telah ditinggal mati oleh salah satu atau kedua orang tuanya selama sekian tahun, namun selama itu pula tidak satu do’a pun dipanjatkan untuk keduanya. Sungguh ini adalah musibah besar! Ini sama saja dengan durhaka kepada keduanya.
  • Mencengangkan juga, ada seorang aktivis yang salah satu syekhnya meninggal dunia atau komandannya atau gurunya yang telah mengajarinya urusan dien selama bertahun-tahun, namun sekali pun ia tidak mendo’akannya atau memohonkan ampun untuknya! Apa lagi ini kalau bukan karena juhud (ingkar) dan durhaka?!

Seberapa berat sih, beban yang dituntut dari mendo’akan saudara atau syekh? Tidak berat sama sekali! Belum lagi bahwa jika anda berdo’a anda pulalah yang akan memetik faedah atau manfaat dari do’a itu. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Darda’ ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

  • Do’a seorang muslim bagi saudaranya di saat terpisah darinya akan dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang bertugas. Setiap kali ia memohon kebaikan bagi saudaranya, malaikat yang bertugas itu akan berkata, “Aamiin dan semoga kamu akan mendapatkan yang semisal dengannya!”[4]
  • Imam Ahmad senantiasa mendo’akan guru-gurunya, Imam Syafi’i, setiap usai menunaikan shalat. Pernah beliau berkata kepada putera Imam Syafi’i, “Ayahmu termasuk enam orang yang selalu aku do’akan setiap sehabis shalat.”

Mestinya seorang aktivis Islam mengingat orang-orang yang telah berjasa untuk Islam dalam setiap do’anya. Orang-orang yang meninggalkan pengaruh yang nyata dalam kehidupan kaum muslimin; seperti orang yang pertamakali menyuarakan Islam di negerinya, atau di universitasnya atau di kotanya, misalnya.

  • Adalah Ka’ab bin Malik selalu mendo’akan dan menmohonkan ampunan bagi As’ad bin Zahararah setiap kali ia mendengar adzan Jum’at. Suatu saat anaknya bertanya, “Wahai Ayah, mengapa setiap kali Ayah mendengar adzan Jum’at Ayah selelu mendoakan Abu Umammah?” “Wahai anakku, beliau adalah orang yang pertama kali mengimami shalat Jum’at kami di Madinah,” jawabnya. Putranya bertanya lagi, “Berapa jumlah kalian waktu itu?,” “Empat puluh orang laki-laki,” jawabnya.[5]

Seorang aktivis mestilah senantiasa mendo’akan qaid (Pemimpin) beserta orang-orang yang berada disekitarnya secara khusus dan para pemimpin Islam pada umumnya. Begitu pula dengan memperjuangkan kejayaan kaum muslimin.

Seorang aktivis haruslah rutin mendo’akan kaum muslimin yang berada di dalam penjara seluruh dunia. Mereka adalah orang-orang yang paling berhak untuk didoa’akan. Mereka berada dalam ujian berat dan kesulitan besar. Mereka berada di tangan musuh yang melakukan apa saja yang mereka mau.

  • Rasulullah saw. pernah memanjatkan do’a qunut selama sebulan penuh untuk tiga orang sahabat yang tertawan di Mekkah. Kaum musyrikin Mekkah menyiksa mereka dan memaksa mereka untuk murtad. Di antara do’a yang beliau panjatkan berbunyi, “Yaa Allah selamatkan Khalid bin Walid, Salamah bin Hisyam, dan ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah.”[6]

Para aktivis mestinya juga mendo’akan kecelakaan bagi musuh-musuh Islam dan orang-orang yang memerangi Islam serta menghalangi dakwah dijalan Allah; juga bagi tokoh-tokoh kafir dan sekuler; seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. selama sebulan penuh juga beliau mendo’akan Ri’al, Dzakwan, dan ‘Ushayyah yang telah mengeksekusi, membunuh sahabat-sahabatnya di sumur Ma’unah.[7] Beliau juga mendo’akan Kisra, penguasa Persia. Ketika ia merobek-robek surat Rasulullah saw. beliau berdo’a kepada Allah supaya Dia meluluhlantahkan kerajaannya.[8]

Saya kagum dengan apa yang dilakukan oleh sesepuh kita, Bilal bin Rabah setiap pagi. Seorang wanita Anshar dari Bani Najjar[9], mangisahkan, katanya, “Rumahku adalah rumah yang paling tinggi diantara rumah-rumah yang ada disekitar mesjid. Bilal biasa mengumandangkan adzan subuh di atas rumahku. Ia biasa dantang pada waktu sahur (beberapa menit sebelum adzan), duduk di atas rumah menunggu waktu fajar. Jika ia telah melihatnya, ia pun berdiri sambil berdo’a, ‘Yaa Allah, sesungguhnya aku memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu dalam menegakkan dien-Mu untuk kehancuran orang-orang Quraisy.’ setelah itu barulah ia mengumandangkan Adzan.”[10]

Do’a memohon bencana atas thogut, pemimpin-pemimpin kufur, bala tentara mereka dan antek-antek mereka sangatlah urgen. Banyak hadits memberitakannya; yang paling masyhur adalah do’a Rasulullah saw.

