Nasehat Ke Dua Puluh Lima “BAGAIMANA MEMPERBARUI IMAN?”

Naseat2 Rasulullah saw - oleh Abdullah Azzam25

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Qs. Ar-Rum [30] : 30)

BAGAIMANA MEMPERBARUI IMAN?

            Akan tetapi, bagaimana cara kita memperbarui iman?

Jawaban tuntas dari pertanyaan ini tentunya bukan pada lembaran-lembaran dan risalah tipis ini. Namun secara sekilas kita dapat membahas sebagiannya. Yah, sekedar menunjukkan siapa tahu dapat mencukupi untuk sementara waktu.

Manusia yang mendapat taufiq adalah mereka yang memahami substansinya, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain.

Urusan memperbarui iman adalah urusan yang mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah dan serius mempersiapkan hati, jiwa, dan ruhnya untuk itu.

Ada banyak perantara yang dapat membantu seorang hamba di dalam memperbarui imannya. Diantaranya: berziarah kubur dan mengunjungi orang-orang shalih lagi bertaqwa: (para ulama terpercaya, para mujahid, dan para mukhlisin). Juga, membaca sirah as-salafussahalih, sirah para ahli ibadah, ahli zuhud, para mujahid, para penyeru kebenaran, orang-orang yang sabar, orang-orang yang pandai bersyukur. Juga membicarakan sirah mereka bersama dengan beberapa ikhwan, merenungi catatan sejarah, mengupayakan peningkatan intensitas daripada yang sudah-sudah, melaksanakan ‘umrah di bulan ramadhan bagi yang mampu, menyendiri selama beberapa saat setiap hari untuk merenung dan memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan Sirah.

1. Membaca Sirah

            Sudah sekian lama menjadi kurikulum tetap di sekolah-sekolah menengah. Menurut mereka kitab ini membawa implikasi yang sangat berbahaya bagi para pelajar seusia mereka. Padahal sebenarnya buku ini jauh “memadai” bagi siapa pun yang ingin mengkaji sirah Khalid bin Walid secara komperhensif. Itupun telah membawa pengaruh yang dahsyat bagi ummat.

Sirah Khalid bin Walid dan orang-orang semisal dengannya menjadikan seorang muslim memandang rendah terhadap dunia, daya tariknya, dan kelezatannya yang fana. Ia akan menjadikannya melangkah di alam buana sementara semangatnya melambung ke angkasa. Ia juga akan memandang kerdil terhadap dirinya sendiri yang senantiasa memikirkan dan selalu tergantung kepada materi dan kenikmatan sesaat.

Betapa sirah manusia seperti mereka telah mengkisi faktor-faktor kegentaran dan sebab-sebab ketakutan serta tipu daya setan dari dalam hati. Alangkah banyak hati yang telah diantarkannya ke “istana” tawakkal yang benar kepada Allah.

Membaca sirah ahli zuhud dan orang-orang shalih akan menumbuhkan “pohon” zuhud terhadap dunia di dalam hati. Terus membacanya berarti menyirami pohon itu hingga akhirnya akan tumbuh besar dan menghasilkan buah setiap saat, dengan seizin Rabb-nya.

Sirah ahli ibadah akan mendidik diri untuk mencintai shalat malam, shiyam sunnah, dzikir, do’a, khusyu’, dan tangis.

Sebelum saya akhiri pembicaraan tentang masalah ini saya ingin mengingatkan adanya dua hal penting:

Pertama, Hendaknya sirah yang dibaca bukan sirah mereka yang hidup hingga zaman tertentu, tetapi hendaklah mulai dari zaman sahabat sampai zaman kita hidup ini.

Kedua, membaca sirah ini hanya akan berubah seperti yang diharapkan manakala hati orang yang membacanya saat itu benar-benar kosong dari berbagai kesibukan dan halangan. Ia mesti hidup dengan perasaan, hati dan seluruh bagian tubuhnya bersama sirah mereka yang semerbak itu. Orang yang membaca sirah ini mesti membebaskan diri dari berbagai halangan dan pautan yang menghalanginya dari menyelami lautan kenikmatan.

