Nasehat Ke Dua Puluh Tiga “MENGAPA DO’A TIDAK TERKABUL”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam23

“Saat terjadi penundaan ijabah (terkabulnya do’a), saat itulah iman dimurnikan dan akan menjadi jelaslah beda antara mukmin sejati dengan selainnya.  Seorang mukmin disaat ijabah (terkabulnya do’a) tertunda, batinnya tidak akan berubah dalam menghadap Rabbnya, sebaliknya justru ‘ubudiyyahnya (ibadah) kepada Allah ‘azza wa jalla akan semakin bertambah.”

MENGAPA DO’A TIDAK SEGERA TERKABUL?

Disini saya ingin mengingatkan para aktivis akan suatu hal yang teramat penting. Sangat mungkin ada di antara anda sekalian yang berdo’a kepada Rabbnya, memohon sesuatu, ia terus berdo’a dan berdo’a, namun selama itu ia tidak segera mendapati do’anya terkabul, lalu saat itu juga ia berhenti berdo’a dan berputus asa, merasa tidak akan terkabul selamanya. Sesungguhnya inilah larangan Rasulullah saw. dalam sabda beliau, “Seseorang dari kalian akan terkabul (do’anya) selama ia tidak tergesa-gesa, mengucapkan kalimat: “Sungguh, aku telah memohon kepada-Mu, wahai Rabbi, namun belum juga terkabul.””[1]

Dalam riwayat muslim; seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu tergesa-gesa?” beliau menjawab, “Mengatakan ‘Aku telah banyak berdo’a tetapi aku tak kunjung melihatnya terkabul’ lalu ia merasa rugi.”

Hendaknya diketahui bahwa ada banyak faktor keterlambatan terkabulnya sebuah do’a. Dan mesti diingat juga bahwa Allah memiliki hikmah di balik keterlambatan ini. Di antara hikmah tersebut sebagai berikut :

  1. Bisa jadi dikarenakan anda belum memenuhi syarat wajib do’a; tidak menghadirkan hati, waktunya kurang tepat, kurang khusyu’, kurang khudlu’ (merasa rendah), kurang tadzallul (merasa hina) dan kurangnya adab-adab serta syarat-syarat yang lain.
  2. Bisa jadi dikarenakan suatu dosa hal mana anda belum bertaubat anda belum sungguh-sungguh. Bisa jadi juga dikarenakan adanya syubhat dalam makanan dan minuman anda atau adanya suatu kezhaliman yang pernah anda lakukan dan anda belum sempat meminta maaf kepada pihak yang terzhalimi. Semestinya anda memnuhi semua syarat taubat nasuha (taubat yang sebenarnya) dan mengembalikan hak-hak hamba kepada pemiliknya. Ini semua adalah faktor utama tertundanya ijabah (terkabulnya do’a). telah dinyatakan dalam sebuah haduits, “Wahai Sa’ad, makanlah hanya yang halal, niscaya do’a-do’amu akan terkabul.” telah dinyatakan pula dalam sebuah hadits shahih, “Kemudian beliau menyebut ada seseorang dengan rambut acak-acakan dan tubuh penuh debu mengangkat tangannya kelangit seraya memohon, ‘Duhai Rabbi, duhai Rabbi!’ padahal makanannya haram, minumannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram, lalu bagaimana mungkin do’anya dikabulkan?!”[2] karena itu semua, seharusnya anda membersihkan jalan anda menuju ijabah (terkabulnya do’a) dari berbagai kotoran dosa.
  1. Bisa jadi Allah menyimpan pahala itu dan memberikannya kepada anda kelak di akhirat. Atau bisa jadi dengan do’a itu sesuatu yang buruk yang sepadan dengan pahala do’a anda, disingkirkan dari anda.

Sang Pemilik mempunyai hak untuk mengatur semua miliknya, menahan sesuatu, atau memberikannya. Jika Dia memberikannya maka itu merupakan anugerah dari-Nya, dan jika Dia menahannya maka itu karena keadilan-Nya dan Dia memiliki alasan untuk itu.

Juga, supaya anda tahu bahwa anda bukanlah buruh yang bisa marah jika gaji anda tidak diberikan.

Supaya anda juga tahu makna sabda Nabi saw. pasca perjanjian Hubaidiyah, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan diriku selamanya.”[4]

Saat terjadi penundaan ijabah (terkabulnya do’a), saat itulah iman dimurnikan dan akan menjadi jelaslah beda antara mukmin sejati dengan selainnya. Seorang mukmin disaat ijabah (terkabulnya do’a) tertunda, batinnya tidak akan berubah dalam menghadap Rabbnya, sebaliknya justru ‘ubudiyyahnya (ibadah) kepada Allah ‘azza wa jalla akan semakin bertambah.

Saat itu hendaknya seorang muslim mengingat bahwa sejak Ya’qub ‘alaihis salam kehilangan anak kesayangannya, Yusuf ‘alaihis salam, ia terus berdo’a meski ijabah (terkabulnya do’a) atas do’anya tertunda beberapa waktu. Diriwayatkan, ia terus-menerus berdo’a salama 40 tahun. Tidak berhenti sampai disitu, bahkan ujiannya bertambah. Ia kehilangan anaknya yang satu lagi Bin Yamin, dan matanya memutih, buta karena sedih. Namun demikian, ia yakin bahwa jalan keluar dari Allah sudah sangat dekat. Ia berucap “Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).” (Qs.Yusuf [12] : 38) 

Jalan keluar itu datang dari sisi Allah. Allah kembalikan matanya, Yusuf dan Bin Yamin sekaligus.

* * *

FOOT NOTE :

[1]  Diriwayatkan oleh al-Bukhari 11/140, Muslim 17/51-52 dari Abu Hurairah r.a.

[2]  Diriwayatkan oleh Muslim 7/100, at-Tirmidzi 2989, Imam Ahmad 2/328 dari Abu Hurairah r.a.

[3]  Diriwayatkan oleh at_Tirmidzi 5373 dan dinyatakan sebagai hadits sahih.

[4]  Diriwayatkan oleh al-Bukhari 6/281, Muslim 12/140, Ahmad dalam Musnad 3/486 dari Sahal bin Hanif r.a.

* * *

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s