Nasehat Ke Dua Puluh Empat “PERBARUILAH IMAN MU!”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam24

“Bagaimana bisa Al-Qur’an menuntun keimanan dari orang-orang yang beriman sedangkan mereka telah beriman? Bahkan khithab (objek) ayat tersebut berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman…” apa sebenarnya makna iman yang dituntut oleh Al-Qur’an ini? Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya ayat ini menuntut mereka untuk senantiasa memperbarui iman. Yang demikian itu karena memang iman memerlukan pembaruan dari waktu ke waktu.” 

PERBARUILAH IMAN MU!

Wahai saudaraku yang mulia, perbaruilah selalu imanmu dari waktu ke waktu. Pembaruan ini sangat penting bagi setiap muslim umumnya dan para aktivis khususnya. Mengapa? Karena seorang aktivis Islam sangat mungkin disibukkan dengan amal dakwah, manajemen berbagai urusan dan kebutuhan, serta memikirkan semuanya. Atau disibukkan dengan banyaknya kerja nyata dalam amal Islami ataupun upaya untuk menghadapi musuh dengan berbagai metode yang disyariatkan Islam.

Amal-amal di atas sangat mungkin menyita waktu sehingga tiada lagi waktu untuk amal hati serta perhatian yang seharusnya diberikan kepadanya.

Sungguh, seorang muslim berjalan menuju Allah dengan hatinya, bukan dengan anggota badannya. Kedudukan anggota badan dalam kebaikan tidak lain dan tidak bukan adalah reflektor dari shalihnya hati dan himmah (keinginan)nya untuk melakukan kebaikan itu. Tersitanya waktu itu tentunya dapat mengakibatkan taqshir (berkurangnya kualitas), sehingga akan berkuranglah sebagian dari makna iman batin dari hati, keikhlasannya kepada Allah, misalnya. Mungkin saja pada suatu masa, seorang aktivis akan mencari-cari keikhlasan yang pernah dimilikinya di awal-awal iltizam (menuntut ilmu)nya.

Ada beberapa hal yang mungkin berkurang dari seorang aktivis diantaranya: “Kejujuran, keyakinan, kezuhudan, tawakkal, khasyyah, ibadah, ketundukan, dan mahabbnya.” Bisa saja seorang aktivis setelah masa berlalu beberapa saat mengandaikan kondisi hatinya dapat kembali seperti saat ia beriltizam pertama kali bersama para ikhwah. Semua ini hadir sebagai buah dari sikap meremehkan amalan hati. Anda akan melihat (setelah masa berlalu beberapa saat) ada aktivis yang terlalu banyak mengobrol tanpa ada urgensinya, ada yang terlalu melakukan hal-hal yang mubah semisal banyak makan dan banyak gaul tanpa ada mashlahat diennya, banyak tidur dan malas, tidak mengupayakan manajemen waktu, serta membiarkannya berlalu tanpa ada faedah atau mashlahat syar’iyyah. Ya, walaupun yang ia kerjakan bukan sesuatu yang haram atau makruh. Ini semua penyebabnya adalah taqshir (keselamatan dan ketidak seriusan), termasuk hal mubah yang banyak menyita waktu tanpa imbalan dien dan bahkan dunia. Yaitu meremehkan perintah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam. yang telah menyeru kepada setiap muslim untuk memperbarui imannya apapun kelas imannya, apa pun amalnya dan setinggi apa pun kedudukannya di dalam sebuah jama’ah Islam. Beliau telah bersabda:

“Perbaruilah dien kalian!”[1]

Beliau juga sering sekali bersumpah dengan mengucapkan kata

“Tidak, Demi (Dzat) yang membolak-balikkan hati”[2]

Saya telah mendapati banyak sekali fenomena ‘futur‘ (putus asa) pada diri sebagian aktivis Islam atau keterpurukan mereka dalam kubangan syubhat dan syahwat disebabkan mereka kurang memperbarui iman. Dan ini adalah tanggung jawab bersama antara pribadi, qaid (pemimpin) dan jama’ah itu sendiri.

Banyak pula kita jumpai aktivis-aktivis yang telah mencapai prestasi yang baik dalam beriltizam dan beramal di dalam Islam, begitu pula “Hai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kitab yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan sebelumnya.” (Qs. An-Nisa [4] : 136)

Dalam salah satu kajian beliau, dihadapan para ikhwan beliau mengatakan, “Bagaimana bisa Al-Qur’an menuntut keimanan dari orang-orang yang beriman sedangkan mereka telah beriman? Bahkan khithab (objek) ayat tersebut berbunyi “Hai orang-orang yang beriman…” apa sebenarnya makna iman yang dituntut oleh Al-Qur’an ini? Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya ayat ini menuntut mereka untuk senantiasa memperbarui iman. Yang demikian itu karena memang iman memerlukan pembaruan dari waktu ke waktu.”

* * *

FOOT NOTE:

[1]  Hadits riwayat at-Tirmidzi 5322 dan Ahmad 6/294 dari Ummu Salamah r.a. dengan sedikit perbedaan, hdaits ini diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi 2140 dan Ibnu Majah 3834 dari Anas bin Malik.

[2]  Hadits riwayat al-Bukhari 11/523, at-Tirmidzi 1540, an-Nasa’i 7/3, Ibnu Majah 2092, dan Ahmad di dalam Musnad 2/26 dari ‘Abdullah bin ‘Umar

* * *

Oleh : Dr. Abdullah Azzam

“Nasehat-nasehat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Sallam – Penawar Lelah Pengemban Dakwah”

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s