Jika misalnya untuk memberikan pelajaran yang disarikan dari perjalanan hidup mereka (khusyunya pelajaran keimanan) membacanya haruslah seorang aktivis teladan, yang telah dikaruniai ilmu yang berlimpah tentang Allah dan perintah-Nya, juga ditambah lagi pemahamannya yang mendalam berkenaan dengan sirah dan tarikh Islam, jika kita dapat memenuhi semua syarat itu, sungguh kita telah melakukan kebaikan yang banyak. Namun pada kenyataannya, syarat-syarat ini tidak ada dalam diri kebanyakan aktivis. Sedikit sekali yang memenuhinya. Kendati jumlah mereka sedikit, peran mereka dalam meningkatkan keimanan sangatlah besar.

2. Khalwah (Menyendiri)

         Salah satu sarana untuk memperbarui keimanan, hendaknya seorang aktivis menyediakan waktu khusus di luar waktu Qiyamullail, dzikir, dan tilawahnya untuk menyendiri. Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa seorang yang berakal itu membagi waktunya menjadi empat: salah satunya waktu yang ia isi untuk menyindiri, merenungi diri.

Bagi para aktivis Islam waktu untuk menyendiri ini sangatlah penting. Di saat ia dapat menyendiri bersama Rabbnya, Penolongnya, dan Khaliknya, ia dapat sungguh-sungguh bersama Dzat yang paling dicintainya dan di saat itu ia dapat merasakan manisnya bermunajat kepada-Nya.

Selain itu, dengan khalwah ini seorang aktivis bisa mengintrospeksi diri dan menghitung-hitung semua yang telah dikerjakannya tanpa ada gangguan dari orang yang memujinya. Di saat itu pula ia mengintrospeksi diri sambil menghayati ‘ubudiyyahnya di hadapan Penolong dan Khaliknya. Di saat itu pula ia berkesempatan untuk mengingat dosa-dosa, kemaksiatan, batinniyah yang tidak diketahui oleh orang-orang yang selama ini memujinya, yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Di saat khalwah inilah ia bisa mencucurkan air mata penyesalan dan taubat nashuha, menangis karena takut, malu, cinta, khusyu’ kepada Allah yang Maha Suci. Semoga saja air mata yang mangalir itu adalah air mata kejujuran yang manfaatnya jauh lebih besar daripada amal yang selama ini dibanggakannya.

Sangat mungkin anda menjumpai seorang aktivis yang telah bertahun-tahun beriltizam namun tak setetes air matapun membasahi pipinya karena takut dan malu kepada Allah.

Siapa saja yang keadaannya demikian, hendaknya ia mencatat bahwa faedah yang dibawanya dalam dien hampir-hampir tak bisa disebut.

Siapa saja yang keadaanya demikian, mestinya menyadari bahwa ia tidak termasuk kedalam salah satu kategori manusia yang dikabarakan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Sallam akan mendapat naungan Allah di bawah ‘Arasy pada hari tiada naungan selain naungan-Nya. Beliau bersabda,

“Dan laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendiriannya lalu air matanya mengalir.”[1]

Perhatikan kata “Khaliyan” yang berarti “dalam kesendirian” pada hadits di atas. Benar, orang itu berada dalam keadaan sunyi, jauh dari sum’ah (pamer), dan riya’ (agar dilihat orang lain). Ia ditemani oleh kemurnian dan keikhlasannya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Pada saat khalwah ini ia dapat mengingat-ingat nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya, kepada saudara-saudaranya, dan kepada jama’ahnya. Ia dapat pula merenungkan ikram (kemuliaan) dari Allah untukknya; yang terbesar adalah nikmat hidayah.

Di saat ia akan mengulang-ulang firman Allah

“Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Qs. Al-A’raf [7] : 43)

Ia juga dapat memikirkan bagaimana umat merespons dan menjawab seruannya bukan karena kefasihannya, retorikanya, kekuatan logikanya, atau kemampuan hujjahnya, melainkan karena taufiq (pertolongan) dari Allah, kemurahan-Nya dan anugerah-Nya secara mutlak.