“Yaa Allah, yang telah menurunkan al-Kitab, yang menggerakkan awan dan sangat cepat hisab-Nya, hancurkanlah sekutu-sekutu itu!”[11]

Masih banyak do’a-do’a lain yang terpampang dalam kitab-kitab dan dzikir. Anda dapat merujuknya.

Saya pernah dibuat takjub oleh seseorang aktivis muda, baru duduk dibangku SMU, sebelah tangan dan kakinya invalid. Setiap kali ia merasakan kesuliatn dalam berjalan, ia berdo’a memohon bencana atas Fir’aun masa ini dan para kaumnya.

  • Kepada para aktivis, hendaknya tidak lupa untuk mendo’akan masyarakat awam supaya mereka mendapatkan hidayah, petunjuk dan kembali ke jalan kebenaran, jalan yang lurus. Jangan lupa juga untuk mengkhususkan do’a bagi para pemuda Islam. Semua ini dalam rangka meneladani do’a Nabi saw.

“Yaa Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.”[12]

Beliau juga memanjatkan do’a ini, “Yaa Allah, tunjukilah kabilah Daus.”[13]

Masih banyak sekali atsar berkenaan dengan masalah ini, semuanya menjelaskan besarnya kasih sayang Nabi kepada ummatnya, kecintaannya untuk memberi petunjuk bagi mereka dan kuatnya keinginan beliau terhadap mereka. Bagaimana tidak, sedangkan Allah telah berfirman, “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (Qs. Asy-Syu’araa’ [26] : 3) Mestinya hal ini melimpah ruah dalam setiap aktivitas Islam.

* * *

FOOT NOTE :

[1] Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi 3247, Abu Dawud 1479, Ibnu Majah 3828,  Ahmad 4/267, al-Hakim 1/491, ia mensahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabiy, dari Nu’man bin Basyir r.a. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Do’a itu adalah ibadah.” Kemudian Beliau membaca ayat (Al-Mu’min [40]:60). Dinyatakan sahaih juga oleh Syeikh al-Albaniy.

[2] Diriwayatkan oleh Musli 12/84 dari ‘Umar bin Khattab r.a., al-Bukhari juga meriwayatkan  7/224 semisal dengan hadits ini dari Ibnu ‘Abbas r.a.

[3] Kisah Suraqah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya dari Suraqah bin Malik 7/237 dan dari Anas bin Malik 7/250.

[4] Dalam shahih Muslim 17/50. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah 2895, Ahmad 5/195 dari Abu Darda’ dan Ummu Darda’ r.a.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud 1069, Ibnu Majah 1082, al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/187 dari ‘Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syeikh Albani.

[6] Diriwayatkan oleh al-Nbukhari 8/264, Muslim 5/176, Abu Dawud 1442 dan an-Nasa’i 2/203 dan Ahmad dakam Musnad 3/210 dari Anas bin Malik r.a.

[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 7/385-389, Muslim 5/177-180, Abu Dawud 1443, dari Anas bin Malik r.a.

[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhar 8/621 dan Ahmad 1/243 secara mursal dari Sa’id bin Musayyib. Ibnu Hajar berkomentar, “Kemungkinan Ibnul Musayyib mendengarnya dari ‘Abdullah bin Huzafah, pembawa kisah.”

[9] Di dalam at-Thabaqat, Ibnu Sa’ad menyebutkan bahwa wanita itu adalah Nawwar ibunda Zaid bin Tsabit. Demikina pula disebutkan dalam al-Manhalul ‘Adzbul Maurud 4/181.

[10] Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq seperti tersebut dalam Sirah Ibnu Hisyam vol I/509 dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud 519 dari Ibnu Ishaq. Atsar ini dihasankan pula oleh Syeikh al-Albaniy.

[11] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 6/120, Muslim 12/43, Abu Dawud 263, Ibnu Majah 2796 dari ‘Abdullah bin Abu Aufa r.a.

[12] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 12/282, Muslim 12/149, Ibnu Majah 4025, Ahmad 1/380 dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Dalam lafazh al-Bukhari disebutkan, “Seakan aku melihat Nabi saw. mengisahkan tentang seorang Nabi yang dipukul oleh kaummnya sampai berdarah-berdarah, lalu ia menghapus darah dari wajahnya seraya bedo’a, “Duhai Rabbku, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka adalah orangorang yang tidak mengerti”. Dalam Fathul Baari, Ibnu Hajar menyatakan bahwa Nabi itu adalah Nabi Nuhas. Ibnu Hajar juga menulis, “Kemungkinan, ketika itu terjadi pada diri Nabi saw. lalu beliau menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa hal itu pernah terjadi pada diri seorang Nabi sebelum beliau”. Fatul Baari 6/521.

[13] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 8/101, Muslim 16/77, Ahmad 2/243 dari Abu Hurairah r.a. katanya, Thufail bin ‘Amru menghadap Nabi saw. mengadu, Sesungguhnya kabilah Daus telah binasa; bergelimang kemaksiatan dan enggan untuk menerima seruan. Oleh karena itu mohonkanlah bencana kepada Allah atas mereka. ‘Maka (baca : namun) beliau berdo’a, “Yaa Allah, tunjukilah kabilah Daus dan datangkanlah mereka kesini.”

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s