Demikian seterusnya, ia akan menghitung semua nikmat dalam khalwah itu. Lalu ia tidak lupa mengingat bahwa Allah sajalah yang membalikkan tipu daya mereka berbalik kepada diri mereka sendiri, dan bukan karena jihad, perencanaan, persiapan, serangan, atau pengaturan yang dilakukan. Semuanya adalah anugerah dari Allah, fadlullah. Sekiranya bukan karena anugerah-Nya, semua yang dikerjakannya pasti akan mengakibatkan tindakan biadab musuh terhadapnya dan saudara-saudaranya serta menjadi faktor utama kehancurannya. Hanya Allah yang menyelamatkan

“(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Qs. Al-Anfal [8] : 43)

Sebenarnya ia juga memikirkan betapa semua nikmat ini wajib disyukurinya dengan sepenuhnya.

Lalu, bagaimana kesyukuran itu? Sudahkah ia bersyukur?!

Pada saat khalwah itu, ia dapat mengingat-ingat cobaan dan musibah yang menimpanya dan juga saudara-saudaranya, kalau-kalau penyebabnya adalah dosa-dosanya, apalagi jika ia menduduki posisi qiyadah (pemimpin) dan jajarannya. Kemudian hatinya terus mengumandangkan firman Allah

“Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”” (Qs. Ali-‘Imran [3] : 165)

Dan selanjutnya ia bertekad untuk bartaubat dari dosa-dosa itu, menambal lubang, dan memperbaiki aib diri. Atau bertekad yang semisal dengan itu, jika kemaksiatan dilakukan oleh saudaranya. “Turunya musibah itu hanyalah karena dosa, dan baru diangkat karena tubat.” Demikian menurut penuturan sebagian ulama ‘salaf.

Dalam khalwah itu ia akan membiasakan diri untuk memperhatikan faktor-faktor turunnya bala’ degan seksama menurut kacamata syari’at, bukan kacamata dunia.

Masih banyak hal yang tidak dapat saya sebutkan disini.

3. Melakukan Aktivitas Penumbuh Tawadhu’

            Salah satu sarana untuk memperbarui keimanan, pada waktu tertentu hendaknya seorang aktivis melakukan suatu aktivitas yang dapat mendidiknya bersikap tawadhu’ dan menghilangkan faktor ujub’ (bangga diri). Terlebih pada saat seorang aktivis merasa mulai dijangkit penyakit ‘ujub ini atau diingatkan oleh salah seorang ustadz atau syaikh bahwa ia mulai dijangkitnya. Tentu saja ini dengan catatan, aktivitas yang akan dilakukannya itu tidak melalaikannya dari tugas utamanya dalam dien. Diantara aktivitas itu misalnya: mengambilkan dan memakaikan alas kaki seorang buta yang pulang dari mesjid lalu menuntunnya sampai kerumahnya, ikut membereskan, mengepel, dan menyapu mesjid, terjun langsung membantu anak-anak yatim atau orang-orang sakit dengan memenuhi kebutuhan mereka, atau berangkat sendiri untuk berbelanja, menyelamatkan salah seorang anak aktivis yang tertangkap musuh – ini baru sebagian contoh – dan semua ini akan mendatangkan manfaat yang banyak. Lembaran-lembaran ini tidak cukup untuk menyebutkannya.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Umar bin Khattab Radhiyullahu’anhu pernah memanggul karung air di atas punggungnya untuk memenuhi kebutuhan air di rumah sebagian kaum muslimin. Saat ditanya ia menjawab, “Aku tengah diliputi sikap ‘ujub dan karenanya aku ingin mendidik diriku sendiri.”

Ia juga mengobati unta yang terkena penyakit kulit.

Ia juga sering berlomba dalam kebaikan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyullahu’anhu untuk mengunjungi salah satu janda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Sallam untuk memasak atau menyapu disana, bahkan membuat adonan roti untuk mereka! Hanya saja, Abu Bakar selalu mendahuluinya. Dalam masalah ini banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan. Namun, sekali lagi dengan syarat tidak melupakan dan melalaikan diri dari tugas utama dalam dien (dakwah).

 4. Ziarah Kubur

            Salah satu sarana memperbarui keimanan, hendaknya seorang aktivis menyempatkan diri untuk berziarah kubur, duduk di sana beberapa saat guna bertadabbur, merenung, berdo’a untuk sendiri dan juga untuk kaum muslimin yang telah mendahuluinya, menghayati kematian dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelahnya atau merenungkan seandainya ia bertukar tempat dengan penghuni kubur yang ada di depannya, bagaimana kira-kira hisabnya, dengan jawaban apa ia akan menjawab pertanyaan dari Rabbnya, dan apa ia akan selamat atau justru celaka?!

Selanjutnya ia bisa merenungi bahwa di antara sekian orang yang sudah meninggal itu ada yang kuat, yang lemah, yang zhalim, yang mazhlum (terzhalimi), yang kaya, yang fakir, yang berkuasa, yang papa, yang muda, yang tua, yang shalih, dan yang durjana. Semuanya kini berada di tempat yang sama, di bawah tanah dan telah meninggalkan dunia beserta perhiasannya. Mau tidak mau mereka telah meinggalkan orang-orang yang dicintainya dan para sahabat. Sedangkan yang menemaninya saat itu tinggalah amal mereka; barang siapa shalih amalnya, kuburnya adalah taman dari sekian taman surga, dan barang siapa tidak demikian maka kuburnya adalah jurang dari sekian jurang neraka. Semoga Allah melindungi kita dari yang terakhir ini.

Dalam ziarah kubur seorang ikhwah akan dapat memikirkan dosa-dosanya dan kekurangseriusannya dalam beramal. Ia dapat memusatkan seluruh pikirannya dalam masalah itu, kemudian ber’azam (berjanji kepada Rabbnya) dengan sebenar-benarnya untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh beramal dalam rangka menegakkan Islam.

Menakjubkan! Anda dapat menemui sebagian ikhwan yang aktif dalam amal Islam selama bertahun-tahun, namun sekali pun ia belum pernah berziarah kubur. Bahkan ada yang sudah ditinggal mati oleh salah satu atau kedua orang tuanya, nemun sekali pun ia belum pernah menziarahi kubur keduanya. Ini jelas merupakan tanda kekurangseriusan di dalam memenuhi kewajiban dan bukti tiadanya bakti kepada kedua orang tua.

Rasulullah saw. telah menganjurkan ziarah kubur. Beliau bersabda, “Berziarah kuburlah kalian sesungguhnya ziarah kubur itu akan mangingatkan kalian kepada akhirat.”[2]

Seorang wanita pernah datang kepada Aisyah Radhiyullahu’anha mengadukan kekerasan hatinya. Aisyah menasihatnya supaya ia memperbanyak dzikrul-umat (mengingat mati) dari waktu ke waktu. Wanita itu pun kembali menemui Aisyah untuk berterima kasih atas nasehat yang diberikan kepadanya.

Ada seorang ulama mujahid yang setiap habis Subuh selalu menemani ikhwan yang berziarah kubur. Biasanya beliau disana menasehati mereka dengan nasehat yang membekas. Dalam salah satu nasehatnya pernah ia berkata, “Jika saja Allah tidak memberikan rizki syahadah kepada kita, niscaya kita akan disiksa dengan adzab yang pedih. Dosa-dosa kita sangatlah banyak, sedangkan amal kita sangatlah sedikit.” Lalu beliau menangis dan menangislah semua yang hadir.

Sejak sepuluh tahun terakhir, para da’i, mahasiswa, dan mushlihun di Universitas Asyuth selalu mengadakan rihlah ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu. Peserta rihlah ini biasanya lebih dari 30 orang, lalu salah seorang dari kami berbicara, memberi mau’izah (nasehat) yang berbobot dan ringkas kepada hadirin tentang kematian, hari kiamat, dan taubat. Setelah itu semua ikhwan pergi dan duduk di dekat salah satu makam, lalu berpikir dan bertadabbur tentang apa yang terjadi disekitarnya. Selanjutnya, dengan khusyu’ masing-masing berdo’a dan bertaubat. Demikian keadaan masing-masing ikhwan sampai sekitar satu jam. Lalu mereka kembali berkumpul dalam keadaan diam, tanpa kata dan bercanda.

Ternyata rihlah ini memberikan pengaruh yang sangat luar biasa bagi para ikhwan. Rihlah ini mengingatkan mereka akan akhirat, mendorong mereka untuk bertaubat dan berinabah (kembali kepada Allah), serta mentarbiyah (mendidik diri) untuk zuhud terhadap dunia dan mengutamakan akhirat. Rihlah ini memperbarui iman mereka dengan sebenar-benarnya.

 5. Mengunjungi Orang-orang Shalih

            Salah satu faktor yang dapat memperbarui iman dan memiliki pengaruh besar dalam hal ini adalah mengunjungi orang-orang shalih, para mujahid dan orang-orang yang sudah lebih dulu aktif dalam amal Isalm. Jika perjumpaan dengan mereka sama saja bisa menjadi bekal di jalan iman, lalu bagaimana bermajelis bersama mereka?!, bersahabat dengan mereka?!, mendengarkan nasehat-nasehat mereka?!, belajar dari mereka?!, membaca sirah mereka yang harum semerbak dan sirah kawan-kawan mereka?!, para mujahid dan orang-orang shalih?!, bagaimana pula dengan kezuhudan mereka?!, kecintaan mereka kepada akhirat?!, kecintaan mereka kepada kematian di jalan Allah?!, dan pengorbanan mereka untuk dakwah?!, amar makruf dan jihad?!.

Kunjungan seperti ini ibaratnya menjadi charge bagi baterai iman seorang aktivis yang hampir habis. Umar bin Khattab Radhiyuullahu’anhu pernah berkata, “Jika bukan karena tiga perkara aku tidak senang menetap di dunia ini––kemudian beliau menyebutkan salah satu dari ketiganya––berkumpul dengan kaum yang memilih kalimat yang baik seperti kalian memilih korma yang baik.”

Kiranya perumpamaan terbaik adalah kepergiannya Musa menemui Khaidir dan belajar darinya, kandati musa memiliki kedudukan yang begitu tinggi, kandati ia afdlal dari pada Khaidir. Musa telah berkata: “Bolehkah aku ikut padamu, supaya kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”(Qs. Al-Kahfi [18] : 66)

Ada juga murid-murid Mu’adz bin Jabal, orang-orang yang sangat mencintainya, yang selalu berada di sekelilingnya, belajar darinya, mereka menangis sedih mengkhawatirkan perpisahan dengannya ketika Mu’adz sakit keras menjelang kematian. Yang demikian ini karena mereka merasa akan kehilangan sebuah majelis imani yang agung. Majelis dimana Mu’adz bin Jabal memperbarui iman mereka, mengajarkan hikmah, mengajarkan ilmu tantang Allah dan mengajarkan ilmu tentang perintah-Nya kepada mereka. Yazid bin Umairah mengisahkan, “Ketika Mu’adz bin Jabbal menderita sakit keras menjelang ajal, hal mana ia kadang pingsan cukup lama sampai kami mengira kematiannya telah tiba, aku menangis dihadapannya tatkala tiba-tiba ia tersadar. Ia bertanya, “Apanya yang membuatmu menangis?” Aku pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak menangis karena dunia yang aku dapatkan dari dirimu. Bukan pula karena kedudukannku di hadapanmu. Akan tetapi aku menangis karena akan hilangnya ilmu dan hikmah yang aku dengar darimu.” Mu’adz berkata lagi, “Jangan manangis sesungguhnya ilmu dan iman itu pada tempatnya; barangsiapa mencarinya akan mendapatkannya. Carilah sebagaimana Ibrahim mencarinya! Sesungguhnya ia telah memintanya kepada Allah, tanpa disadarinya.” kemudian Mu’adz membaca ayat

“Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku””[3] (Qs. Ash-Shaafaat [37] : 99)

Mungkin juga para aktivis menziarahi orang tua dari para syuhada, kerabat mereka dan sahabat karib mereka untuk mendengarkan kisah hidup mereka dan bagaimana mereka berinteraksi dengan Rabb mereka, manusia dan keluarga mereka.

Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab pernah mengunjungi Ummu Aiman, sang pengasuh Rasulullah, sebagiamana beliau pun pernah mengunjungi untuk mengingat hari-hari bersama Rasul. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, katanya, “Abu bakar (setelah Rasulullah wafat) berkata kepada Umar, ‘Mari kita mengunjungi Ummu Aiman sebagaiman Rasul telah mengunjunginya.’ Sesampainya disana Ummu Aiman menangis lalu keduanya bertanya, ‘Apa yang membuat anda menangis? Sesungguhnya yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, tetapi saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.’ Abu Bakar dan Umar tersentak oleh ucapan Ummu Aiman dan mereka pun menangis bersama-sama.”[4]

6. Mengingat Ayyamullah (Hari-hari Allah)

       Salah satu faktor pendorong untuk memperbarui iman adalah mengingat ayyamullah (hari-hari Allah). Allah telah memerintahkan Musa ‘Alaihissalam supaya mengingatkan Bani Israil tentang ayyamullah karena hal ini merupakan bagian yang sangat penting dari tugasnya. Allah berfirman:

“dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah” (Qs. Ibrahim [14] : 5)

Maknanya, “Ingatkanlah Bani Israil tentang hari ketika Allah menyelamatkan mereka dan menenggelamkan Fir’aun bersama pengikutnya! Ingatkanlah mereka tentang hari ketika Allah memenangkan wali-wali-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan membinasakan orang-orang kafir! Ingatkanlah mereka tentang tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak jelas pada hari itu, pada hari Allah memakaikan kemenangan dan kekuasaan atas bumi kepada wali-wali-Nya.”

Shiyam hari ‘Asyura disunnahkan dalam Islam merupakan salah satu sarana untuk mengingat hari yang agung itu, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan orang-orang yang beriman bersamanya, hari ketika Allah menenggelamkan Fir’aun dan orang-orang kafir yang bersamanya.

Sungguh, hari itu benar-benar ayyamullah. Karenanya setiap setahun sekali kita melaksanakan shiyam sebagai ungkapan syukur kepada Allah ‘azza wa jalla atas kemenangan besar itu. Dan pada hari itu, semstinya kita memperbanyak do’a kepada Allah untuk membinasakan Fir’aun masa Musa dan balatentaranya. Juga untuk kebinasaan Hamman dan pengikutnya, tenggelam di laut merah bersama tuan besar mereka, Fir’aun.

Pada hari seperti hari itu pula seharusnya kita memperbanyak do’a supaya Allah menolong kita dan menyelamatkan kita dari cengkraman tanagn Fir’aun masa kini dan sepaya menguasakan kita di muka bumi sebagaimana Allah telah menguasakan Musa dan orang-orang yang beriman bersamanya.

Seorang aktivis hendaknya mengingat ayyamullah pada waktu-waktu tertentu dan manghayati ‘ibrah, pelajaran dan kajian keimanan yang agung.

Seorang aktivis hendaknya mengingat-ingat hari furqan (hari-hari bertemunya dua pasukan) hari Fathu-Makkah (hari penaklukan kota mekkah), hari Bani Qunaiqa’, hari Bani Nadlir, hari Bani Quraizah, hari Bani Yamamah, hari Yarmuk, hari Qadisiyah, hari Nahawand, hari penaklukan Maroko, hari penaklukan Andalusia (Spanyol), dan wilayah utara Rusia, hari Hiththin, hari ‘Ainun Jalut, hari Konstantinopel, hari Zilaqah dan Araak. Ia juga tidak boleh melupakan hari ketika Allah menyelamatkan Nuh ‘Alaihissalam. dan orang-orang yang beriman bersamanya. Juga hari diselamatkannya Hud, Shalih, Luth, Syu’aib, beserta orang-orang yang beriman bersama mereka dan ditimpakannya azab dan siksa kepada orang-orang kafir dan kaum pembangkang.

Aktivis hendaknya juga mengingat hari di saat Ibrahim ‘Alaihissalam diselamtkan oleh Allah dari api dan Dia menjadikannya terasa dingan, sejuk baginya. Juga hari disaat Allah mengganti Ismail dengan binatang sembelihan yang gemuk. Semua hari tersebut adalah hari-hari Allah yang berhak dan harus di tadabburi (difikirkan). Berjilid-jilid buku tidak cukup akan untuk memuat pelajaran keimanan yang ada disana.

Dengan merenungkan ayyamullah ini, Allah akan meluapi hati orang yang merenunginya dengan unsur-unsur keimanan; yaqin, tawakkal, khusyu’, khudlu’, dan ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla.

Para aktivis hendaknya tidak membatasi hal mengingat ayyamullah ini pada semua yang telah kemi sebutkan di muka, yang disebutkan olleh Allah di dalam al-Qur’an serta termuat di dalam kitab-kitab hadits dan sirah (sejarah) saja. Hendaknya mereka juga mengingat ayyamullah yang baru saja terjadi ini lebih mendatangkan menfaat dan lebih menggugah! Alhamdulillah, mereka telah menuai kehinaan, merekalah yang telah menyiksa kaum muslimin dengan sangat kejam dan keji, khususnya di dalam penjara perang.

Saudaraku, coba bandingkan umur komunisme dengan umur Islam, yang para pengikutnya menanggung berbagai macam siksaan di seluruh penjuru dunia, meski telah berjalan lebih dari 14 abad, Islam tetap tegar dan menampakkan izzah (kemuliaannya).

Pikirkanlah wahai saudaraku, bagaimana berhala komunisme menemui kehancurannya, hanya karena kurang beresnya pemerintahan sebuah negara, selama beberapa hari saja (bukan karena tidak adanya pemerintahan)!!!

Sedangkan Islam, meskipun dunia bersepakat untuk memeranginya dan menghancurkannya, dari hari ke hari Islam akan bertambah kuat dan bertambah banyak pembelanya, sebab Islam adalah fitrah (naluri) Allah yang setiap manusia diciptakan atas fitrah itu, sebagimana firman Allah dalam al-Qur’an:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Ar-Ruum [30] : 30)

Saya memohon kepada Allah ‘azza wa jalla, semoga Allah membersihkan bumi ini dari para penyembah salib, yahudi, dan semua orang kafir dan musyrik. Semoga Allah menyucikan bumi ini dari semua berhala itu, lalu menebarkan sinar kebenaran dengan cahaya Islam. Aamiin…

Bagi Allah, semuanya ini tidaklah sulit!

Wallahu A’lam Bishhawaab

 

* * *

FOOT NOTE :

[1]  Diriwayatkan al-Bukhari 2/143, Muslim 7/120, Malik dalam al-Muwatha’ 1733, at-Tirmidzi 2391 dan Ahmad 2/493 dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allahdalam naungan-Nyapada hari tiada naungan selain naungan-Nya; Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam peribadatan kepada Rabbnya, laki-laki yang hatinya yang senantiasa berpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karenanya, laki-laki yang dirayu wanita yang punya kedudukan dan cantik lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”, laki-laki yang bersedekah secara sembunyi0sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendiriannya lalu air matanya mengalir.”

[2]  Muslim 7/46, an-Nasa’iy 4/9, Abu Dawud 3234, Ibnu Majah 1569, lafazh hadits ini adalah lafazh Ibnu Majah. Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/375 dari Abu Hurairah r.a.

[3]  Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 4/466 dan berkata, “Sahih sesuai dengan syarat Muslim , namun ia dan al_bukhari tidak meriwayatkan. “Diriwayatkan oleh Muslim 16/9.”

* * *

Oleh : Dr. Abdullah Azzam

“Nasehat-nasehat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Sallam – Penawar Lelah Pengemban Dakwah”

@jordibudiyono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s